Unpar Bersama IKA Membuat Hand Sanitizer

LIPUTAN, MP – Senin (23/3) lalu, Fakultas Teknologi Industri (FTI) Unpar berkolaborasi dengan IATI (Ikatan Alumni Teknik Industri) dan IATK (Ikatan Alumni Teknik Kimia) disertai dukungan LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat) dan BUT (Biro Umum dan Teknik) mengembangkan hand sanitizer yang akan disumbangkan ke pihak internal serta eksternal Unpar. Program ini merupakan salah satu program IKA Unpar untuk menanggulangi virus Covid-19.

Produk hand hanitizer ini diinisiasi oleh Tony Handoko dan Anastasia Prima selaku dosen Teknik Kimia Unpar, dengan Tony sebagai ketua IKATK pula. Unpar beserta IKA Unpar turut bergabung supaya hasil hand sanitizer ini dapat dijangkau lebih luas lagi ke pihak eksternal.

Prodi Teknik Kimia mendukung program ini dengan mengijinkan laboratorium kimia dasar menjadi tempat pembuatan hand sanitizer. Bahan-bahan yang digunakan sebagian milik prodi Tekkim. Selain itu, ada juga suplai bahan dari alumni, Unpar, serta donasi dari umum.

Pembuatan hand saniziter ini secara teknis dinilai tidak sulit karena menggunakan formula yang sesuai dengan standar WHO (World Health Organization). “Ada bahan yang diencerkan dulu lalu dicampur, ada juga beberapa bagian yang disesuaikan lalu dianalisis di laboratorium mikro,” jelas Tony Handoko, Ketua Ikatan Alumni Teknik Kimia.

Lanjutnya, dia mengatakan pembuatan hand sanitizer ini cukup singkat. “Dengan waktu 2.5 jam bisa mendapatkan 85L, setelah terbiasa bisa mendapatkan 200L dalam 2 jam.” ucap Tony.

Total dari hasil pembuatan selama dua hari sudah menghasilkan 185 liter hand sanitizer. Tim dari FTI Unpar mengupayakan pembuatan seefisien mungkin dengan bekerja dari pagi sampai dengan jam makan siang. Waktu tersebut sudah termasuk dalam mempersiapkan alat dan bahan, mencampur bahan, pengepakan, dan pembersihan laboratorium. Tim FTI membuat hand sanitizer dengan waktu yang singkat untuk menyesuaikan anjuran pemerintah untuk tidak sering berkerumunan.

Adapun kendala dalam pembuatan cairan ini adalah sulitnya bahan baku, “Bahan baku yang jadi salah satu kendalanya. Karena etanol sekarang sudah mahal dan susah dicari,” imbuh Tony. Pihak FTI pun juga saat ini sedang memesan etanol kembali dari beberapa penyuplai langganan laboratorium Teknik Kimia serta kenalan dari alumni untuk menambah pembuatan hand sanitizer.

Pendistribusian cairan disinfektan ini dikelola oleh pihak BUT (Biro Umum dan Teknik). Sumbangan ini ditujukan untuk pihak internal serta eksternal. Sementara itu, Unpar sendiri sudah bekerja sama dengan beberapa rumah sakit untuk dikirim produk hand sanitizer ini seperti RS Borromeus, RS Rotinsulu, RS St. Yusuf, dan RS Cahya Kawaluyan.

Reporter: Novita
Penyunting: Hanif

Penulis

Related posts

*

*

Top
Atur Size