Tabu: Budaya Kesepakatan dalam Hubungan Seksual

Suasana Diskusi bersama Tabu.ID memperingati Hari Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan di Co-Op Space. Dok/MP. Suasana Diskusi bersama Tabu.ID memperingati Hari Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan di Co-Op Space. Dok/MP.

Jaka dan Dara sudah menjalin komitmen kasih. Sudah merasa dewasa, hubungan seksual menjadi pelengkap perjalanan Jaka dan Dara dibawah status yang biasa disebut pacaran. Di Indonesia, pembahasan seksual kerap dianggap tabu, tetapi Jaka dan Dara tidak enggan untuk berdikusi mengenai hal tabu tersebut. Keduanya menyadari bahwa hubungan seksual adalah hal krusial dan butuh untuk dibahas, dikomunikasikan, dan dipelajari.

Sama dengan Jaka dan Dara, sekitar lima belas orang hadir pada sore itu untuk berbincang mengenai topik yang selama ini dianggap tabu di Co-Op Space pada Minggu (15/11). Proyektor yang mengarah ke layar sudah menampilkan materi-materi yang disampaikan hari itu.

Tiga orang dari Tabu jauh-jauh dari Jakarta, sudah duduk rapi di depan. Dua moderator dari Media Parahyangan juga sudah duduk di depan. Walau sudah disiapkan dari lama, acara ini memang terlihat sederhana dan seadanya. Makanan ringan dan air mineral sudah tersedia di meja belakang, beberapa peserta sudah sigap mengambil dan langsung menyantapnya.

Mengomunikasikan Kesepakatan

Tabu membuka dengan menjelaskan pengertian kekerasan seksual dilanjutkan dengan penjelasan singkat tentang pemerkosaan dan pelecehan seksual. Hari itu memang tidak akan membahas pengertian-pengertian itu secara mendalam.

Pembahasan sore itu lebih banyak membahas tentang consent atau persetujuan. Selama ini yang luput dari masyarakat dalam aktivitas hubungan seksual adalah kesepakatan. Menurut Tabu, persetujuan dalam melakukan aktivitas seksual harus selalu diberikan oleh pihak yang terlibat dalam hubungan badan. Bila salah satu dari pasangan menyatakan secara jelas bahwa ia menolak melakukan aktivitas seksual, maka aktivitas itu tidak boleh dilakukan.

Persetujuan inilah yang membedakan hubungan seksual dan kekerasan seksual. Ketika salah satu menolak, dan yang satu tetap memaksa melakukan hubungan seksual, maka aktivitas tersebut dinyatakan sebagai kekerasan seksual.

Persetujuan harus diberikan melalui verbal, sehingga jelas bagi kedua pihak untuk mengerti apakah saling mau melakukan hubungan seksual tanpa adanya makna ganda. Namun, pemberian persetujuan tidak semena-semena diujung mulut, saya mau melakukannya. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mendefinisikan persetujuan. Kesepakatan yang diberikan harus secara sukarela dan secara sadar atau tidak ketika sedang di bawah pengaruh obat-obatan, alkohol dan belym cukup umur.

Dalam jalannya diskusi, ada yang bertanya, “kalau dua-duanya mabuk terus berhubungan seksual, itu bisa disebut ada persetujuan nggak? Menurut Tabu, jika setelah tersadar satu atau keduanya merasa ada rasa bersalah atau rasa kecewa, berarti hubungan seksual yang sudah dilakukan disebut tidak ada persetujuan. Rumit memang. Namun hal ini sangat penting bagi jalannya hubungan kedua pihak. Intinya, persetujuan harus diberikan secara verbal dan dengan penuh kesadaran.

Jika keduanya telah memberikan persetujuan secara sadar dan salah satunya menarik persetujuan tersebut, maka hubungan seksual tetap tidak boleh dilakukan. Artinya orang juga boleh menarik lagi persetujuan yang telah diberikan sebelumnya, bahkan saat di tengah-tengah hubungan seksual. Jika hal itu terjadi, pasangan harus berhenti melakukan hubungan seksual tersebut.

Persetujuan dianggap sah ketika kedua pihak telah memiliki informasi yang mencukupi atau detail dalam melakukan hubungan seksual. Pasangan harus tahu konsekuensi dari berhubungan seksual, seperti kehamilan atau efek fisik lainnya. Selain itu, pasangan juga harus mengetahui lebih spesifik apa yang akan dilakukan ketika berhubungan seksual, seperti hal apa yang disukai dan tidak dalam melakukan hubungan seksual. Hal detail ini penting untuk dikomunikasikan sebelum hubungan seksual dilakukan. Jika informasi yang didapat tidak lengkap, maka persetujuan tetap dianggap tidak sah.

Yang terpenting dalam memberikan persetujuan, seseorang harus memberikan karena memang itu yang ia inginkan tanpa tekanan atau bukan dengan alasan pasangan mereka yang menginginkannya. Paksaan dari pasangan untuk memberikan persetujuan akan membuat hubungan seksual yang mereka lakukan dikategorikan sebagai kekerasan seksual.

Yang Bukan Kesepakatan

Ada hal-hal yang kerap dianggap masyarakat sebagai persetujuan untuk melakukan hubungan seksual, padahal itu bukan merupakan bentuk memberikan persetujuan. Bahasa tubuh tidak bisa dianggap sebagai bentuk persetujuan. Senyum-senyum manis atau kedipan mata bukan berarti orang tersebut memberikan persetujuan.

Jalinan kasih seperti pacaran maupun menikah juga bukan menjadi alasan bahwa pihak yang terlibat memberikan kesepakatan untuk hubungan seksual. Dalam pacaran, bahkan menikah, sangat memungkinkan pemerkosaan terjadi, jika salah satu pihak tidak memberikan kesepakatan secara jelas atau verbal untuk melakukan hubungan badan. Hubungan romantis, seperti berkencan, dan aktivitas seksual sebelumnya juga tidak bisa dijadikan jaminan bahwa pihak yang terlibat akan setuju untuk melakukan hubungan badan dimasa depan.

Yang sering dianggap persetujuan lainnya adalah sikap diam, pasif, tidak melawan, atau tidak bergerak dari pihak yang terlibat. Terkadang orang terlalu takut untuk bergerak atau memberi perlawanan sehingga cenderung diam saja. Namun narasi “Dia diem aja berarti dia menikmati tuh” sering terdengar di masyarakat.  Padahal, sikap diam dan pasif justru sering terjadi ketika seseorang ketakutan dan hal ini tentu tidak termasuk kategori pihak yang terlibat memberikan persetujuan untuk melakukan hubungan seksual.

Walau terlihat remeh temeh, persetujuan sangat membantu kedua pihak dalam menjalani hubungan. Persetujuan dalam melakukan hubungan seksual dapat meminimalisir tuduhan telah terjadi kekerasan seksual. Jika tidak ada persetujuan di awal dan sepasang kekasih telah melakukan hubungan seksual, ada kemungkinan suatu saat salah seorang melaporkan bahwa ia telah mendapat perilaku kekerasan seksual. Padahal adanya kesepakatan yang sesuai dengan syarat-syarat yang sudah disebutkan sebelumnya, menandakan bahwa kedua pihak memang mau melakukan hubungan seksual.

Tidak hanya terbatas pada hubungan seksual saja, aktivitas seperti komentar atau rayuan yang tidak diinginkan, atau suatu tindakan paksa yang mengarah kepada seksualitas seseorang juga bisa dikategorikan sebagai kekerasan seksual jika tidak ada persetujuan.

Sesederhana aktivitas seperti merangkul atau menyentuh bagian tubuh, jika yang bersangkutan merasa tidak nyaman, maka aktivitas tersebut disebut kekerasan seksual. Oleh sebab itu, persetujuan sangat diperlukan tidak hanya hubungan percintaan namun juga kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan bertanya tentang hal seksualitas memang belum lumrah di masyarakat kita. Terkadang batas-batas normatif membuat kita tidak nyaman membicarakan hal ini bahkan secara personal dengan pasangan. Daripada terjerumus ke masalah yang lebih panjang, ada baiknya kebiasan bertanya dalam memastikan persetujuan mulai dimaklumi dan dibiasakan dalam hidup sehari-hari.

Budaya berkomunikasi sudah seharusnya ada sebelum hubungan seksual dilakukan. Bertanya mengenai apakah ingin melakukan hubungan seksual, berani untuk tidak memberikan kesepakatan, memberikan syarat-syarat pribadi apa yang tidak seharusnya dilakukan dalam hubungan seksual, dan lain-lain. Pola pikir yang terbentuk pada kekerasan seksual bahwa hal itu terjadi ketika kekerasan fisik terjadi. Padahal kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan, sudah terjadi hanya semata tidak berkomunikasi mengenai kesepakatan kedua pihak dalam hubungan seksual.

 

Gallus Presiden | Ranessa Nainggolan

Related posts

*

*

Top