Tag Archives: cerpen

[Cerpen] Di Balik Senyum Kemerdekaan

[Cerpen] Di Balik Senyum Kemerdekaan

Ada pepatah berkata, “mati satu tumbuh seribu”. Baginya, ketika ia mati, takkan ada lagi yang sepertinya. Arya baru berusia 6 tahun ketika ia pertama bertemu kematian. Walau sudah hampir 20 tahun berlalu, ingatannya masih sangat jelas. Ia berbaring di atas tikar di dalam kamarnya. Ibunya menyuruhnya untuk tetap di kamar sampai ia kembali. Ia cukup

[Cerpen] Apa Benar Indonesia Sudah Merdeka?

“Kek, apa benar Indonesia sudah merdeka?” tanya seorang cucu pada kakeknya ketika mereka sedang menonton siaran langsung upacara kemerdekaan di Istana Negara lewat televisi. “Oh jelas,” ungkap si Kakek dengan lantang. “Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya sang Kakek kebingungan dengan pertanyaan cucunya. “Kek, apa benar Indonesia sudah merdeka?” dengan polosnya si cucu kembali

Mengenang G30S

[Cerpen] Memeluk Luka Selama 636 Sentimeter

Luana lebih suka memeluk Luka erat-erat. Baginya membangun jeruji bagi Luka secara paksa dengan bantuan detakan jarum kecil pada arloji dan robekan lembaran-lembaran penanggalan, kelak hanya membuat Luka beralih bentuk menjadi infeksi. Karenanya, menahun Luana enggan menghitung hari-hari. “Rambutmu sudah terlampau panjang,” ujar Luka padanya. Luana mengangguk. “Mengingat imajimu tentang hitungan hari yang tak lagi

Ilusrasi Tolerantia - Kemampuan Menanggung Penderitaan dan Rasa Sakit. Dok/ Keith Negley

TOLERANTIA

Hussss!!! Maneh tong ngomong kitu ka si Rico (hus, kamu jangan bicara begitu ke Rico). Gelak tawa teman-temannya seketika  terhenti  setelah Rahman melerai perbincangan mereka tentang Rico, anak yang pendiam dan merupakan keturunan dari kaum sarane¹. Dia adalah Rico Sapullete anak dari Christian Sapullete yang tinggal di daerah Maluku. Sapulette adalah nama fam yang turun

[Cerpen] Radiasi Termal

Tadi malam dingin. Sekarang sudah pagi dan saya tidak bisa melihat kamu dengan jelas. Saya juga tidak bisa merasakan tekstur ranjang hijau ini. Kamu menyiram tanaman-tanaman pot di taman loteng rumahmu. Rambutmu jadi tidak begitu hitam di bawah sinar matahari pagi. Ini hari ke tiga kamu lupa menyiram pohon dalam pot biru muda di ujung

[Cerpen] Pena Tanpa Tinta

  Aku rasa sekarang sekolah hanya sekedar tempat bagi para guru untuk mencari uang, ketika mengajar, mereka hanya membawa buku atau laptop dan membacakan ulang setiap kata yang ada didalamnya. Jika menjadi guru hanya sedangkal itu, bagaimana dengan murid yang diajarnya? Mungkin mereka terlalu sibuk untuk memikirkan besok makan dengan apa, dibanding memikirkan apa yang akan

Arwah Bapak untuk Adinda (Bagian 2 – TAMAT)

Aku memiliki dua sahabat, kami berteman sudah dari SD. Kedua sahabatku bernama Amira dan Mutia. Kami apa adanya, persahabatan kami cukup aneh, kami bersahabat namun selalu merasa geli saat saling memuji satu sama lain. Kami lebih sering saling mengejek, namun kami masing-masing mengetahui bahwa ejekan itu adalah pujian yang tersembunyi. Menginjak usia remaja, persahabatan kami

Arwah Bapak untuk Adinda (Bagian 1)

Kristiana Devina, Hukum 2013 Semilir angin mengantarkan aroma melati yang menusuk dari ruang tamu. Beberapa orang terlihat sedang bercengkrama serius, pemandanganku tak terlepas dari hampir separuh orang yang diselimuti mata bengkak akibat menangis. Aku dan kakak-kakakku pun begitu, Luna, kakak pertamaku tak berhenti histeris memandang bapak yang terbujur kaku. Ia tampak sangat gagah dan manis

[Cerpen] Gagal Panen

Aku berdiri di tengah ribuan bahkan jutaan hijau membentang luas disekitarku. Tiupan angin santai menerpa, dan aku mengikuti irama lembutnya secara bersamaan.terombang-ambing ke samping secara bersamaan. Saat panen tiba, tak lama alih, penerus panen juga panen dengan cepat. Di luasnya sawah aku tidak berguna tanpa yang lainnya. Tapi kali ini aku berada di tempat yang

[Cerpen] Batu Berselimut Tebal

“Jadi, Manusia. Ada yang bilang kamu kerap memadankan rasa dengan bulan dan laut. Ada yang bilang kamu kerap berucap pada bulan selagi menanti. Manusia, biar saya beri tahu faktanya, kamu jangan tersinggung. Laut tidak mengagumi bulan. Kamu mengagumi, tapi bukan bulan. Manusia, bulan bukan telepon kaleng yang dihubungkan dengan benang. Bulan tidak menyampaikan pesanmu. Kamu

Top