Taffarel-Bryan: Calon Ketua BEM ‘Progresif’ yang Banyak Dipertanyakan

Taffarel-Bryan: Calon Ketua BEM ‘Progresif’ yang Banyak Dipertanyakan

LIPUTAN, MP – Taffarel Montero dan Ferdinandus Bryan tidak berasal dari BEM. Setelah sekian lama, Unpar akhirnya akan memiliki ketua BEM yang tidak terlibat langsung di dalam organisasi tersebut sebelumnya. Membawa diri dengan label aktivis, progresif, gebrakan, dan perubahan-perubahan lainnya, kampanye Taffarel-Bryan, meskipun merupakan calon tunggal, menghadapi banyak nada sumbang dan kritik dari banyak pihak, termasuk di antaranya beberapa elemen Media Parahyangan sendiri.

Untuk memberikan gambaran yang lebih gamblang bagi mahasiswa untuk mencoblos saat PUPM besok, kami melakukan profiling untuk menjelaskan apa yang akan mereka lakukan dan kontroversi seputar kampanye mereka akhir-akhir ini. Isi wawancara telah kami singkat dan sunting seperlunya untuk meringkas isi dan menambah kejelasan.

MP: Anda maju sebagai kandidat ‘progresif’. Memangnya apa yang belum dilakukan BEM/LKM sebelumnya?

Taffarel-Bryan: Kami berasal dari latar belakang aktivis yang membawa gebrakan sangat baru, sangat berbeda dengan para BEM sebelumnya. BEM sebelumnya berfokus pada capacity building (individu), (sedangkan) kami juga aktif di isu-isu nasional. Esensi BEM untuk mengadvokasi isu-isu kami bawa dengan latar belakang aktivis intelektual—permasalahan bangsa semakin banyak.

Kami memakai analisis World Economic Forum (WEF) tentang soft skill dan hard skill apa yang dibutuhkan (mahasiswa), sebab perusahaan nanti akan mempertanyakan. Dalam wawancara kerja, perusahaan akan meminta studi kasus berikut penyelesaian dan solusi, suatu hal yang tidak ada di teori perkuliahan.

MP: Kegiatan BEM sekarang juga perspektifnya mempersiapkan mahasiswa untuk kerja. Baik Denny/Dzikra (2019) maupun Malik/Ruth (2020) memiliki narasi yang sama dengan kalian: kebermanfaatan, wadah masalah, tidak hanya proker. Menurut kalian sendiri, BEM yang bermanfaat seperti apa? Tolak ukurnya seperti apa?

Kami dan BEM sebelum-sebelumnya memiliki perbedaan menonjol: mereka ingin perbaikan diri mahasiswa sedangkan kami dari aktivis, lebih sadar permasalahan bangsa. Program (kemahasiswaan) Unpar akan kami level up. Tolak ukur BEM bermanfaat adalah meningkatnya kesadaran mahasiswa untuk aktif.

MP: Selama ini Kastrat banyak mengeluarkan kajian dan ditanggapi biasa saja oleh mahasiswa. Apa hal utama yang membedakan kalian dengan BEM sekarang ketika mayoritas struktur organisasi dan program kerja Anda masih sama?

Arah fokus kami berbeda. Pada saat zaman Hakkinen Malik, ada beberapa departemen yang seharusnya dibedakan tetapi disatukan, seperti pembedaan internal-eksternal dan Himpunan-UKM. Kami akan lebih fokus (dalam pembedaannya). Selain itu, sejauh ini sifat kajian (sekarang) juga abstain atau tidak jelas posisinya, sedangkan program Parahyangan Statement dari kami akan berbeda.

MP: Anda merupakan outsider bukan hanya dari BEM, tapi juga PM Unpar.

Kami mungkin tidak pernah masuk ke PM (Persatuan Mahasiswa) Unpar, tapi kami juga aktif di luar. Kami memahami permasalahan mahasiswa.

MP: Anda tahun depan harus meyakinkan staf dan keseluruhan mahasiswa Unpar untuk menjalankan visi misi Anda. Dengan ketiadaan rekam jejak di PM Unpar, bagaimana Anda memastikan apa yang disampaikan saat kampanye tidak akan berhenti di tengah jalan atau tidak terealisasi akibat perbedaan ide dengan staf?

Melalui pendidikan, diklat, dan capacity building. Banyak orang yang memiliki kapabilitas, tetapi secara kemampuan tidak terpacu untuk mengikuti. Oleh karena itu dibutuhkan reformasi Kastrat untuk meningkatkan pengembangan diri.

MP: Sejauh ini, BEM juga sudah memiliki diklat yang belum tentu efektif. Banyak yang akan masuk BEM hanya untuk sertifikat atau memperbaiki CV, dan cukup kecil kemungkinan pihak ini akan mengikuti Anda turun ke jalan dan memprotes RUU kontroversial. Apa yang memastikan bahwa ide Anda di BEM dan Unpar dapat diterima, dapat bertahan, dan dapat dieksekusi?

Tergantung minat dan bakat dari masing-masing staf. Jika fokusnya industri, tentu tidak akan masuk (ke bagian) pengabdian masyarakat. Dengan mengedukasi staf, kita bisa mengetahui peminatan mereka ada di mana. Di ranah Unpar, kami melakukan cara entertainment, seperti mengikuti acara-acara dan mengadakan Ngopi Diskusi. Selain itu, kajian kami tidak akan langsung dikeluarkan tetapi akan disajikan dalam bentuk yang menghibur; di sana juga stand up comedy bisa masuk. Untuk hal ini tentu saja butuh waktu yang lama dan semoga ada regenerasi di tahun-tahun selanjutnya. (Ini merupakan) tiga poin kami: edukasi, keikutsertaan mahasiswa di segala kegiatan, dan promosi program dengan cara entertain.

MP: Anda memiliki banyak penekanan di Kastrat, tetapi tentu saja BEM bukan hanya Kastrat. Belum banyak detail divisi lain, seperti pengmas, atau seni dan olahraga.

Kami mengikuti perkembangan zaman. Sekarang sedang trending podcast, maka kami mengikuti (trend)—seperti program ‘Lo Jakarta Banget’. Selain itu, kami juga memiliki program Parahyangan Debate Club yang akan kami modelkan seperti program Indonesian Lawyer Club oleh Karni Ilyas. Selain itu, beberapa program kami juga adalah Batik Day, serta seni dan lukisan. Jika ada mahasiswa yang bisa membatik atau melukis, akan disalurkan melalui program kami berupa sayembara. Di ranah olahraga, kami akan mengadakan secara rutin program Unpar Sehat. Banyak perbedaan yang kami bawa, seperti memakai sistem Amati-Tiru-Modifikasi (ATM).

MP: Ada usaha untuk membuat program-program baru. Bagaimana memastikan program anda ini sebenarnya diinginkan oleh mahasiswa Unpar? Bagaimana jika program anda sudah tinggal pelaksanaan, dan lalu peminatnya tetap sedikit juga? Banyak program BEM yang memiliki tujuan bagus, tapi sepi peminat.

Fenomena ini disebabkan informasi tidak sampai ke mahasiswa. Proses pemasaran (marketing) harus ditingkatkan, bukan hanya lewat media sosial, proses marketing itu bermacam-macam. Selain itu, output dari acara-acara BEM juga harus jelas. TEDx, misal, kita tidak tahu apa yang mau dibawa ioleh narasumber. Sekarang, kita kurang menyebarkan informasi proker. Kami akan menyusun situs bagi mahasiswa untuk mencari informasi proker, untuk membentuk opini mahasiswa.

MP: Sejak periode LKM sampai BEM terakhir, yang masyarakat Unpar ketahui (mengenai data survei) hanyalah hasil pengolahan data dalam bentuk infografik. Apakah nantinya masyarakat Unpar bisa mendapatkan transparansi data, seperti sumber, metode yang digunakan, minimal respoden, dan lainnya?

Kita masih belum bisa menyerahkan data survei karena survei masih berjalan. Nanti akan dengan mudah diakses semua orang ketika kita terpilih/selesai kampanye. Metode survei juga bisa kuantitatif dan kualitatif. Transparansi kami bawakan di misi kelima. Dari pengolahan data nanti kita publikasikan.

MP: Survei punya banyak metode dalam pengambilan datanya agar bisa disebut valid. Metode survei valid seperti apa yang kalian ketahui dan gunakan?

Metode kuantitatif valid dari kuesioner, kemudian pake rumus Slovin, kemudian metode statistik tipikal data kuantitatif. Banyak metode kuantitatif yang kita lakukan dan valid. Kuesioner, dataset statistik, wawancara darihimpunan.

MP: Terkait dengan korespondensi survei, bagaimana cara kalian memastikan bahwa survei yang dilakukan dan jumlah responden adalah valid dan tepat waktu?

Kita sudah siapin survei dari lama. Dari himpunan juga kita minta bantuan publikasi. Pembangkitan awareness. Dari jauh-jauh hari kita sudah nyebarin (survei) duluan, jangka waktu cukup lama. Valid juga pakai email Unpar (saat mengisi survei). Dari atm apa yang membedakan teknisnya, metodenya, narasumber, outputnya. Gimana cara menyajikan proker agak tidak boring. Interaktif.

MP: Salah satu permasalahan di BEM yang selalu disebutkan dalam kampanye kalian adalah kurangnya publikasi. Apakah bisa dispesifikasi di bagian mana yang menjadi masalah tersebut?

Publikasi ada masalah pandemi. Menekankan awareness. Kalo awareness tinggi nanti yang ikut juga banyak, publikasi akan efektif. Publikasi harus ada pembentukan opini. Metodenya merangkul PM Unpar. 

MP: Menjadi pengurus UKM dan komunitas berbeda dengan menjadi seorang pengurus BEM dalam hal skala dan diversitas staf. Cara apa yang akan kalian lakukan sebagai pemimpin untuk memonitori staf kalian untuk memastikan bahwa tujuan, misal suatu proker, tercapai?

Rapat rutin, pembuatan timeline, ada family time. Proses monitoring berorientasi pada tujuan, mengacu pada kriteria keberhasilan dan asas manfaat. Sebelum bikin proker sudah dikaji dan monitoring.

MP: Banyak hal yang Anda tawarkan sudah dilakukan BEM sebelumnya, seperti publikasi intensif, survei dan kajian analisis program kerja sebelum dan sesudah acara, serta kolaborasi himpunan untuk publikasi. Teknik-teknik ini memiliki hasil yang justru Anda kritik sendiri hari ini. Pertanyaan kami: dengan banyaknya cara dan metode kalian yang tidak baru dalam menjalankan BEM, bagaimana kalian akan menjadi hasil yang baru?

Dengan tiga prinsip kami: advokasi, pewadahan pengembangan diri, dan pengabdian masyarakat. Untuk pengembangan diri, kami sama saja seperti BEM sebelumnya, sebab jam terbang merea lebih tinggi. Perubahan kami terdapat di ranah advokasi milik Kasstrat, dan metode kami yang jelas berbeda dengan BEM sebelumnya seperti metode ATM (amati-tiru-modifikasi) dan FGD (focus-group discussion). BEM sekarang sudah baik dan maju, hanya akan kita bawa semakin baik dan semakin maju. Kami mengkritisi Kastrat BEM sekarang yang kurang maju dan tidak berperspektif intelektual, dan itu yang mau kita ubah.

MP: Tahun ini, Kastrat sudah membuat banyak kajian dengan metode yang baik dan memadai

Kastrat ini kan kemarin (ada hasil) juga ada dorongan dari Media Parahyangan. Besok, kami tidak butuh dorongan atau paksaan: kami akan berinisiatif sendiri dengan sudut pandang intelektual.

MP: Di PUPM mahasiswa bisa bosan mendengar narasi relevan, aktif, bermanfaat yang terus-terus diulang-ulang. Selain itu Level-up ini masih kabur. Level-up seperti apa kah yang ada di luar Kastrat?

Level-up lebih ke arah pengembangan diri mahasiswa, yaitu soft skill dan hard skill, seperti desain grafik atau manajemen proyek. Kami akan menyelenggarakan pelatihan-pelatihan dan diskusi-diskusi yang ingin dipelajari dan tidak didapatkan teman-teman mahasiswa di kelas. Selain itu, contoh level-up lain adalah adanya komunitas-komunitas dan unit-unit baru, seperti kemudian misal jika muncul komunitas stand up comedy Unpar atau komunitas saham Unpar. Itulah output yang kami bawakan, dan itulah warisan yang ingin kami tinggalkan.

MP: Banyak pihak yang mengkritik Anda karena tidak siap, membuat keputusan secara rancu, tidak paham BEM, tidak memahami dinamika politik kampus, dan mempertanyakan kesiapan dan niat Anda maju menjadi ketua dan wakil ketua BEM. Apa tanggapan Anda?

Kami sangat siap! Kami mengikuti esensi Simkatmawa, yaitu dalam tiga pilar yaitu mengadvokasikan isu-isu, mengembangkan skill mahasiswa, dan mengabdikan diri ke masyarakat. Kami merupakan gebrakan baru mahasiswa Unpar yang out of nowhere datang sebagai calon pemimpin dari latar belakang aktivis. Meskipun kami tidak pernah ikut BEM, kami paham kebutuhan mahasiswa, kami pernah memimpin organisasi, kami memiliki gaya kepemimpinan, dan kami memahami teknis operasional organisasi mahasiswa. Kami juga pernah menjadi bagian yang menggerakkan Aliansi Mahasiswa Humanum Unpar untuk tuntutan menurunkan UKT, di sana, kami mempelajari apa yang diinginkan mahasiswa.

Siap tidak siap, kami pasti selalu siap. Meskipun begitu kami menerima segala kritik, sebab dalam segala kepemimpinan tidak ada hal yang terus-menerus baik-baik saja.

Kami maju tidak asal maju. Kami memiliki pertimbangan-pertimbangan dan sudah mempersiapkan diri atas tanggung jawab BEM yang besar. Kami siap secara mental. Salah satu gebrakan dari kami juga sudah dimulainya meningkatnya kesadaran mahsiswa yang mulai mengkritik, mulai bangkit kembali. Kritik dari teman-teman juga kami kira baik dan kami tanggapi dengan perubahan.

MP: Bagi mereka yang memercayai rumor-rumor ini dan sudah memutuskan tidak memilih Anda, apa yang bisa Anda katakan bagi mereka agar berubah pikiran?

Inilah ideologi kami dan perubahan yang ingin kami bawa. Kami ingin membuat suatu perubahan, bergerak aktif dalam kerangka intelentual kemasyarakatan. Jika Anda memiliki perbedaan sikap, maka tidak bermasalah, kami akan memperbaiki diri. Mahasiswa boleh menilai kami dari penilaian universal untuk calon pemimpin: apa yang telah ia lakukan di masa lalu, apa yang ia lakukan sekarang, dan apa yang ia tawarkan di masa mendatang.

Teman-teman yang telah memutuskan untuk tidak memilih kami dapat melihat apa yang kami tawarkan di masa mendatang.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Atur Size