Wawancara Giandi Kartasasmita: Tidak ada Yang Bagus dari Harga Minyak Minus

harga minyak minus

WAWANCARA – MP Pertengahan April lalu, dunia dihebohkan dengan harga minyak yang menurun drastis hingga berada di angka nol dolar AS per barelnya. Di pasar West Texas Intermediate (WTI), harga minyak mentah anjlok hingga 321% menjadi minus US$ 40.32 per barelnya. Anjoknya harga minyak dunia ini tentunya memiliki dampak luas secara global, terutama bagi negara-negara produsen besar minyak dunia. Minyak sendiri memiliki peranan yang besar terhadap kestabilan ekonomi dan politik global. Untuk itu, reporter Media Parahyangan mewawancarai dosen Hubungan Internasional untuk mata kuliah Ekonomi Politik Sumber Daya, Giandi Kartasasmita untuk dimintai pendapat terkait minusnya harga minyak dunia.

MP: Harga minyak dunia beberapa waktu yang lalu menyentuh angka negatif. Apa maksud dari “harga minus” ini?

Giandi Kartasasmita (GK): Harga minus di pasar West Texas Intermediate (WTI), yaitu pasar oil futures yang dipergunakan secara umum di Amerika Serikat. Maksudnya dalam pasar oil futures adalah minyak disepakati dibeli hari ini ini untuk pengiriman pada bulan berikutnya atau dalam waktu yang disepakati penjual dan pembeli. Yang menjadi masalah adalah futures oil WTI pada bulan April untuk pengiriman Mei, tidak ada pembeli yang mau membelinya dikarenakan demand dunia berkurang karena beberapa hal.

Di sisi lain supply juga besar, karena terdapat perang dagang minyak antara Arab Saudi dengan Rusia. Jadi supply minyak dunia dari negara non-OPEC itu besar karena penemuan teknologi shale oil, terutama di Amerika Serikat. Nah, untuk meredam dampak kelebihan minyak akibat shale oil AS. OPEC+Rusia merundingkan penurunan produksi. Arab Saudi menginginkan penurunan produksi yang besar supaya supply terjaga dan harga minyak stabil. Namun Rusia menolak  karena menganggap kebijakan ini terlalu mengakomodir kepentingan Amerika Serikat. Akhirnya terjadi perang dagang minyak antara Arab Saudi dan Rusia melalui jor-joran produksi yang berakibat oversupply minyak di pasar global.

Kenapa harganya bisa minus? Karena (terjadi) oversupply dan minim demand, terdapat sisa minyak yang besar. Yang jadi masalah (adalah) kemampuan penampungan untuk minyak di seluruh dunia terbatas. Alternatifnya, sewa tanker buat menyimpan minyak. Namun karena semua (negara) melakukan hal yang sama, terjadi kekurangan tanker sehingga sewa tanker naik dari sekitar 20 ribu dolar per hari menjadi 200 ribu dolar per hari. Makanya, perusahaan minyak di  AS “membayar” pihak lain agar mau mengambil minyaknya. Karena itu harganya jadi negatif.

MP: Apakah ada hubungannya dengan menurunnya kondisi ekonomi disebabkan oleh pandemi global saat ini?

GK: Ada. Pertama karena Covid-19, industri di seluruh dunia terutama di Tiongkok terhenti. Kedua, karena Covid-19 juga, jumlah penerbangan di hampir seluruh dunia berkurang drastis. Kemudian ada hal-hal lain yang tidak termasuk kedua faktor di atas yang menyebabkan permintaan akan minyak dunia turun. Secara total terdapat penurunan demand minyak sebanyak 20-33 persen selama pandemi.

MP: Apa dampak bagi harga ini bagi negara-negara di dunia? Siapa yang diuntungkan dan dirugikan di sini?

GK: Nothing good. Negara negara produksi minyak yang bergantung pada minyak ya deg degan. Misalnya saja perusahaan perusahaan minyak di AS tidak bisa menghentikan produksi. Karena biaya untuk menghentikan produksi lebih besar dari menjalankan produksi meskipun dalam keadaan merugi. Misalnya biaya restarting pabrik, biaya pesangon PHK, dan lain lain. Negara konsumen minyak gimana? Di satu sisi ya harga murah. Tapi kalau tidak punya kilang penyimpanan ya sama saja, tidak bisa beli banyak.

MP: Bagaimana dengan negara-negara dengan sumber pendapatan yang lumayan besar dari sektor migas, seperti negara-negara Teluk?

GK: (Misalnya saja) Irak sudah di ambang kolaps karena sebagian besar perekonomian bergantung pada sektor minyak. Dampak sosialnya juga ada. Misal PHK massal yang berakibat guncangan sosial.

MP: Lantas kapan krisis harga ini akan berakhir?

GK: Nah yang negatif itu hanya WTI April untuk pengiriman Mei. Setelahnya (harga) kembali plus untuk pengiriman Juni. Artinya apa? Artinya mulai ada kepercayaan bahwa Juni akan ada peningkatan demand. Mungkin karena beberapa negara sudah mulai mencabut lockdown dan restarting ekonomi dengan memulai kembali industri. Tapi kalau Covid-19 ada second wave dan berkepanjangan ya (akan ada) lain cerita.

MP: Apa dampaknya terhadap perekonomian Indonesia?

GK: Dampaknya besar ke industri minyak hulu (upstream oil industries) yang merupakan sumber pendanaan negara. Bila merujuk ke artikel Norman Harsono di Jakarta Post tanggal 30 April 2020, Pertamina diproyeksikan mengalami penurunan keuntungan sebanyak 59 persen dalam situasi yang terburuk, situasi ini memaksa SKK Migas sebagai regulator usaha hulu minyak dan gas, menurunkan target produksi minyak.

Penurunan keuntungan Pertamina sebagai sumber keuangan negara dari Migas tentu berdampak langsung ke Pendapatan negara. Namun disisi lain pemerintah mendapatkan keuntungan dari rendahnya harga minyak. Dengan harga yang lebih rendah, jumlah uang dolar yang dibelanjakan pemerintah untuk membeli kurang lebih 700.000 hingga 800.000 barel minyak perhari menjadi lebih kecil sehingga mengurangi deficit neraca berjalan pemerintah.

MP: Mengapa pemerintah tidak menyesuaikan harga bahan bakar dengan harga minyak global ini?

GK: Ada beberapa penyebab, pertama dalam situasi Covid-19, konsumsi minyak di Indonesia menurun drastis, selama bulan Maret ke April permintaan bensin turun 16.8 persen dan permintaan solar turun 8.4 persen. Dilihat melalui kacamata kepentingan bisnis Pertamina, sulit untuk menurunkan harga bila permintaan minyak masyarakat juga turun, artinya perusahaan akan merugi.

Kedua, pemerintah telah menerapkan batas atas harga penjualan yang rendah pada awal tahun 2020, dan pemerintah masih menerapkan subsidi minyak untuk golongan ekonomi lemah. Ketiga, kemampuan penyimpanan strategis minyak Indonesia atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) baru pada tahap 3-5 hari, jadi meskipun harga minyak sedang murah, Indonesia tidak memiliki kapasitas penampungan yang cukup banyak untuk menyimpan minyak di momen harga minyak dunia minus. Walau demikian, dikutip dari Jakarta Post, pihak Pertamina telah menyewa 3 kapal tanker minyak sambil mencari tanker keempat untuk menimbun minyak murah.

Reporter: Muhammad Rizky

Editor: Naufal Hanif, Novita

Penulis

*

*

Top
Atur Size