This is Us: Persembahan Seni Anak Autisme

Suasana Acara This Is Us di Braga Citywalk. dok./ ClaraArista

STOPRESS, MP – Tepatnya pada Minggu (29/11) tengah hari, beberapa orang tampak sibuk di dekat panggung. Sebagian memakai kaos bertulisan “This is Us.” Acara ini dilaksanakan sebagai bentuk kampanye meningkatkan kepedulian terhadap autisme dengan tema ‘Inilah saya’, dalam cangkupan anak-anak autisme. Acara diramaikan dengan nyanyi bersama, pembacaan puisi, dan fashion show. Selain acara utama tersebut, juga ada workshop dan pameran karya. Karya-karya yang ditampilkan merupakan karya anak-anak autisme, anak-anak sekolahan, serta kumpulan karya lomba ilustrasi dari masyarakat.

“Tadinya kami pikir apa dari Bandung aja (red. Karya seni), ternyata kita (red. peserta acara) itu banyak (red. karyanya),” ujar Via, selaku panitia acara. Acara mendapat submisi karya dari seluruh Jawa. Selain dari poster dan lukisan tersebut, terdapat juga dua karya utama yang dibuat oleh panitia acara, salah satunya adalah Via.

Karya pertama adalah Cermin Autisme. Karya tersebut berbentuk 2D, dan berupa cermin yang disela-selanya terdapat lukisan gambar diri laki-laki yang dipotong-potong seperti puzzle. “Jadi kalau cuma mau mau berpikiran sempit saja, kamu hanya akan tahu diri sendiri saja. Kamu nggak akan tahu dunia lain itu seperti apa,” ujar Via.

Via menjelaskan, “ketika melihat lebih jauh, dan melihat lebih luas lagi, kamu akan tahu orang autis itu seperti apa.” Hal tersebut merupakan konsep utama dari lukisan tersebut.

Karya kedua adalah Instalansi Autisme. Karya tersebut berbentuk 3D dan bisa diakses bagian dalamnya oleh para pengunjung. Konsep karya ini menggambarkan perasaan anak autis. Dalam maket tersebut ada yang namanya sensori feeling. Pengunjung bisa merasakan seperti apa anak autis merasakan benda yang mereka sentuh. Ada juga lampu-lampu kecil seperti ‘bits’ di atap instalasi. “Jadi itu menggambarkan ada beberapa anak autis yang tidak nyaman di tempat umum atau tempat luas,” jelas Via.

Dalam intalasi tersebut juga ada suara-suara bising, dan juga ‘memori sparks’ yang akan menggambarkan jalan pikiran anak-anak autis. Gambar di dinding samping autisme dan label ‘asing’ juga merupakan bagian dari konsep box autism tersebut, “Itu membuat orang bepikir, ini apa sih, kayak merasa asing begitu,”  ujar Via.

“Autisme bukan gila, tapi spesial,” tegas Via. Bersama dengan panitia-panitia lain, Via mengagas acara tersebut dengan menekankan pada pengalaman dirinya dengan anak-anak autisme.

Acara tersebut sudah mulai direncanakan pada Agustus, dan baru direalisasikan di Oktober. Acara tersebut dilaksanakan sehari setelah sumpah pemuda, “Kami berharap pemuda-pemuda dan  semua orang tahu makna autis itu apa dan makna anak-anak berkebutuhan khusus itu seperti apa,” ujar Via.

CLARA DWITA ARISTA | RANESSA NAINGGOLAN