Yang Tak Terlihat dari Penggusuran Tamansari

Suasana pengungsian warga RW 11 Tamansari yang digusur Pemkot Bandung. dok/MP

FEATURE, MP – Penggusuran paksa yang dilakukan aparat pada 38 KK RW 11 Tamansari, pada Kamis (12/12) silam, menimbulkan banyak dampak, baik secara fisik ataupun psikologis bagi para warga, termasuk anak-anak.

Penggusuran dilakukan. Pintu rumah digedor, aparat memerintahkan orang dalam rumah untuk membereskan barang hanya dalam waktu 5 menit. Perlawanan dilakukan oleh teman-teman aliansi dan warga dengan membentuk barikade. Ada yang memarahi dan meneriaki aparat, ada yang mencoba berdialog dengan aparat. Hasilnya nihil, penggusuran tetap dilakukan meskipun aparat tidak dapat menunjukkan surat penggusuran ataupun berita acara.

Pelemparan batu dilakukan, untuk menghadang orang-orang yang ingin merebut rumah mereka, yang kemudian dihentikan oleh teman mereka. Gas air mata ditembakkan, untuk “menjalankan tugas” mereka. Warga dan aliansi berlarian menyelamatkan diri, ada yang berlari tanpa arah, ada yang berlindung di Masjid, terutama perempuan dan anak. Anak-anak dan bayi menangis, mendengar suara tembakan. Ibu-ibu khawatir, kemana suami mereka.

Aparat menangkap beberapa orang, memukul dan menendang, mengutip kata salah satu warga RW 11 Tamansari sejak 1973, Ade Sumiarti, “udah lebih dari binatang,” ujarnya.

Dalam sekejap, bangunan-bangunan di Tamansari rata dengan tanah. Mereka tidak lagi memiliki rumah, barang-barang mereka sebagian diangkut ke Masjid, sebagian tidak tahu dimana. Bahkan, anak-anak tidak dapat bersekolah karena seragam beserta barang lainnya entah diangkut kemana.

15 KK kini mengungsi di Masjid Al-Islam. Mereka berkumpul, berbincang, dan tertawa bersama, tidak ingin terlihat lemah dan sedih satu sama lain. Mereka hidup dengan bala bantuan yang berdatangan dari masyarakat sekitar. Dilansir dari koran harian Tribun Jabar, pemerintah telah mengirimkan bantuan berupa karung beras, mi instan, kecap, saus, dan kue. Namun, hal tersebut ditampik oleh Ade.

Menurut Ade, bantuan yang mereka dapatkan murni bantuan dari masyarakat sekitar. Pemerintah tidak memberikan bantuan untuk mereka. Meskipun begitu, Walikota Bandung, Oded Muhammad Danial, kemarin telah berkunjung ke masjid dan berdialog dengan warga terkait kompensasi 26 juta dan kontrakan sementara. Namun, ada beberapa warga yang belum tahu tentang hal tersebut, seperti Ade.

Menurut Nok Kartika, warga RW 11 Tamansari sejak 1968, ia mengetahui soal kompensasi tersebut, tetapi memang belum diberitahu kepada yang lain dan belum adanya negosiasi yang berlangsung.

Soal pembangunan rumah deret, menurut Iis Erawati, mereka yang memilih bertahan dan melawan, tidak serta-merta memercayai Pemerintah Kota Bandung terkait proyek rumah deret. “Kita belum percaya, sampai saat ini belum percaya,” tegas Iis.

Warga RW 11 Tamansari merasa dibohongi sejak awal terkait proyek rumah deret tersebut. “Ternyata bukan rumah deret, tetapi rumah susun,” ujar Eva selaku Sekretaris RW 11 dalam konferensi pers yang berlangsung di Masjid Al-Islam pada bulan November 2017. Hal ini memicu penolakan dari warga.

Saat belum tercapainya kesepakatan konsep rumah deret dan nominal ganti rugi dari Pemkot, pada Desember 2017, tiba-tiba alat berat datang pukul 2 pagi. Kala itu, alat berat berhasil merubuhkan sekitar 64 rumah.

Menurut Ade, Nok, dan Iis, pemerintah juga berjanji bahwa rumah deret yang dibangun adalah untuk menjamin hidup warga dengan hunian yang rapi dan tertata. Pemerintah juga mengatakan bahwa warga dapat menempati rumah deret secara gratis selama 5 tahun awal.

Beberapa tidak percaya, beberapa percaya. Warga yang percaya akhirnya menyetujui dan menuruti keinginan pemerintah, merelakan rumah mereka, dan pindah ke Rusunawa (rumah susun sewa) di Rancacili.

Dalam salah satu artikel majalah Media Parahyangan edisi VI tahun 2019, menurut Ajo, salah satu warga, lingkungan di Tamansari jauh lebih baik daripada di Rusunawa. Hal ini dikarenakan Rusunawa berada di tengah sawah dan tidak ada bangunan lain yang berdiri. Rusunawa jauh dari akses jalan, pasar, dan sekolah. Bagi orang yang tidak memiliki kendaraan, tentu merepotkan.

Selain itu, menurut Iis dan Ade, janji pemerintah tentang penempatan rumah deret gratis selama 5 tahun tidak tertulis dalam kertas. Tidak ada kepastian hitam putih. Karena itu, mereka memilih bertahan.

“Bukan apa-apa, tapi kita harus sewa seumur hidup. Terus kalau kita meninggal, boro-boro ngewarisin harta, malah warisin utang ke anak cucu,” ujar Ade.

Menurut Riefki Zulfikar, kuasa hukum warga RW 11 Tamansari dari LBH Bandung, Pemkot Bandung seharusnya tidak menyewakan tanah kepada warga karena akan menarik keuntungan dari warga. Secara hukum, penyewaan tanah dilarang untuk pemerintah. Lahan seharusnya diperuntukan untuk kepentingan pemerintahan, bukan komersil, bukan meraup keuntungan dari rakyat kecil.

Tamansari bukan sekadar rumah bagi mereka. Tamansari adalah mata pencaharian. Banyak warga RW 11 Tamansari yang menyambung hidup dengan berjualan di rumah, di warung, atau membuka indekos. Apabila mereka pindah ke Rancacili, apa yang akan mereka lakukan untuk mencari sesuap nasi?

Warga sadar bahwa proyek rumah deret adalah program revitalisasi pemerintah, program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh). Demi membuktikan bahwa Tamansari mampu menjadi tidak kumuh tanpa rumah deret, Tamansari disulap. Ia bukan lagi sekadar tempat tinggal dan mata pencaharian, ia adalah ruang komunal. Bersama teman-teman aktivis dan aliansi, mereka mengadakan festival, pameran foto, hingga screening film dan diskusi. Menjadikan Tamansari sebagai “rumah” milik bersama.

Namun, proyek tetap berjalan. Meskipun BPN telah menyatakan bahwa lahan Tamansari adalah lahan bebas negara, status quo, Pemkot tetap menjalankan proyek dan penggusurannya, tanpa persetujuan seluruh warga RW 11 Tamansari, tanpa memedulikan proses persidangan yang sedang berlangsung.

Hingga saat ini, warga RW 11 Tamansari yang digusur masih ingin berusaha. “Kita masih berusaha, masa sih kayak gini terus. Lagian masih nunggu putusan PTUN tanggal 19,” ujar Ade.

Ketika ditanyai oleh teman volunteer mengenai kebutuhan mereka, Ade, Iis, dan Nok kompak menjawab, “yang kurang, rumah atuh tempat tinggal! Banyak makanan juga ngga enak, rumah ngga ada,” kata mereka sambil tertawa.

Mereka bahkan menawarkan kepada beberapa yang mengunjungi mereka, minuman gelas dan nasi kotak. Senyuman dan canda masih dilontarkan, sebagai penguat kepada satu sama lain agar tidak menyerah dengan keadaan, karena perlawanan harus terus dilakukan.

 

Brenda Cynthia

Related posts

*

*

Top