Wawancara Malik-Ruth: Kebersamaan Jadi Elemen Utama BEM Unpar

Pasangan calon Ketua-Wakil Ketua BEM Unpar, Hakkinen Malik dan Ruth Evelyne. dok/MP

Jumat (15/11), Media Parahyangan berkesempatan mewawancarai Hakkinen Malik (Teknik Industri 2017) dan Ruth Evelyne (Teknik Sipil 2017), calon tunggal Ketua dan Wakil Ketua BEM 2020. Mengusung tagline UnparBersama, Malik dan Ruth menjadi pasangan calon Ketua dan Wakil Ketua BEM pertama di Unpar setelah berlakunya PROK 2018. Berikut hasil wawancara bersama pasangan calon Ketua dan Wakil Ketua BEM 2020. 

MP: Apa yang dimaksud dari tagline UnparBersama?

Malik: Karena PM Unpar sudah sejajar dalam kewenangan dan representasi, kita melihat kalau kita bergerak sendiri kita tidak dapat mewakili banyak hal. Oleh sebab itu kita ingin mengedepankan kata “kebersamaan” sendiri, dan divisi kita juga bersinergi, kita ingin gerak bersama, melibatkan banyak hal untuk menjadi representasi untuk masyarakat kita dan masyarakat luar.

MP: Apa yang dimaksud akomodatif dalam visi kalian?

Ruth: Pertama, kita adalah representasi Unpar di luar, menyelenggarakan kegiatan untuk kebutuhan mahasiswa dan bukan karena kemauan kita. Untuk itu kita melakukan riset awal tahun, tengah periode, dan akhir tahun. Kita akan mengkaji kembali untuk mengetahui kebutuhan mahasiswa, supaya apa yang kita lakukan tepat guna untuk mahasiswa.

MP: Bagaimana pendapat kalian tentang LKM periode 2019?

Malik: Untuk evaluasi, kita juga merupakan staff LKM periode sebelumnya, untuk Go Public (GP) ada perbedaan dari segi waktu yang sebenarnya bisa lebih efisien. Dari segi program kerja juga tidak terlalu banyak karena kita kurang ikut terjun langsung, itu karena setelah satu setengah bulan kita sudah demisioner. Dan LKM sekarang sudah ada beberapa pengembangan dari sisi tata kelola, dan sudah ada guideline, ada bina LKM. Selain itu program kerja emang gak terlalu banyak di semester ini, tetapi fungsional aja mungkin karena keterbatasan waktu, dan dari segi tata kelola organisasi secara internal mungkin ada perbedaan kemarin itu saat kita jadi staff  (LKM 2017/2018) ada riset yang melibatkan mahasiswa baru, dan kalau sekarang sepertinya tidak ada. Tapi kita tidak terlalu tahu apakah ada riset yang terbuka untuk mahasiswa baru.

Ruth: Sistem GP-nya juga ada parameter kenapa kita bisa lulus GP. 

MP: Perubahan apa yang kalian bawa untuk periode kalian?

Malik: Dari segi struktur sudah ganti, dari dirjen ke bidang dan departemen, lalu ada biro baru yaitu biro riset dan data. Kalau kemarin mungkin ada litbang (penelitiaan dan pengembangan), kalau sekarang kita menempatkan penelitian di atas karena semua yang dilakukan harus berdasarkan data dan fakta.

MP: Pendapat kalian soal PROK 2018?

Ruth: Dari segi birokrasi akan lebih efisien, tetapi untuk pengaplikasiannya belum tahu. Kalau dulu, proposal harus ke LKM dulu, direvisi, nanti masuk kembali ke LKM, dan itu memakan waktu. Kalau sekarang, dari segi birokrasi untuk HMPS dan UKM untuk memberikan proposal langsung ke WD dan BKA, hal itu diharapkan dapat mempersingkat waktu, dan mereka secara mandiri mengurus itu.

Kalau untuk relasi, karena sejajar, kami mengupayakan agar komunikasi antar lembaga PM Unpar tidak putus. Dengan adanya Departemen Relasi dan Organisasi hubungan komunikasi dapat terjaga.

Malik: Untuk tambahan, seharusnya kita bisa berkolaborasi lebih di antara setiap lembaganya, dimana kalau dulu kesannya LKM tidak menaungi dan membawahi, kalau sekarang bersifat sejajar, kita bersama-sama meningkatkan kualitas PM Unpar.

MP: Apa perbedaan LKM dan BEM secara spesifik?

Malik: Pertama, adalah struktur dan itu sudah jelas, oleh LKM punya tanggung jawab untuk menaungi UKM, tapi masih ada kewenangan spesial yaitu mengkoordinasikan, kalau dulu fokus menaungi, bertanggung jawab atas HMPS dan UKM, kalau sekarang fokus untuk berkolaborasi. 

Salah satu kewenangan kita adalah representasi, bagaimana kita bisa mewakili Unpar ke luar, baik ke dalam juga dapat mewakili mahasiswa. Dan perbedaan lainnya dari segi birokrasi serta orientasi. 

MP: Selama ini LKM cenderung dinilai sebagai event organizer (EO). Menurut kalian, bagaimana BEM akan bekerja sehingga tradisi LKM itu tidak berlanjut ke BEM?

Malik: Salah satu strateginya adalah dengan menggabungkan relasi organisasi, kajian dan aksi strategis, dan juga kesejahteraan mahasiswa dalam bidang yang sama. Harapannya kami dapat meningkatkan kepekaan, wawasan dari mahasiswa untuk isu nasional atau dalam kampus. Kita juga berusaha agar kajian dan aksi strategis serta memperjuangkan kesejahteraan mahasiswa tapi dengan koordinasi yang efektif dengan seluruh elemen. Tapi terkait bidang EO sebenarnya kita harus kaji dulu, apa yang salah dengan EO, apakah orientasi hasil atau bagaimana? Karena kami rasa selama di LKM memang sebagai EO, tapi orientasi kami bukan hasil, tapi proses.

Dari situ tidak bisa dipungkiri, setelah kami berdua ngobrol bareng, banyak sekali dari aspirasi dari teman-teman mahasiswa yang ingin sekali ada wadah pengembangan, belajar, manajemen organisasi, manajemen personal, relasi, dan sebagainya. Memang program kerja adalah salah satu upaya untuk memberikan wadah masyarakat dalam mengembangkan hal itu. Karena kami dari LKM kami belajar untuk bagaimana berorganisasi, berbicara, berpendapat, dan berdiskusi, jadi di satu sisi kami tidak mengecualikan isu nasional. Makanya kami ada strategi, dan kami ingin mengakomodir sesuai visi kami akomodatif, terkait mahasiswa mengembangkan diri dalam bidang relasi. 

MP: Pentingkah BEM Unpar untuk menjalin relasi dengan eksternal?

Ruth: Karena kami BEM pertama di Unpar, kami pun mesti belajar dari BEM yang sudah ada sejak lama, dan banyak universitas yang menerapkan sistem BEM ini. Karena itu kami rasa perlu ada relasi, tetapi relasi seperti apa, itu tergantung nanti, bersama dengan kabinet juga.

Malik: Dalam PROK 2018 ada kejanggalan dalam peraturan, masih ada larangan berafiliasi dengan organisasi eksternal kampus dan sebagainya. Dan mungkin itu akan menjadi PR kita semua, untuk memobilisasi teman-teman mahasiswa untuk memberikan pandangannya. Untuk menjalankan relasi yang baik dan mengevaluasi yang salah, dan dampaknya terhadap luar.

MP: Di Departemen Lingkungan Hidup hanya ada satu program kerja, kenapa tidak digabungkan saja ke Pengabdian Masyarakat atau badan lainnya?

Ruth: Urgensinya jadi satu proker dan departemen itu, belajar dari pengalaman saat aku di Dirjen Pengmas, saat itu fokusnya terpecah antara masyarakat lingkungan, seperti TOSAYA yang lebih ke masyarakat, dan hari bumi yang dianggap sebagai proker fungsional. 

Dan kami merasa ada sesuatu yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan awareness mahasiswa dalam lingkungan, untuk meningkatkan kegiatan mahasiswa yang berbasis pada lingkungan. Takutnya nanti kalau di BEM departemen ini disatukan dengan departemen lain, fokusnya nanti tidak maksimal.

MP: Ada 5 pilar demokrasi (eksekutif, legislatif, yudikatif, media, dan masyarakat madani). Menurut kalian, bagaimana prosesnya di Unpar?

Malik: Lima pilar ada untuk menjunjung demokrasi, kita sebagai lembaga menjunjung tinggi dan mengkolaborasi untuk meningkatkan demokrasi kampus, kami pun ingin meningkatkan partisipasi publik, bisa mempertanggung jawabkan apa yang kami lakukan. Itu peran kita bersama, kita tidak ingin secara parsial bergerak, kami ingin mengedepankan kebersamaan sehingga kualitas kami meningkat dan dapat dipercaya dengan tinggi. 

MP: Menurut kalian, Bagaimana peran 5 pilar tersebut di Unpar?

Malik: Ada isu yang diangkat oleh pers, mulai peka terhadap permasalahan di kampus. Dan peran dari trias politika bisa berperan lebih terhadap demokrasi, tidak hanya dari ranah organisasi kemahasiswaan, tetapi dari segi pengelolaan universitas, dan kita masih bisa menjunjung demokrasi yang mungkin bisa dilakukan universitas juga sehingga kita sebagai mahasiswa bisa bertanggung jawab dan memperjuangkan hal tersebut.

MP: Bagaimana BEM di periode kalian akan menanggapi isu nasional?

Ruth: Untuk sekarang tentu kami belum bisa menetapkan aksi seperti apa yang kita lakukan saat ada isu-isu nasional, kenapa? Karena kami bergerak sebagai satu PM Unpar, dimana kami memiliki tiga departemen dalam satu bidang. Kami mengedepankan gerakan bersama, yang merupakan kesepakatan dari PM Unpar.

Malik: Terkait demonstrasi juga, kami akan mengevaluasi terlebih dahulu, lebih tanggap, lebih peka terhadap kegiatan di luar. Misalnya kegiatan seperti apa yang bisa dilakukan sebelum terjun di jalan, jangan sebagai lembaga langsung terjun ke jalan tanpa melakukan upaya sebelumnya seperti mengkaji isu-isu yang ada. Kepekaan dan pengkajian adalah hal yang terlebih dahulu untuk dilakukan, jika tidak ada cara lain, maka kita harus turun.

 

Novita, Ricky Rialdi || Brenda Cynthia

*

*

Top