Wawancara Hockey Hook: Suarakan Kritik Sosial Melalui Musik Ska

Personil Band Hockey Hook. dok/ Booze Magazine.

WAWANCARA MP, UNPAR Sejak berdiri di tahun 2010, Hockey Hook yang terdiri dari Ongki (Gitar/Vokal), Eki (Perkusi), Ojan (Bass), Ibeng (Terompet) dan Tibon (trombon), konsisten dalam menuliskan lagu-lagu mengenai keresahan sosial yang mereka alami. Lingkungan, manipulasi media, kebersamaan, pertemanan, perjuangan hidup, undang-undang yang dikeluarkan tanpa partisipasi publik menjadi konten-konten yang ada dalam album Randomness ataupun rilisan kompilasi. Kritik sosial ini tercermin dalam lagu-lagu mereka seperti ‘Fuck, No, We Wont Listen’, ‘Serentek Keluhan Lantang’ yang memuat lirik mengenai skeptisitas dan perubahan sosial, serta musik video ‘Layar Nista’ yang memperlihatkan calon presiden fiksi sedang berpidato dihadapan massa pendukungnya.

Band yang dimulai pada masa SMA sebagai cover band Rancid dan Bad Religion juga berhasil membawa pengaruh-pengaruh kedua band tersebut kedalam materi di rilisannya. Ini memberikan warna baru pada permusikan Indonesia terutama melalui aliran Ska, yang cukup asing di telinga masyarakat Indonesia. Pada pagelaran Sorge Gigs (2/3) Maret lalu, Media Parahyangan berkesempatan untuk mewawancarai Hockey Hook untuk mengeksplorasi awal mula pembentukan band, pengaruh, serta konten-konten yang ada pada lagu mereka.

 

Bagaimana awal pembentukan Hockey Hook?

Ongki (O): Dimulai di tahun 2010 saat SMA, karena sama-sama suka musiknya Rancid dan Bad Religion. Lagu-lagu mereka enak untuk sing along, materinya sederhana. Misalnya Rancid ada lagu seperti Time Bomb atau Fall Back Down yang album …And Come out The Wolves yang mudah diingat dan enak untuk didengar.

Bagaimana cara memasukan elemen kedua band tersebut kedalam musik Hockey Hook?

O: Sebetulnya tidak ada niat untuk membuat musik yang sama seperti kedua band tersebut. Justru awalnya maunya tidak mirip dengan Rancid. Tapi disini kita bawain Ska tahun 1990an dari Amerika seperti Operation Ivy dengan membawa chord yang lebih ceria. Seperti pop-punk, tetapi ska. Nah, untuk Rancid chord minor nya lebih enak dibawain dalam musik Ska. Selain Rancid ada juga The Mighty Mighty Bosstones.

Bagaimana kalau Bad Religion?

O: Kalau Bad Religion lebih ke lirik dan nada nyanyi. Dulu sempat diwawancara dan pernah ada yang bilang kita ini band politik. Sebetulnya bukan. Tema-tema kita adalah kebersamaan. Walaupun kadang-kadang bikin lagu tentang politik juga.

Apa saja konten-konten yang ada pada lagu Hockey Hook?

O: Kebersamaan, keresahan, pertemanan, mabuk-mabukan. Lebih tepat kalau kita disebut sebagai band kritik sosial dibanding band politik.

Apa yang menjadi kritik sosial dalam video klip ‘Layar Nista’?

O: Kita coba mengkritik televisi. Saat ini banyak program televisi, misalnya sinetron yang tayangnya tidak selesai-selesai. Lalu ada framing berita, acara lawak, acara musik pagi-pagi, reality show yang dibuat-buat dan mentingin rating  dibanding kualitas. Sempat ikut salah satu seminar tentang pertelevisian, dan ada yang bertanya manakah yang diprioritaskan stasiun televisi: konten atau rating? Dan diakui pada salah satu stasiun televisi bahwa rating menjadi prioritas yang lebih utama.

Kenapa membawa unsur kampanye pada video klip tersebut?

O: Tentunya karena ini lagi panas masa kampanye dan tidak bisa dipungkiri juga bahwa kampanye ada di media. Salah satu yang kami ambil adalah televisi. (red. Dalam video klip ini) si calon berusaha mengambil massa anak-anak melalui musik.

Apa yang bisa dikaitkan dari video klip tersebut dengan realita saat ini?

O: Waktu itu pernah-kan presiden kita mencoba mengambil massa anak-anak metal. Seolah-olah dia tau,  dia mengerti, dan mendengarkan musik metal. Tetapi dibalik itu ada kepentingan politik. Dibuktikan juga tiap dia wawancara urutan band akan selalu sama.

Untuk lagu ‘Fuck, No, We Wont Listen” apa yang coba Hockey Hook suarakan?

O: Tidak mau mudah percaya dengan apa yang di umbar oleh seseorang. Dikaitkan lagi dengan televisi, biasanya mereka mengumbar janji lewat acara debat ataupun berita.

Bagaimana dengan lagu “Serentak Keluhan Lantang”?

O:  lagu ini ini lebih ke keresahan Lingkungan. Kita disini pandangannya bukan anti ke pemerintah, tetapi ke masyarakat itu sendiri. Mereka selalu mengeluhkan banjir. tapi juga mengeluhkan pemerintah kenapa tidak ada penanggulangannya. sedangkan mereka sendiri juga yang buang sampah sembarangan. Jadi kita selain kritik pemerintah, juga kritik masyarakat.

Mengapa Hockey Hook menggunakan lirik yang cenderung multitafsir dan sulit dimengerti untuk menyuarakan keresahannya?

O: Ingin tahu pemahaman orang bagaimana, “suatu geladak sempit tak berguna” itu sebenarnya adalah simbol,  Cuma jika dipakai kata-kata sederhana kurang bagus. Itu maksudnya tempat sampah yang ada di pinggir jalan tapi tidak berguna, orang masih buang sampah sembarang. Halte-halte juga banyak yang terbengkalai, tidak ada  ada yang menggunakan.

Apa saja keresahan yang belum sempat disuarakan?

O: Masih banyak. Spanduk kampanye, apalagi sekarang mulai muncul peraturan-peraturan aneh seperti pelarangan musik di radio, rancangan undang-undang, jurnalis yang dipukulin. Masalah tidak akan selesai, baguslah jadi kita ada materi. Dimana ada punk rock, berarti pemerintahnya tidak  bagus.

Bagaimana Hockey Hook di album selanjutnya?

O: Lagu yang bersifat keresahan akan hanya ada dua lagu. Sisanya mengenai perjuangan hidup, mabuk-mabukan, dan pencarian jati diri. Nanti keluarnya EP jadi lagunya akan dikit juga. Single kami nanti ‘Akhir Cerita’ akan menceritakan orang-orang punya cara untuk selebrasi masing-masing. Ada teman saya yang putus cinta dan lulus kuliah untuk selebrasinya mereka minum alkohol dan juga ada cara-cara lainnya.

 

Miftahul Choir

*

*

Top