Tebusan Nama PMKT: Panitia dan Krisis Dana

Dekorasi papan nama PMKT XXIII pada panggung acara, Sabtu (27/04) lalu. dok/Novita

FEATURE, MP – Pasar Malam Kampus Tiga (PMKT) tahun 2019 yang diselenggarakan pada Sabtu (27/04) lalu, meski berjalan dengan meriah, mulai dari penampilan para artis, kabaret, rumah hantu, dan wahana-wahana lain, ternyata menyimpan 1001 cerita di balik semua itu.

Pernah hampir dibubarkan pada 2015, setahun kemudian PMKT hadir dan semakin membesarkan namanya setiap tahun, seperti membuktikan pada publik bahwa apa yang dikhawatirkan saat itu—urusan keuangan dan lain-lain—bukanlah masalah yang tidak bisa diselesaikan. “PMKT sudah 23 tahun,” terang Cindy Belarosa selaku Ketua Pelaksana. “Akankah PMKT begitu-begitu saja? Kita ingin berinovasi dan mengembangkan PMKT itu sendiri,” tambahnya.

Setelah—beberapa di antaranya, sebelum—acara, isu-isu mulai bertebaran. Anggota panitia mulai dikenakan biaya yang tak sedikit, baik itu danus (dana usaha) mingguan maupun denda. Tak hanya itu, seringkali pemberitahuan biaya datang dalam waktu singkat. “Ada kejadian. H-1 baru diputuskan untuk divisi kami denda yang sangat besar,” ujar salah satu panitia.

Memang, sejak screening panitia, sudah diberi warta bahwa anggaran akan dalam jumlah sangat besar, tetapi sedikit dari anggota panitia yang dengan tepat mengira bahwa anggaran akan sebesar itu. Semakin mendekati acara, hal-hal baru mulai dipublikasikan mengenai komplikasi keuangan internal PMKT. “Baru lapor ke (red. ketiga) himpunan tiga minggu sebelumnya,” ujar Ary Fadhlurrahman selaku Ketua Himpunan Administrasi Publik. “Nggak dapat sponsor utama,” tambahnya.

Sponsor utama memang vital. PMKT XXII mendapatkan sponsor utama dari salah satu bank plat merah yang menggelontorkan dana. Berbekal pengalaman itu, acara tahun ini dijalankan dengan optimisme yang sama.  Dari awal, pihak fakultas sudah memperingatkan hal ini. “Kita berkali-kali bertanya, bagaimana kegiatannya? Perizinannya bagaimana?” ujar Aknolt Kristian Pakpahan selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FISIP serta Benedicta Cucu Suhesih selaku Kabid Kemahasiswaan dan Alumni FISIP. “Selalu dijawab sama mereka, kami sudah ada kenalan, ada koneksi, lah,” tambah mereka.

Mimpi paling buruk ternyata menjadi kenyataan, sponsor utama tidak didapatkan. Akibat tidak didapatnya beberapa sponsor, maka diberlakukan denda untuk panitia, dimana konsepnya dipandang oleh beberapa panitia agak absurd karena mencapai angka delapan digit dan tidak merata untuk semua orang. “Seharusnya tidak mengikat ke panitia, (red. seharusnya) kewajiban kami hanya termin,” terang salah satu anggota divisi dokumentasi.

Pihak fakultas, bahkan, pada saat dihubungi oleh Media Parahyangan, justru belum mendengar soal kekurangan dana. Laporan pertanggungjawaban pun belum masuk ke pihak fakultas (red. tepatnya hingga 10/5).

Dari beberapa panitia yang dimintai keterangan, informasi yang  didapatkan cenderung beragam, tetapi ada satu kesepakatan: tidak ada kejelasan mengenai aliran uang yang masuk dan uang yang keluar. Saat rapat akhir pun, laporan finansial belum final. “Bilangnya bakal ada follow-up di google drive,” ujar panitia lain. “Tapi (red. tepatnya hingga 19/5) tidak ada,” tambahnya.

Kurangnya komunikasi mengenai peruntukan dana acara di antara para panitia secara hierarki menjadi permasalahan. “Skala dana, range-nya tidak pasti,” ujar salah satu panitia divisi dokumentasi. Ia juga memberikan keterangan bahwa belum ada kejelasan mengenai mengapa hal ini bisa terjadi.

Beberapa panitia juga mempertanyakan keberadaan program sosial yang seharusnya ada. “Preevent ada, tapi hari-H, entah, lah,” ungkap salah satu anggota divisi dokumentasi lain.

Perihal permasalahan kekurangan anggaran dan transparansi dana, pihak Media Parahyangan sudah mempertanyakan langsung ke Cindy Bela selaku Ketua PMKT XXIII, namun ia menolak untuk menjawab mengenai hal tersebut.

 

Fakultas Kurang Memberi Dukungan

Dana Kemahasiswaan yang hanya turun sejumlah 6 juta rupiah dari fakultas, dianggap Cindy sebagai bentuk kurangnya dukungan fakultas dalam pelaksanaan PMKT XXIII. “Fakultas tidak memberikan support yang lebih, hanya bisa memberikan sekian juta. Sebenarnya Dekan pun tahu yang harus dikeluarkan lebih dari sekian puluh juta,” ucapnya. “Sejak 2015 mungkin ada seperti ketidakpuasaan dari Dekan terhadap acara tersebut, (red. dianggap) tidak jelas. Sejak 2016 fakultas tidak memberikan support lebih. Tidak ada intervensi dari WD III,” ungkapnya.

Anggapan ini ditolak oleh pihak fakultas. Fakultas, menurut pihak FISIP, terus mendukung kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa, akademik maupun non-akademik. Terkait pendanaan, semua fakultas diberikan dana kemahasiswaan yang jumlahnya sudah dipastikan dari BKA setiap tahunnya. “Fakultas hanya bisa memberikan dana penggerak, dan selalu diberikan,” ujar Aknolt selaku Wakil Dekan Kemahasiswaan dan Alumni FISIP. “Yang ada di proposal sekian puluh juta. Saya berikan sekian juta, sekitar 10% wajar, kan?” bela Aknolt yang akrab disapa Bang Tian.

Perlu diketahui, panitia menganggarkan anggaran pada proposal hanya sekitar 60 juta rupiah. Padahal, acara main event PMKT XXIII mencapai ratusan juta, kurang lebih hingga 500 juta. Alasan nominal 60 juta rupiah tersebut digoreskan pada proposal, karena memang tujuan panitia untuk mencari uang. Dan dana yang diberikan FISIP sebesar 10% dari total anggaran pada proposal, yaitu 6 juta rupiah.

Biaya tersebut, ditambah dengan ketiadaan sponsor yang diharapkan, akhirnya mau tidak mau menimbulkan iuran untuk para anggota panitia. “Saya tidak begitu happy ketika tahu panitia ditarik iuran,” ujar Bang Tian. “Saya dan Ibu Cucu mengingatkan, bikin acara dengan kemampuan segitu, ya, bikinnya segitu,” tambah beliau.

Ujaran tersebut dicerminkan oleh keterangan dari Ary, Ketua Himpunan Administrasi Publik. “Yang ideal, buatlah plan A, B, C, D yang fix, kalau sponsor cuma segini. Lihatlah kondisi keuangan bagaimana, kemampuannya bagaimana,” sarannya, “Ujung-ujungnya, membebankan anak-anak yang di bawah, staf yang tidak tahu apa-apa, kerjanya disuruh ini, bayar ini, buat apa aja tidak ada yang tahu,” tambahnya.

Proposal PMKT ditandatangani ketiga himpunan program studi FISIP. Tetapi himpunan, bagaimanapun juga, atas keterangan Nicander Wijaya selaku Ketua Himpunan Hubungan Internasional dan Ary selaku Ketua Himpunan Administrasi Publik, hanya berfungsi sebagai pengawas, dan pelaksanaan acara tetap menjadi tanggungjawab para panitia. “Himpunan tidak langsung turun tangan,” ujar mereka. Skala dan bentuk acara sepenuhnya ditetapkan oleh para panitia.

 

Menukar Kerja Keras dan Uang Panitia untuk Nama Baik Acara

Oleh para panitia, PMKT tetap dipertahankan sebagaimana semestinya. Alasannya, ia adalah wajah FISIP Unpar. Ia mempresentasikan kreativitas dan keandalan segenap mahasiswanya, dan tentu suatu indikasi ‘penurunan’ dibanding PMKT sebelum-sebelumnya dianggap tak elok. “PMKT itu konsepnya sangat bagus, karena di Bandung juga jarang ditemui event yang ada pasar malamnya, wahana, rumah hantunya,” terang Cindy Bela. “Ini juga sudah pertimbangan dari seluruh panitia, kita ingin tetap maju walau support dari fakultas tidak terlalu besar,” ungkapnya. Lagipula, permasalahan yang ada dianggap resiko yang selalu terjadi dalam menjalankan acara. “Tiap tahun begini,” ujar Ary.

Maka mau tidak mau, trade-off pun terjadi. Sebagaimana kasus serupa di acara-acara lain, para pekerja keras PMKT tahun ini adalah mereka yang berada di posisi paling dasar hierarki; para panitia anggota, yang secara kolektif menyangga acara besar itu. Urunan panitia jika diakumulasikan jumlahnya beragam namun rata-rata menyebutkan angka satu juta—banyak yang lebih.

 

“Kita Harus Yakin, Men

PMKT XXIII berjalan atas dasar pemikiran yang sederhana: “bahwa walaupun dana kita hancur dan pengelolaannya kacau,” pesan salah satu panitia anonim kepada kami, “kita harus yakin, men,” katanya.

Keyakinan itu berbuah dan menjadikan divisi saling berkoordinasi satu sama lain dan bersama-sama memenuhi kuota-kuota yang ditetapkan, baik itu denda maupun danus mingguan, dengan harapan acara itu tetap terlaksana secara semestinya. Salah satunya, divisi Dasakom (Dana Usaha dan Konsumsi), kata salah satu panitia, memiliki komunikasi yang cukup baik dimana para koordinator selalu melaporkan situasi terbaru kepada para stafnya. “Meskipun jarang ada forum terbuka,” ujarnya.

Dengan ‘sumbangan’ dana yang tidak sedikit, keuangan PMKT tahun ini dengan skala besar dan menyasar pasar publik luas namun nir-sponsor utama, berhasil diatasi dengan usaha ekstra. Para anggota panitia, jauh sebelum acara, sibuk menjual tiket yang kuota penjualannya terus-menerus ditambah, menjual habis apapun yang ditawarkan danus setiap minggunya, dan tak jarang mengeluarkan kocek pribadi untuk membiayai acara prestis ini.

Hiburan itu, sebagaimana PMKT secara keseluruhan, perlu diingat oleh para pengunjung maupun semua pihak, bisa ada karena volunterisme dari panitia yang ingin memberikan performa dengan kualitas tinggi. PMKT, berkembang dari fungsi awalnya sebagai sarana bonding internal FISIP menjadi sarana untuk menunjukkan kreativitas mahasiswa FISIP ke mata publik Bandung, dipandang oleh beberapa panitianya perlu dijaga sebagaimana rancangan awalnya.

Maka, terang salah satu panitia, para staf bekerja keras untuk menunjukkan hal tersebut. Para panitia yang kami wawancara meminta kritik-kritik atas PMKT diketahui, agar acara tersebut tak dilihat suksesnya saja melainkan, memparafrase salah satu staf, “perjalanan dan pengorbanan panitia juga,” katanya.

 

NAUFAL HANIF, DEBORA ANGELA || BRENDA CYNTHIA

Related posts

One Comment;

*

*

Top