Wawancara Bersama .Feast: Fanatisme Tidak Akan Pernah Hilang

Penampilan .Feast saat acara Makelu 2019 yang diadakan pada Sabtu (04/05). dok/MP

WAWANCARA MP, UNPAR – .Feast adalah grup musik rock yang terdiri dari Baskara Putra, Dicky Renanda, F. Fikriawan, Adnan S P, dan Adrianus Aristo Haryo. Pada tahun 2018, Feast merilis album bertajuk “Beberapa Orang Memaafkan”. Album ini terinspirasi dari salah satu artikel mengenai peristiwa bom di Surabaya yang berjudul “Keluarga Korban Sudah Memaafkan Para Teroris”.

Pada Sabtu (4/5) lalu, MP berkesempatan untuk mewawancarai .Feast sebelum tampil pada acara Makelu (Malam Keluarga Unpar) 2019. Pada wawancara ini, .Feast mengungkapkan pandangan mereka mengenai simbolisasi agama sampai dengan kelompok ekstrimis.

 

Mengapa .Feast mempresentasikan albumnya dalam visualisasi agama seperti yang dapat dilihat dari cover dan lirik lagu?

Baskara (B): Kalau dilihat dari konteks dalam album ini, emang ngomongin tragedi. Banyak yang bertanya, seperti kenapa memakai Rosario dan patung Bunda Maria. Ya menurut gua simple aja, coba lihat beberapa tahun ke belakang ada kejadian-kejadian yang tak mengenakkan, yang jadi korbannya orang itu-itu aja.

Karna datang dari lingkungan Katolik, gua merasa hal itu tidak adil. Soal simbolisasi kekatolikan atau kekristenan di .Feast, gua tidak merasa itu problematic karena gua merupakan bagian dari kelompok tersebut. Selain itu, banyak juga di .Feast yang juga merupakan bagian dari kelompok itu. Untuk teman-teman .Feast yang muslim, mereka lebih moderat menurut gua.

Untuk masalah orang yang tersinggung, menurut gua itu udah jadi seperti indikator keadaan yang sekarang sedang terjadi.

Awan (F): Bisa dibilang seperti liberal juga. Sebagai umat muslim yang disebut mayoritas, gua merasa banyak yang menjadi minoritas di mayoritas yang memang bersuara. Misalnya, seperti gua dan Adnan yang memang santai. Jadi jika keputusan Baskara sebagai penanggung jawab visualisasi ingin menggunakan simbol-simbol agama juga gak masalah. Karena hal itu memang sebelumnya udah diomongin bersama. Kita juga gak pernah berpikir untuk seolah-olah menjadi pahlawannya minoritas karena kita hanya mengangkat sesuai apa yang telah kejadian.

 

Dalam proses pembuatan album, apa kalian pernah takut? Dan bagaimana sampai akhirnya kalian tetap merilis album itu?

B: Saat gua punya ide untuk konsep, sebelumnya gua akan tanya ke yang lain dulu. Jadi, mereka juga ngasih tanggapan dari sudut pandang mereka. Tapi secara pribadi, jujur aja emang pernah ngerasa takut.

Dicky (D): Ada di beberapa stage, saat kita ingin memainkan “Padi Milik Rakyat” tapi gajadi karena ada alasan tertentu.

F: Jujur aja, takut sih, tapi gua percaya zaman sekarang itu udah ga se-parah zaman dulu yang emang semuanya dikontrol. Saat RUU Permusikan kemarin, konten dan segalanya itu akan diatur dan kita merasa peraturan itu akan membawa kita seperti zaman dulu.

B: Pada akhirnya yang bisa gua bilang adalah kalau lo yakin dengan apa yang lo jalanin itu benar dan tujuannya emang baik, gausah takut. Keadaan paling buruk buat gua adalah ketika orang yang sebenarnya benar, tapi takut untuk melakukan hal itu.

 

Apakah pernah ketakutan-ketakutan itu terjadi di lapangan?

B: So far, belum ada. Cuma emang terkadang dari kita sendiri yang suka ketakutan. Kayak misalnya, ada orang yang jam 7 malam masih nongkrong di depan studio. Kita semua langsung berpikir hal-hal yang buat kita parno.

Reporter Media Parahyangan ketika mewawancarai personel .Feast. dok/MP.

Bagaimana pandangan kalian mengenai ekstrimis dalam agama?

Adnan (A): Jujur aja, gua paling kesal sama orang-orang yang kayak gitu. Coba kita lihat dari film “Hotel Mumbai”. Secara keseluruhan film itu menceritakan tentang kelompok ekstrim yang mengorbankan orang-orang yang innocent hanya demi pandangan mereka yang sangat ekstrim.

B: Mau di Amerika, India, bahkan Indonesia sekalipun isu yang ada bukan hanya isu agama aja. Ada juga ideologi-ideologi yang ditanamkan di pikiran, kayak tidak apa kalau kita miskin di status ekonomi, tapi yang penting upah kita (red. upah di surga) akan besar.

D: Jadi emang yang dilihat itu bukan agamanya tetapi fanatismenya. Misalnya aja seperti bola, ada yang rela mati demi itu. Menurut gua, orang-orang itu hanya akan menjadi alat-alat kepentingan orang atas

A: Sekiranya dalam segala hal, memang harus secukupnya aja.

F: Ketika kita berhubungan dengan Sang Pencipta, harus diingat juga bahwa kita harus berhubungan baik dengan sesama manusia.

 

Apa kalian percaya bahwa isu-isu tersebut akan berkurang di Indonesia?

B:  Coba dikutip dari lirik “Peradaban” yang “karena peradaban takkan pernah mati walau diledakkan, diancam tuk diobati”. Fanatisme itu ga akan pernah hilang, walau 100 tahun kemudian, karena akan diganti dengan fanatisme lainnya.

F: Menurut gua, penyelamat Indonesia untuk saat ini adalah meme. Ketika ada kejadian terror, dulunya kita akan ketakutan. Tapi kalau dilihat sekarang, belum ada sehari kejadian itu terjadi, udah dijadikan komedi. Hal itu membuat ketakutan-ketakutan masyarakat jadi hilang.

B: Jujur aja, gua sangat bersyukur dengan anak-anak seumuran kita atau bahkan lebih kecil udah ga se-gampang itu disuapin hal-hal yang ga baik. Buat gua pribadi, ketika lo dan teman lo yang berbeda keyakinan bercanda mengenai keyakinan masing-masing dan kalian tertawa, artinya kalian merayakan toleransi beragama.

A: Gua cukup prihatin dengan orang yang ingin melakukan sesuatu, tetapi terhalang karena memiliki keluarga yang fanatik, kayak bom Surabaya deh, anak-anak yang masih kecil harus ikut-ikutan bunuh diri gitu. Menurut gua ironis banget sih.

 

Apa makna dari visualisasi album itu sendiri?

B: Cover album itu diambil dari referensi lukisan “The Last Supper” karya Leonardo da Vinci. Alasan mengapa gua dan fotografer kami, Mikael Aldo menggunakan itu (red. referensi lukisan) karena kami ingin foto itu sebagai simbol seluruh ketakutan masyarakat Indonesia. Jika diperhatikan, di fotonya itu ada kaki Bodat yang diangkat, Dicky yang pegang arit, lalu ada alkohol juga. Jadi, emang sebenarnya itu merupakan pesan tersembunyi karena karya mempunyai nyawa jika terdapat pesan di dalam itu.

 

Apakah sejauh ini pesan dalam album ini sudah tersampaikan?

B: Untuk pendengar yang emang udah lama dengerin .Feast, pastinya udah ngerti. Tetapi untuk pendengar baru yang mendengar 1 atau 2 lagu, mungkin belum. Cuma emang gua gak expect semuanya mengerti karya kita. Karena menurut gua, di saat lo menjelaskan karya lo tanpa ditanya, itu udah mematikan makna karya itu sendiri.

 

Novita || Eriana Marta Erige || Ranessa Nainggolan|| Brenda  Cynthia

Related posts

*

*

Top