Wawancara Adrianus Harsawaskita: Lemahnya Donald Trump Menangani Pandemi

WAWANCARA, MP – Sejak menghangatnya isu penyebaran virus COVID-19 di seluruh dunia, Amerika Serikat melalui pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan oleh Presiden Donald Trump sering kali memicu kontroversi dengan terkesan tidak menganggap serius akan adanya pandemik ini. Pada 9 Maret lalu saja, Presiden Trump melalui cuitannya di twitter seakan mengatakan bahwa virus Covid-19 ini tak ayal hanyalah sebuah flu biasa, sebari menyandingkannya dengan angka kematian penduduk AS karena flu pada tahun sebelumnya. Di cuitan yang sama pula, dirinya mempertegas bahwa roda perekonomian AS harus tetap jalan.

Selain itu, dalam wawancaranya dengan FoxNews melalui panggilan telepon, Presiden Trump yang belakangan ini menyatakan ketidakpercayaannya kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa risiko kematian akibat Covid-19 yang berada di angka 3.4% adalah salah. Dirinya sendiri menyakini bahwa angka yang benar berkisar di bawah 1%.

Amerika Serikat memang terhitung lamban dalam menangani pandemi ini. Dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Tiongkok, Korea Selatan, hingga negara-negara di Eropa Barat, AS dapat dikatakan telah tertinggal jauh. Keterlambatan penanganan ini pula yang menyebabkan meledaknya bom waktu pasien positif Covid-19. Hingga Rabu (06/05) dini hari, tercatat ada 1.22 juta kasus positif Covid-19 dengan jumlah korban meninggal dunia hingga mencapai lebih dari 70 ribu jiwa. Penyebab keterlambatan penanganan ini sendiri disinyalir diakibatkan oleh sistem birokrasi di AS yang tidak berjalan dengan baik.

Untuk menanggapi hal ini, reporter Media Parahyangan berkesempatan mewawancarai dosen prodi Hubungan Internasional untuk mata kuliah Analisis Kebijakan Luar Negeri dan Politik Global Amerika Serikat, Adrianus Harsawaskita, untuk dimintai keterangan mengenai hal ini.

Media Parahyangan (MP): Jumlah kasus positif Covid 19 di Amerika Serikat per 29 April 2020 telah mencapai angka 1 juta jiwa.  Menurut Mas Adri, apakah AS tergolong lambat dalam pencegahan dan penanganan COVID-19? Apa indikator yang bisa menentukan bahwa AS lambat dalam pencegahan maupun penanganan pandemi ini?

Adrianus Harsawaskita (AH): Sebenarnya kalau dikatakan lambat saya kurang setuju. Korban banyak itu akibat politik dan semua berpusat di Trump. Sejak Januari 2019, dinas intelijen AS sudah memperingatkan adanya ancaman pandemi akibat globalisasi. Lalu, pada November 2019, mereka memperingatkan adalanya masalah di Cina, bahkan telah memprediksi bahwa pada Februari penyakit itu akan jadi pandemi.

Tetapi, Trump memusuhi Dinas Intelijen AS dan tidak mau mendengarkan laporakn itu. Waktu (COVID-19) mulai terdeteksi di AS, dia terus menyuarkan bahwa (isu) itu adalah kerjaan Demokrat untuk menjatuhkannya dalam pemilu November ini. Akibatnya, dia bikin isu yang tidak science-based dan pandangannya diterima pendukungnya. Apalagi ia sangat menentang shutdown dan social distancing karena merusak ekonomi.

Akhirnya ya seperti sekarang. Kita tahu beberapa hari lalu beberapa pendukungnya yang fanatik malah (bahwa) menuduh direktur CDC (Centers for Disease Control and Prevention) berusaha menjatuhkan Trump. Beberapa pendukungnya malah menolak social distancing dengan mengadakan demonstrasi.

Sekali lagi, masalahnya politik dan diakibatkan sikap Trump yang anti-sains. Sebelum pandemi ini ia menolak pandangan bahwa pemanasan global telah terjadi. Menurut saya, istilah lambat menangani tidak tepat karena menghilangkan fakta bahwa ini merupakan (akibat dari) sikap tidak serius dan mempolitisir segala masalah, menjelang pemilu November ini. Amerika Serikat sudah tahu dan seharusnya siap. Politik mencegah kesiapan dan kemampuan itu?

MP: Amerika memiliki beberapa rumah sakit terbaik di dunia dengan anggaran kesehatan yang besar. Apakah ini berarti infrastruktur bukan sumber masalah utama penanganan COVID-19 bagi Amerika Serikat?

AH: Infrastruktur sama sekali bukan masalah. Masalahnya adalah sebagian besar publik dan politisi tidak mau mengorbankan ekonomi dengan adanya shutdown dan social distancing, ditambah sikap Trump yang mempolitisasi masalah kesehatan menjadi masalah politik elektoral.

MP: Banyak orang lantas menyerang sistem kapitalistik AS dalam menangani kesehatan publik. Negara membiarkan swasta memprivatisasi sektor publik, seperti kesehatan. Bagaimana tanggapan Mas mengenai paradigma ini? Apakah sistem kapitalisme di AS tidak mendukung penanganan pandemi, atau justru sebaliknya?

AH: Saya tidak melihat ada kaitannya. Privatisasi sektor publik tidak mengakibatkan kegagalan pencegahan karena bagaimanapun kapitalisme yang dianut barat tidak seeksploitatif bayangan Marx. Kalaupun ada kegagalan penyediaan alat seperti ventilator, itu karena bayangan ancaman yang diperingatkan dinas intelijen kesehatan (NCMI) tidak menjadi program nasional karena dianggap remeh. Sistem apapun tidak akan siap bila prediksi seperti itu dianggap remeh.

MP: Banyak pihak juga menuding Jokowi lebih pro terhadap ekonomi dan statement dari Kementerian Kesehatan Indonesia seakan meremahkan ancaman wabah

AH: Syukurlah kita agak berbeda. Pada tahap awal di Indonesia memang agak mirip: menganggap remeh, pejabatnya menjadikan guyonan padahal bicara di ranah publik. Jokowi malah mendorong ‘membuka’ Indonesia. Namun perkembanganna berbeda. Indonesia tidak memiliki anggaran dan infrastruktur yang memadai untuk menghadapi persoalan rumah sakit sampai peralatan tes. Sektor informal di Indonesia juga terlalu banyak, kalau menerapkan social distancing secara serius akan mematikan mereka. Kalaupun mereka disuruh berhenti bekerja, kita tidak punya anggaran untuk mendanai hidup mereka. Jadi masalah Indonesia sekarang bukan politis melainkan anggaran.

Ini yang tidak terjadi di AS. Di Indonesia bukan soal mendewakan ekonomi tapi kita memang tidak punya anggaran untuk menghidupkan sektor-sektor yang akan dipaksa mati suri, dari sektor informal sampai industri besar yang memiliki buruh dan mesin yang harus dimatikan sementara.

MP: Negara yang berhasil menangani pandemi COVID-19 cenderung memiliki keterkaitan erat antara pemerintah dan komunitas akademiknya seperti wakil presiden Taiwan yang seorang dokter dan Angela Merkel seorang PhD. Bagaimana sebenarnya pengaruh pemerintah yang mendengarkan kalangan akademisi medisnya terhadap keberhasilan menangani COVID-19?

AH: Sebenarnya dalah kasus Jerman itu tidak terkait, lebih karena keseriusan memandang masalah. Hampir semua negara Eropa Barat mendengarkan ilmuwannya. Tetapi pertimbangan ekonomi mengalahkan segalanya. Taiwan juag belajar dari kasus SARS dimana Beijing cenderung tertutup.

MP: Amerika Serikat punya keahlian yang tidak main-main dari pihak intelijen dan CDC-nya. Mengapa Trump malah bersikap abai dengan paradigma saintifik hingga ia dan partainya membiarkan pendukungnya sendiri ikut serta dalam sentimen antisains ini, yang bahkan menuntut dr. Fauci untuk mundur?

AH: Karena memang implikasi pandemi ini adalah ekonomi, persis masalah pengurangan emisi karbon. (Padahal) kunci kekuatan Trump adalah keberhasilan ekonomi, terutama menghadapi pemilu November ini. Makanya dia sampai melempar isu bahwa angka soal pandemi merupakan kerjaan Partai Demokrat. Ia tahu abai terhadap pandemi berarti membiarkan kegiatan ekonomi tetap normal dan akan mendapat dukungan publik pada awalnya, tetapi akhirnya AS harus menyelesaikan masalah. Secara ekonomi AS tetap mampu menyokong perekonomiannya, tidak akan kolaps, hanya bantuan ekonomi kepada publik akan dipandang sebagai sikap sosialis.

MP: Mengapa pemerintah Indonesia dan para pejabatnya pernah meremehkan juga kasus ini, walaupun sekarang sudah ditanggapi dengan lebih serius?

AH: Ini mental pejabat, baru dianggap masalah kalau sudah di depan mata. Memang awalnya COVID-19 ini tidak ada di depan mata. Sama dengan kasus Laut Cina Selatan, kan? Keduanya, sikap orang Indonesia pada umumnya, suka guyon dan guyon tidak pada tempatnya. Ini yang dilakukan pejabat, tidak bisa membedakan ruang publik dan ruang privat.

Terkait dengan sikap ilmiah kita dan pejabat menganggap remeh prosedur ilmiah. Maaf saja, Menkes anggap remeh prosedur ilmiah. Semuanya (dengan) jalan pintas, semua masalah termasuk COVID-19 bisa diselesaikan dengan gampang: cukup jemur, plus menggunakan ungkapan-ungkapan agama.

Nathanael Angga | Naufal Hanif | Novita

Penulis

Related posts

*

*

Top
Atur Size