Tentang PKI Selain 1965 dan 1948

Apa yang saya ketahui tentang PKI terdiri dari dua hal pokok: bahwa mereka membantai dan memberontak pada tahun 1948 dan kemudian melakukannya lagi pada tahun 1965. Setelah itu, partai terlarang tersebut menyelenggarakan kudeta, maka dari itu mereka perlu dan harus dihapuskan dari Indonesia. Berdasarkan dua peristiwa tersebut, saya bersama jutaan anak muda lainnya diminta untuk mengutuk satu paket tradisi analisi ilmu sosial, membenci sekelompok besar ideologi, lalu memafhumi genosida terbesar setelah Holocaust di muka bumi.

Sudah banyak tulisan yang mempertanyakan validitas informasi-informasi tersebut, mulai dari peran sebenarnya PKI di dalam Gerakan 30 September sampai narasi negara tentang versi ‘resmi’ G30S serta intimidasi untuk mereka yang berusaha mempertanyakan narasi tersebut sampai hari ini. Selain itu, kegunaan film G30S/PKI atau penemuan akademik terkait dengan peristiwa tersebut juga telah dibahas secara ekstensif oleh peneliti-peneliti yang jeli, seperti oleh Benedict Anderson dan John Roosa. Apa yang akan dipertanyakan di sini justru adalah apa yang tidak berada di dalam narasi resmi selama ini: apa sebenarnya yang dilakukan PKI di luar dari dua peristiwa tersebut?

Sebab, Partai Komunis Indonesia bukan serupa organisasi teroris atau kultus kekerasan. Ia adalah partai politik yang, selama berdekade-dekade, adalah partai komunis terbesar ketiga di muka bumi, setelah Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok. Ia memiliki ideologi dan tujuannya sendiri, diiringi garis partai, kurikulum kaderisasi, serta tokoh-tokoh dan pemikiran-pemikiran sendiri. Ia adalah partai yang sah, mengikuti pemilihan umum, dan dipilih oleh jutaan masyarakat. Tentunya kita tidak bisa secara serius mengatakan bahwa jutaan orang ini berkumpul dan mencoblos PKI dengan niat untuk membantai masyarakat Indonesia demi mendirikan negara komunis. Alhasil, kita–setidaknya jika hanya mengetahui PKI dari narasi umum–tidak tahu apa yang sebenarnya ‘diperjuangkan’ oleh PKI, apa yang mereka pikirkan, apa arah politik mereka, dan mengapa pada akhirnya mereka secara prematur ikut serta dalam Gerakan 30 September.

Ketidaktahuan ini akan diiringi dengan pertanyaan-pertanyaan lain jika kita secara serius mengkritisi narasi utama antikomunis dan anti-PKI. Ideologi seperti apa yang mengutamakan kekerasan dan meyakini hanya kudeta-lah satu-satunya jalan menuju pembebasan? Pemikiran seperti apa yang memusuhi kaum beragama? Pemikiran antiagama seperti apa yang bisa meraih suara jutaan orang di negara berlandasarkan ‘Ketuhanan yang Maha Esa’? Kita tidak tahu. Atau, setidaknya, kita dianggap tidak perlu tahu selain bahwa PKI itu buruk dan kita tidak boleh mencari tahu lebih lanjut alasan mengapa PKI itu buruk.

Maka, sekali lagi, bahkan bagi mereka yang sepenuhnya mempercayai bahwa PKI merupakan organisasi kejam nan biadab, alasan untuk mempercayai hal ini dipasok dari otak-otak di luar kita. Agak-agaknya, masyarakat Indonesia dianggap serupa anak kecil yang tidak bisa berpikir sendiri mengapa mereka perlu mengikuti atau menolak pemikiran tertentu. Mempertanyakan hal-hal sesederhana seperti di atas akan secara otomatis membuat anda dicap sebagai pro-komunis atau pro-PKI, bahkan jika anda sesungguhnya, 100%, sepenuh hati tidak suka dengan komunisme.

Upaya untuk mengatakan bahwa komunisme, PKI, Marxisme-Leninisme, Sosialisme, adalah hal yang buruk dan jahat tanpa memberi tahu secara detail aspek yang buruk dan jahat dari hal-hal tersebut adalah upaya infantilisasi: menganggap bahwa saya dan masyarakat pada umumnya tidak perlu dan tidak bisa berpikir sendiri.

Belum lagi, kalau kita lantas ingin tahu musuh yang kita lawan ini, kita justru dicap antek-antek komunis itu sendiri. Berkali-kali, panduan populer berbahasa Indonesia untuk pemikiran Marx, Lenin, dan Mao dari Franz Magnis-Suseno disita dan ditahan baik oleh elemen militer maupun ormas karena dianggap mempromosikan nilai-nilai berbahaya. Padahal buku itu adalah persis kebalikannya: sebuah panduan antikomunis.

Romo Magnis, di setiap babnya memberikan ‘catatan kritis’ yang seluruhnya berisi sanggahan kaum politik liberal terhadap komunisme. Kritiknya tak sedikitpun memaklumi, tetapi pedas dan tajam: Romo Magnis merasa perlu menuliskan bahwa Marx bukanlah orang baik, dijauhi teman-temannya, dan hanya memiliki dukungan dari Engels, sedangkan Lenin dianggap bertanggungjawab atas kematian jutaan orang secara langsung dan tidak langsung akibat kepemimpinannya yang berdarah-darah.

Mana mungkin buku yang mencerca Marx dan Lenin dianggap sebagai panduan bagi Marxis-Leninis, ideologi terlarang itu? Romo Magnis yakin betul bahwa komunisme telah usang, tidak praktis, dan tidak akan muncul lagi, sekaligus bahwa TAP MPR yang melarang penyebarannya tidak boleh dicabut. Kalau kita diminta membenci Marx dan PKI, sebenarnya apa yang mau kita benci? Apakah narasi anti-PKI pernah secara serius memaparkan aspek-aspek apa dari PKI yang berbahaya? Apakah ada yang, misalnya, menunjukkan kelemahan PKI melalui tulisan-tulisan Aidit, Njoto, dan Sjam?

Kita, tentu saja, melalui pencarian daring bisa dengan mudah menemukan apa itu garis partai PKI, apa yang mereka pikirkan, mengapa ada bagian dari mereka yang memutuskan untuk melancarkan Gestok, dan lain sebagainya. Tetapi faktanya usaha-usaha seperti ini juga dilarang oleh mereka yang meminta kita untuk membenci PKI. Diskusi-diskusi dibubarkan dan buku-buku disita. Kalau misalnya sekarang saya mencari pidato Aidit di internet, saya digelayuti rasa takut bahwa rumah saya tiba-tiba akan disatroni ormas atau pihak kepolisian (Mengapa sekarang banyak sekali lelucon yang memparodikan bahaya berpendapat secara bebas di ruang daring adalah hal yang perlu dibahas di lain waktu).

Profesor Ariel Heryanto dalam penelitiannya di Identitas dan Kenikmatan memaparkan bahwa Red Scare ini tidak pernah pergi, bahkan setelah runtuhnya Orde Baru1. Begitu tertanam di dalam pikiran masyarakat luas bahwa ‘PKI’ adalah kata ganti bagi semua hal yang buruk di muka bumi, dan begitu tertanam juga bahwa usaha-usaha untuk menelusuri lebih lanjut tentang keberadaan ‘PKI’ ini akan berakhir pada cercaan, intimidasi, kekerasan, dan mungkin kematian. Profesor Ariel mencatat bahwa tokoh kiri di film Indonesia hanya memiliki dua versi: antagonis yang jahat atau antagonis yang salah arah.

Kesulitan utama untuk membahas topik ini memang terletak di norma intimidasi yang mengakar di masyarakat untuk mereka yang mencoba sedikitpun melenceng atau mempertanyakan narasi yang telah umum beredar. Pelanggaran paling kecil akan dianggap simpatisan bagi para pembunuh kaum beragama: minimal, jika pihak kepolisian tidak bergerak, elemen masyarakat akan bertindak—seperti, dalam buku yang sama, protes terhadap diskusi materi tersebut yang disponsori oleh Jawa Pos.

Premis yang penuh dengan paranoia ini bukan saja menyesatkan, tetapi tidak efektif. Tidak ada gunanya menyuruh orang untuk tidak mengikuti suatu hal sekaligus menutup-nutupi hal tersebut. Apalagi, di hari ini ketika penduduk Indonesia banyak yang lahir dan tumbuh jauh setelah peristiwa tersebut, sekadar menakut-nakuti masa lalu yang tak pernah menjadi kenyataan bagi mayoritas warga negara akan dianggap sebagai angin lalu.

Jadi, apa sebenarnya PKI? Barang apa sebenarnya komunisme ini, yang mampu ‘bangkit kembali’ berdekade-dekade setelah ia dibantai? Sebagaimana berbahaya ‘Marxisme-Leninisme’ sampai-sampai ia memerlukan landasan legal sendiri untuk mengatasi penyebaran pemahamannya?

Komunisme bukan Iblis, Ia Hanyalah Pemikiran

Sejak beberapa tahun terakhir, di tengah-tengah usaha untuk merehabilitasi sejarah 1965, para politisi yang membangkitkan kembali isu ‘bangkitnya komunisme’, pendukungnya yang mulai bermunculan di berbagai belahan dunia, maupun pengutuknya yang mulai bersiap siaga menghadapi kelompok tersebut, saya memutuskan untuk mencari tahu apa sebenarnya yang sedang diributkan banyak orang, apa sebenarnya yang begitu ditakuti oleh sebagian orang sekaligus begitu dipuja oleh beberapa lainnya.

‘Barang’ terlarang tersebut ternyata tidak mencuci-otak, membuat orang tiba-tiba menjadi ‘tercerahkan’, atau langsung mengubah sifat seseorang. Jauh berbeda dari anggapan banyak orang, membaca Marx belum tentu akan memberikan anda sifat revolusioner. Setelah membaca ide-ide Marx, anda tidak akan tiba-tiba ingin meraih AK-47 dan membunuh pemimpin terpilih yang sah. Anda lebih mungkin ingin meraih gelas kosong, mengisinya dengan air hangat, dan meminumnya untuk menenangkan otak yang lelah dan bingung.

Setelah memperhatikan Tesis Feuerbach, tempat pemikiran utama Karl Marx mengenai agama, anda juga tidak akan tiba-tiba membenci agama, menolak beribadah, dan ingin membongkar pesantren. Jika kita melepaskan segala yang seram-seram dari anggapan umum mengenai komunisme dan agama, apa yang tertinggal hanyalah kritik yang valid dan hangat tentang praktik agama kontemporer.

Di antara kita, siapa yang tidak merasa bahwa pernyataan ‘kita harus bersyukur, tetapi harus juga melawan ketidakadilan yang terjadi pada kita’ setidaknya memiliki elemen-elemen kebenaran? Kalaupun kita tidak setuju bahwa agama seringkali digunakan untuk menghalang-halangi penganutnya dari mendapatkan hak-haknya (inilah arti sebenarnya dari kalimat populer ‘agama adalah candu bagi masyarakat’), kita tidak akan menganggap bahwa sentimen tersebut berasal dari orang radikal gila yang berusaha untuk membunuh semua agamawan. Seperti misalnya, anda adalah pekerja yang dieksploitasi, tetapi sebagian orang menganggap kalian kurang bersyukur dan harus ikhlas, dibalik nama “agama”2.

Sebagai contoh lain, di dalam Kritik atas Program Gotha, Marx sedikit menggambarkan apa yang akan terjadi di dunia idaman para komunis, dunia idaman PKI. Kalau kita terlanjur percaya sepenuhnya bahwa PKI itu sekumpulan orang yang murni biadab, jahat, dan sinting, barangkali kita membayangkan dunia dimana tidak ada orang beragama, semua orang diperbudak untuk jadi buruh, kelaparan terjadi dimana-mana, dan kita akan dipimpin oleh diktator serupa raja. Nyatanya, sebenarnya dunia yang ingin dicapai para komunis bagus-bagus saja: dunia di mana kita semua bekerja sesuai dengan apa yang kita inginkan dan mendapatkan sesuai apa yang kita butuhkan (for each according to his ability, to each according to his needs)3. Mungkin agak mengada-ada, tapi jelas tidak terlalu buruk.

Tetapi, satu sanggahan populer mengatakan, bukankah apa yang diinginkan PKI lebih ke apa yang sudah terjadi di, misalnya, Uni Soviet? Bukankah dalam usahanya untuk mencapai utopia, ia justru akan menjadi kejam, otoriter, dan mengabaikan hak manusia? Jadi, PKI sebagai partai komunis jelas tetap berbahaya, dan kalau kita tidak menghentikan orang untuk menyebarkan Manifesto Komunis, Indonesia akan jadi neraka bagi warga negaranya. Apakah segala narasi ini dibenarkan untuk ‘melindungi’ masyarakat Indonesia?

Nyatanya, kalau anda membaca sendiri Manifesto Komunis yang pendek itu, anda mungkin akan berakhir dengan banyak ketidaksetujuan dibandingkan mengangguk-angguk dengan yakin. Tidak berguna mereka yang menginginkan kita untuk menjadi antikomunis tetapi malah melarang orang untuk membaca Manikom. Alih-alih membredel tulisan, barangkali lebih baik anak-anak muda disuruh membaca teks itu, mendiskusikannya, dan menilai relevansinya di hari ini.

Apakah anda percaya bahwa sistem ekonomi sekarang harus diruntuhkan? Apakah anda setuju bahwa semua pabrik di muka bumi harus dimiliki oleh pekerja? Apakah anda setuju bahwa semua tuan tanah harus menyerahkan lahannya ke para penggarap?4 Jawaban atas semua pertanyaan ini bisa ya dan bisa tidak, tapi jelas seorang mahasiswa baru tidak akan secara ajaib langsung menjadi komunis setelah membaca teks pendek itu. Pertanyaan yang lebih penting: apakah selama ini ketika kita diberitahu bahwa komunisme itu berbahaya, kita juga diberitahu soal hal-hal ini?

Di titik ini, di suasana tahunan tempat semua orang berdebat tentang topik ini, saya cukup jengkel ketika menyadari bahwa saya perlu repot-repot mencari tahu sendiri tentang hal-hal yang wajib saya benci. Saya lebih jengkel lagi ketika menyadari bahwa ketika menelusuri pemikiran-pemikiran yang akrab dengan PKI, saya memiliki banyak ketidaksetujuan. Jadi, selama ini, mengapa saya harus ditakut-takuti untuk mempelajari sesuatu yang pada akhirnya tidak saya sukai?

Saya pernah benar-benar takut ketika membeli buku karangan Leon Trotsky berjudul ‘Revolusi yang Dikhianati’ dari penerbit lokal, sampai-sampai buku itu saya kirim ke teman saya dan tidak pernah saya sentuh sampai hari ini. Sampul, judul, dan sinopsis bukunya mirip dengan buku yang sering saya lihat sebagai barang bukti ketika polisi menangkap seorang ‘komunis’ atau ‘anarkis’. Ketika di kemudian hari saya mengetahui bahwa konten buku tersebut sedikit banyak adalah konsepsi Trotsky yang sangat kontekstual mengenai ‘arah Soviet’ dan kritiknya atas Stalinisme yang ia rasa mulai menjauh dari tujuan awal revolusi kaum buruh Rusia5, saya merasa bahwa tidak ada satu orang pun, bahkan orang-orang seperti Jenderal Gatot, yang perlu memelihara atmosfir antikomunis yang tidak intelektual ini. Tidak ada mahasiswa yang akan tiba tiba menjadi berbahaya bagi Kodim setempat setelah ia membaca buku ini.

Di hari-hari kemudian, saya juga mendapati bahwa saya seringkali mempertanyakan pemikiran Lenin, misal bahwa negara Sovyet akan ‘perlahan-lahan menghilang karena ia tidak dibutuhkan’ (Uni Soviet akhirnya runtuh dan digantikan negara kapitalis modern penuh oligarki, bukan utopia komunis).

Saya juga lantas memahami bahwa orang-orang ini lebih sering bertikai satu sama lain daripada bertikai dengan kaum konservatif, liberal, atau agamis. Banyak juga sosialis yang tidak suka dengan Soviet, tidak suka dengan Lenin, dan tidak suka dengan ‘negara komunis‘; Banyak juga perseteruan besar di kalangan negara-negara komunis, seperti pertikaian Soviet di bawah Khruschev dengan Tiongkok di bawah Mao; Banyak juga sosialis Indonesia yang saat itu bukan PKI, dengan adanya partai Murba (Tan Malaka) dan Partai Sosialis Indonesia (Sjahrir), dan masih banyak contoh-contoh lainnya.

Fakta bahwa semua orang di atas ini dikelompokkan dalam satu kantong yang sama dan orang-orang merasa takut untuk mendekatinya karena kemiripannya dengan PKI adalah salah satu bukti lain bahwa propaganda antikomunis dan anti-PKI selama ini bukan hanya tidak efektif, tetapi seringkali keliru.

Sebagai konsekuensi logis, kalau tidak ada orang yang tiba-tiba menjadi radikal setelah membaca Marx, Lenin, atau Trotsky, tidak ada juga orang yang akan tiba-tiba menjadi simpatisan PKI jika mempelajari pemikiran Aidit, Njoto, dan Sjam. Tidak perlu membredel buku, tidak perlu membubarkan pemutaran film, tidak perlu mengintimidasi penyelenggaraan diskusi. Kalau memang pihak-pihak tertentu secara serius ingin anak-anak muda untuk ‘memahami bahaya PKI’, sebaiknya mulai merilis infografik di Instagram yang tidak membuat sakit mata atau menulis thread di Twitter yang teratur dan rapi.

Anak-anak muda tidak akan lantas bersimpati jika aksi antikomunis ini hanya mentok di urusan sentimen terhadap diskusi dan larangan membaca buku.

Tiada Hantu, Hanya Manusia: Hanya Bisa Dilawan oleh Manusia Lain

Aidit bukan setan dan PKI bukan kultus iblis. Aidit, sejauh yang saya pahami, hanyalah seorang lain yang memiliki pemikiran lain dan PKI adalah satu dari sejumlah partai yang pernah ada di Indonesia, memuat pemikiran yang pernah populer di Indonesia. Sebagai konsekuensinya, membahas (atau melawan) Aidit dan PKI tidak perlu dan tidak bisa dengan cara-cara irasional dan anti-intelektual, tetapi kita adukan dengan jujur, jernih, dan terbuka dengan manusia-manusia lain dan pemikiran-pemikiran lain.

Kita, saya dan anda dan jutaan orang Indonesia lainnya, punya otak sendiri, punya pikiran sendiri, dan mampu mengolah teks dan mencernanya, serta memberikan penilaian atasnya, dan teks-teks komunisme maupun PKI itu bukan suatu pengecualian. Kalau misal kita sepakat bahwa mayoritas masyarakat Indonesia bukan anak-anak yang perlu disuapi opini dari orang lain, baiknya fenomena tahunan di hari-hari sebelum dan sesudah G30S ini kita isi dengan diskusi, tulisan, dan kajian tentang komunisme, alih-alih dengan ancaman kebangkitan PKI atau, seperti anggota senat Fadli Zon, menganggap diskusi tentang 1965 sebagai ‘membela PKI’.

Ada klarifikasi penting yang perlu disampaikan di sini: artikel ini tidak bermaksud sebagai pendukung atau penolak ide-ide komunis atau PKI. Artikel ini mendahului urusan ini: bagi seseorang agar ia bisa menolak atau mendukung ide-ide tertentu, ia perlu memahami dulu apa ide-ide tersebut, latar belakang sejarahnya, perkembangannya, dan implementasinya. Atmosfir yang ada sekarang, penuh dengan misinformasi, disinformasi, hoax, dan sumber-sumber tangan ketiga, keempat, atau kelima tentang PKI atau komunisme, tidak mendukung adanya situasi ideal tersebut.

Kadang-kadang saya menginginkan lanskap politik Indonesia saat ini serupa lanskap politik menjelang pemilu 1955. Mereka yang beraliran komunis dapat mencoblos PKI; sosial-demokrat, PSI; agamis, Masyumi atau NU; dan bagi para nasionalis pendukung Sukarno, PNI. Kita tidak terjebak di belasan partai tanpa landasan ideologis yang sama saja arahnya antara satu sama lain. Situasi sekarang adalah hasil represi politik Orde Baru yang alergi terhadap perdebatan politik yang sehat, termasuk di dalamnya memperdebatkan komunisme dan sosialisme. Alhasil, kita di sini tidak bisa membicarakan atau memilih ideologi kita di antara khazanah ilmu politik yang kaya.

Hak politik warga negara tidak akan digunakan secara maksimal tanpa informasi politik yang memadai, informasi politik memadai tidak akan hadir tanpa pertukaran pendapat politik secara bebas, dan pertukaran pendapat politik yang bebas tidak akan hadir dalam suasana yang penuh dengan rasa takut. Apapun ideologi kita, saya harap kita sepakat bahwa gelanggang politik perlu diselenggarakan dengan buku dan perdebatan, bukan senapan dan kekerasan.

Itupun kalau memang semua pihak semangat untuk menentukan pemikiran politik mana yang baik dan tidak baik bagi Indonesia. Nyatanya, apa yang dibahas di dalam artikel ini—wacana kebangkitan PKI/Komunisme—seringkali muncul sebagai usaha untuk mengkonsolidasi oligarki, membentuk musuh bersama untuk menjadi advantage politik masing-masing, dan mempertahankan kealpaan kolektif atas kepingan-kepingan sejarah yang dibiarkan perlahan-lahan hilang dari benak kita.

Untuk memperkuat perkiraan ini, kita bisa melihat usaha pihak Kepolisian untuk membentuk hantu baru ketika hantu komunis tidak lagi populer: hantu anarko, anarkisme. Komunis digambarkan sebagai orang-orang kejam yang antiagama, anarko digambarkan sebagai orang-orang tukang rusuh, mencari keributan, meresahkan masyarakat, dan sekali waktu ingin menjarah toko se-Pulau Jawa. Sentimen-sentimen yang kemudian muncul memiliki motif, tujuan, dan kengawuran yang sama dengan sentimen antikomunis yang hari-hari ini lebih sering ditertawakan daripada diseriusi.

Kalau sudah begitu, benarlah slogan toko buku daring populer yang menjual buku-buku ‘terlarang’ tersebut, baik komunis, sosialis, maupun anarkis: membaca adalah melawan.

1 Ariel Heryanto, ‘Identitas dan Kenikmatan’
2 Karl Marx, ‘Theses on Feuerbach’
3 Karl Marx, ‘Critique on the Gotha Program’
4 Karl Marx and Friedrich Engels, ‘Communist Manifesto’
5 Leon Trotsky, ‘The Betrayed Revolution

*

*

Top
Atur Size