Syarat Kelulusan FTI: Memberatkan atau Mengembangkan?

Gedung FTI Unpar. dok/MP

Bagi mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (FTI) Unpar, salah satu syarat kelulusan berupa wajib terkumpulnya 10 sertifikat tentunya sudah tidak asing didengar. Syarat kelulusan ini menuai perdebatan di kalangan mahasiswa. Sebagian setuju adanya syarat ini, sebagian lainnya merasa diberatkan dengan kebijakan ini.

Sertifikat yang dijadikan syarat kelulusan adalah sertifikat geladi, sertifikat SIAP (Inisiasi dan Adaptasi), sertifikat workshop, sertifikat UKM, kepanitiaan, dan lain-lain sesuai dengan peraturan yang ada. Bagi program studi Teknik Industri, sertifikat ini bahkan dijadikan sebagai syarat untuk mengajukan skripsi. 

Tak sedikit mahasiswa FTI yang merasa berat dengan syarat ini. Meski mereka setuju dan mendukung adanya syarat kelulusan ini, mereka juga merasa berat membagi waktu untuk mengikuti suatu kegiatan demi memenuhi syarat kelulusan. Salah seorang mahasiswa Teknik Kimia 2018 menyebut, ia merasa terbebani dengan syarat sertifikat dari UKM.

“Soalnya gua Tekkim (red: Teknik Kimia) jadwal kuliah tuh penuh, belum lagi tugas laporan, jurnal, tugas matkul juga suka mendadak, jadi kadang suka ga ada waktu buat UKM gitu,” jelas mahasiswa yang tak mau disebutkan namanya itu. Jadwalnya yang padat membuatnya kesulitan membagi waktu untuk ikut UKM dan ikut kepanitiaan acara yang merupakan syarat kelulusan.

Ada pula mahasiswa Teknik Industri 2018 yang merasa berat dengan kegiatan UKM yang wajib dari dalam kampus dan organisasi di luar kampus dilarang. Ia juga mengaku keberatan dengan syarat yang kadang berbayar, seperti seminar dan geladi. 

Salah satu mahasiswa Teknik Industri 2018 juga menyuarakan hal yang sama. Ia mendukung syarat kelulusan ini, tetapi mengaku kesulitan membagi waktu untuk masalah sertifikat UKM. 

Menurutnya, tujuan adanya syarat kelulusan ini sudah baik. Mendorong mahasiswa untuk belajar berorganisasi dan meningkatkan pengalaman kerja dalam tim. Pengalaman ini juga nantinya akan sangat berguna ketika mahasiswa terjun ke dunia kerja. “Kalau kebijakan ini ga diterapin, gua yakin banyak mahasiswa yang ga akan pernah ikut proker karena males dan sebagainya,” ujarnya.

Tony Handoko, selaku Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Teknologi Industri menyebutkan, adanya syarat kelulusan ini sudah berlangsung sejak tahun 2016. Namun khusus untuk TI, sudah dilaksanakan sejak tahun 2013. Tujuan sebenarnya adalah untuk mengantisipasi munculnya aturan dari pemerintah mengenai surat pendamping ijazah. “Sebenarnya ini muncul karena memang ada aturan dari pemerintah bahwa harus ada surat keterangan pendamping ijazah,” jelas beliau ketika ditemui di ruangannya.

Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) merupakan rekam jejak mahasiswa ketika menjalani perkuliahan serta dokumen yang berisi semua prestasi dan sertifikasi yang nantinya akan dicantumkan di CV. Hal ini diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 81 tahun 2014 mengenai ijazah, sertifikat kompetensi, dan sertifikat profesi pendidikan tinggi. Peraturan tersebut diturunkan dari UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi serta Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 2014 mengenai Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi.

Pada peraturan, jelas ditekankan, bahwa selain mengenai capaian pembelajaran, SKPI juga terdiri dari rekap aktivitas mahasiswa selama di kampus, seperti seminar dan workshop yang pernah diikuti, serta kegiatan organisasi mahasiswa. SKPI ini bersifat wajib, seperti dikatakan pada pasal 44 ayat 1 sampai 3 UU Nomor 12 yang mengharuskan setiap perguruan tinggi memberikan sertifikat untuk setiap lulusannya.

Menurut Tony, syarat kelulusan ini sama sekali tidak bertujuan untuk memberatkan mahasiswa. Justru sebaliknya, syarat ini dibuat dengan ketentuan untuk mempermudah. “Saya selalu menyusunnya bukan berdasarkan apa yang harus dipenuhi mahasiswa, tetapi yang sebenarnya saya lihat. Biasanya anak-anak di tahun pertama ikut apa, sih? Tahun kedua ngapain? Tahun ketiga?” tutur beliau. 

Ketika lulus nanti, dengan adanya sertifikat yang membuktikan kegiatan mahasiswa tersebut selama perkuliahan, diharapkan bisa menjadi nilai tambah di dunia kerja nantinya. “Kita memilihnya itu yang paling minimum yang bisa diikuti oleh mahasiswanya,” ujar Tony.

 

Agnes Zefanya, Debora Angela || Brenda Cynthia

*

*

Top