Sungai Mekong Di Antara Perbatasan Kekuasaan

Sungai Mekong Di Antara Perbatasan Kekuasaan

Sumber foto: britannica.com
Oleh: Maria Christina Septania Anis Putri

Air merupakan sumber terpenting bagi manusia disamping kebutuhan akan oksigen. Tidak hanya itu, air juga merupakan dasar kehidupan manusia karena manfaatnya sebagai sanitasi, menjaga sumber bahan makanan yang berasal dari industri agrikultur, juga untuk memelihara sumber energi. Pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk di suatu negara sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan air. Oleh karena itu, manusia memiliki kewajiban untuk menjaga dan melestarikan kehidupan yang memiliki kaitan langsung dengan air, sungai merupakan salah satunya. Pentingnya kewajiban manusia untuk menjaga sungai sebagai sumber kehidupan menjadi dasar dibuatnya tulisan ini yang secara khusus akan mengangkat permasalahan terkait air di Sungai Mekong.

Sungai Mekong merupakan sungai yang mengaliri beberapa negara di Benua Asia, seperti Tiongkok, yang merupakan negara yang menjadi lokasi bagian atas dari aliran Sungai Mekong ini, atau yang biasa disebut sebagai “Lancang”. Sungai ini juga mengaliri negara–negara ASEAN seperti Thailand, Kamboja, Myanmar, Laos, dan Vietnam. Kebutuhan mendasar manusia seperti memperoleh sumber air, makanan dan transportasi menjadikan negara-negara di sekitar Sungai Mekong harus menggantungkan hidupnya pada sumber air tersebut. Penggunaan energi alternatif hidroelektrik yang memanfaatkan air sebagai energi menjadi salah satu contoh penggunaan air di Sungai Mekong. Meskipun begitu, tujuan asli keenam negara untuk memanfaatkan air sungai dilatarbelakangi oleh keinginan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Tentunya hal ini semakin meningkatkan persaingan diantara negara–negara sekitar Sungai Mekong.

Penggunaan hidroelektrik dipandang lebih menguntungkan ketimbang penggunaan energi yang berasal dari batu bara. Menurut negara-negara tersebut, hidroelektrik merupakan energi alternatif yang bersih dan harganya murah, sehingga akan meningkatkan perekonomian negara. Penggunaan energi ini juga tidak mengotori lingkungan. Akan tetapi, hal ini malah justru mendorong Tiongkok dan Laos untuk membangun bendungan dalam jumlah banyak tanpa mendapat persetujuan keempat negara ASEAN lain yang berada di hilir sungai.

Pembangunan bendungan ini pun merugikan kehidupan di sungai maupun sekitarnya. Selain karena rusaknya kehidupan flora fauna yang menggantungkan diri pada sungai, manusia juga mengalami kerugian, seperti tidak mendapatkan dana penggusuran tempat tinggal yang sesuai. Tidak hanya bagi masyarakat, pemerintah keempat negara ASEAN di hilir sungai pun merasa sulit untuk mengukur volume air yang akhirnya menimbulkan kekeringan.

Bertambahnya jumlah penduduk tentunya akan mendorong setiap negara untuk memenuhi kewajibannya dalam menyediakan air bagi masyarakat. Persaingan negara–negara di sekitar aliran Sungai Mekong dalam menjaga kehidupan sungai ataupun melakukan pembangunan bendungan menjadikan mereka terlibat dalam konflik perselisihan antar satu dengan yang lainnya. Konflik akibat kekeringan di Sungai Mekong yang disebabkan oleh pembentukan bendungan oleh Tiongkok dan Laos dapat diselesaikan dengan mengadakan kerja sama dan diskusi antar negara. Namun jika diperhatikan, seharusnya setiap negara melakukan diskusi sebelum mengambil tindakan masing–masing seperti yang dilakukan oleh Tiongkok dan Laos.

Agar dapat memahami kasus ini dengan lebih baik, maka dapat digunakan teori konstruktivisme yang diusung oleh Alexander Wendt. Konstruktivisme merupakan sebuah teori yang menyatakan bahwa hubungan aktor merupakan hasil dari konstruksi sosial.  Menurut para pakar konstruktivis, hal–hal seperti identitas budaya, kepentingan, maksud, dan bahasa akan mendorong terjadinya konstruktivisme serta menentukan kemana arah hubungan aktor, akankah menjadi persahabatan atau permusuhan. Namun, Wendt lebih berfokus pada empat variabel yang diusungnya untuk menentukan hubungan antar aktor, yakni hubungan saling ketergantungan, kesamaan nasib, kesamaan identitas, dan sikap menahan diri yang dilakukan oleh para aktor dalam suatu konflik.

Menurut Wendt, ketergantungan antar aktor dipengaruhi oleh interaksi yang dilakukan para aktor sendiri. Semakin erat interaksi antar aktor maka ketergantungan satu aktor dengan aktor lainnya akan bertambah. Ditambah dengan eratnya interaksi antar aktor akan membuat pilihan salah satu aktor juga memiliki dampak bagi aktor lain yang terlibat. Kedua, yaitu kesamaan nasib dimana aktor-aktor bersatu karena mengalami kesamaan nasib dalam bertahan hidup sebagai satu kesatuan dalam kelompok. Adanya kesamaan identitas turut mempengaruhi hubungan aktor karena kesamaan ini mengurangi perbedaan antar aktor. Hal ini membuat setiap aktor melihat satu dengan yang lain sebagai satu kelompok. Terakhir, sikap menahan dirilah yang dapat menjaga hubungan aktor. Menahan diri dilakukan untuk menghargai perbedaan yang ada antara para aktor yang terlibat.

Apabila dikaitkan dengan berbagai fakta, konflik yang terjadi disini merupakan hasil dari adanya konstruksi sosial. Dalam hal ini, Tiongkok dan Laos masih membangun bendungan tanpa mendiskusikan terlebih dengan negara-negara hilir terlebih dahulu. Jika dilakukan diskusi diawal, mungkin konflik ini tidak akan menjadi permasalahan yang besar. Negara–negara ini pun terlihat masih memiliki ketergantungan antara satu dengan yang lainnya, meskipun masing–masing memiliki kepentingan sendiri. Tiongkok dan Laos memiliki kepentingan pada pembangunan kekuatan hidroelektrik, khususnya bagi Tiongkok yang memiliki kebutuhan air yang besar terkait jumlah populasinya yang besar. Kamboja berfokus pada industri perikanan yang menjadi dasar bagi pendapatan GDP (Gross National Product) milik mereka. Berdasarkan data yang diambil dari European Parliament, bendungan akan merusak habitat asli di sungai dan mempersulit kawanan ikan yang akan melakukan migrasi. Selanjutnya, Vietnam dan Thailand juga memiliki kepentingannya sendiri, yaitu menopang industri agrikultur. Sebagai tambahan, negara-negara ini masih memiliki ketergantungan dalam perdagangan antara Tiongkok, Myanmar, Thailand, dan Vietnam juga karena Tiongkok merupakan investor bagi Kamboja, Laos, dan Myanmar.

Jika dilihat dari persamaan identitas, negara-negara hilir Sungai Mekong merupakan negara anggota ASEAN. Keempat negara juga masih memiliki kekurangan pada perekonomian dan memiliki ketergantungan pada bantuan negara asing. Negara–negara anggota ASEAN ini masih mengharapkan adanya bantuan yang berasal dari negara–negara Barat untuk mengatasi ketergantungan terhadap suplai air Tiongkok. Persatuan keempat negara ASEAN, yakni Kamboja, Laos, Thailand, dan Vietnam dapat dilihat dengan dilakukannya kerja sama berupa MRC (Mekong River Comission) pada tahun 1995. Namun dalam kerja sama ini, Tiongkok hanya menjabat sebagai partner diskusi. Hal ini turut menjadikan negara tersebut tidak terlalu memiliki keterkaitan di dalam diskusi. Tidak hanya Tiongkok, Laos sebagai salah satu negara ASEAN juga tetap meneruskan pembangunan bendungan di wilayahnya.

Pada akhirnya, diskusi ini tidak terlalu memberikan hasil. Tiongkok lalu hadir dengan mengusung forum alternatif bernama Lancang-Mekong Cooperation Mechanism, guna membahas kerja sama antar negara dalam membahas Sungai Mekong serta berbagai kepentingan lain. Platform antar pemerintah yang didirikan pada 2016 ini bertujuan untuk mendorong kerja sama regional bagi negara-negara kawasan Sungai Mekong. Namun, dikatakan pula bahwa terdapat kemungkinan Tiongkok menggunakan LMC sebagai cara untuk mencapai kepentingannya sendiri dalam melakukan kontrol terhadap Sungai Mekong. Tentu saja semua negara memiliki kepentingannya masing-masing yang ditujukkan untuk memajukan masyarakat dan wilayah mereka. Suatu kepentingan negara tetap dapat tercapai dengan baik apabila satu negara dapat bekerja sama dalam menyelesaikan berbagai konflik.

Selain memiliki kesamaan identitas, negara–negara ini juga memiliki kesamaan nasib sebagai negara yang terletak di bagian bawah Sungai Mekong. Kekeringan yang disebabkan oleh bendungan buatan Tiongkok dan Laos tentunya menambah kesulitan bagi keempat negara hilir. Selain itu, terdapat juga ketakutan terkait konflik antar Tiongkok dan Vietnam mengenai Laut China Selatan. Negara–negara ini dapat dikatakan memiliki musuh yang sama, yaitu Tiongkok, dimana Tiongkok ditakutkan akan mengambil keuntungannya sendiri dari penggunaan air di Sungai Mekong.

Ketiga hal yang telah dipaparkan dapat mendorong terjadinya kerja sama untuk melakukan penyelesaian konflik air di Sungai Mekong. Tetapi masih ada satu faktor yang dapat menjadi tambahan, yakni sikap menahan diri. Jika dilihat pada kasus ini, Tiongkok merupakan negara yang menerapkan sikap menahan diri ditambah dengan mengusung forum Lancang-Mekong Cooperation Mechanism. Sikap ini dilakukannya dengan berusaha mematuhi dan menghargai kepentingan negara Sungai Mekong lainnya melalui pembuatan forum Lancang–Mekong Cooperation Mechanism. Jika diperhatikan, sikapnya menahan diri untuk menguasai seluruh kekayaan alam di Sungai Mekong dan dengan membuat forum yang berguna untuk mendukung berbagai kepentingan, maka juga akan melindungi dan mendukung kepentingan Tiongkok sendiri.

Berbagai manfaat yang dapat diberikan oleh air membuatnya menjadi hal yang paling dibutuhkan oleh manusia untuk memenuhi kehidupan sehari–hari. Sungai Mekong dalam hal ini merupakan sumber kehidupan keenam negara di sekitarnya. Kebutuhan primer seperti gizi yang diperoleh dari makanan, suplai air, sanitasi, dan juga transportasi air diperoleh dari aliran sungai ini. Salah satu sungai terpanjang di Asia ini juga menjadi tempat dikembangkannya penggunaan teknologi alternatif hidroelektrik dengan mengaplikasikan kekuatan dari air Sungai Mekong. Tetapi, kemudahan yang diperoleh dari energi alternatif ini menjadi awal mula permasalahan di antara keenam negara. Masing-masing negara berlomba untuk memperoleh keuntungan seperti melanjutkan pembangunan hidroelektrik yang dipandang sebagai energi yang bersih dan murah, sedangkan di lain pihak terdapat negara-negara yang merasa bahwa hal ini hanyalah merusak lingkungan sungai.

Perseteruan antar negara pun akhirnya membawa konflik tersebut untuk dibahas melalui beberapa forum, salah satunya LMC (Lancang Mekong Cooperation). Melalui platform ini, terlihat masih dapat capai kesepakatan antar negata karena negara-negara tersebut masih memiliki ketergantungan yang kuat antara satu dengan yang lainnya dalam sektor ekonomi. Kelima negara ASEAN Mekong masih memiliki ketergantungan dengan Tiongkok, namun kelima negara juga memiliki ketakutan yang sama akan monopoli yang dilakukan oleh Tiongkok. Sebagai sesama negara anggota ASEAN dan sama-sama memiliki permasalahan kekeringan yang disebabkan oleh pembangunan bendungan, hubungan antar negara akan semakin erat.

Tiongkok pun turut berperan menghargai kepentingan kelima negara dan menahan diri dalam menguasai Sungai Mekong. Melalui hal tersebut, Tiongkok dapat menyelamatkan kepentingan negaranya. Berbagai hal yang telah disebutkan merupakan faktor-faktor yang mendorong terjadinya kerja sama antar keenam negara di Sungai Mekong. Hal penting yang perlu dilakukan adalah komunikasi yang baik dan saling  menghargai antar satu sama lain. Dengan ini terbukti bahwa konflik yang terjadi di Sungai Mekong merupakan hal yang dapat diselesaikan secara bersama-sama.


Daftar Pustaka

Sumber Buku

Hadiwinata, Bob Sugeng. 2017. “Studi dan Teori Hubungan Internasional : Arus Utama, Alternatif, dan Reflektivis.” Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

King, Marcus DuBois. 2016. “Water Security.” In An Introduction to Non – Traditional Security Studies : A Transnational Approach, 2-5. 55 City Road: SAGE Publications Ltd. Accessed Januari 4, 2021.

Wendt, Alexander. 1999. “Social Theory of International Politics.” Cambridge: Cambridge University Press. Accessed Januari 5, 2021. doi:https://doi.org/10.1017/CBO9780511612183.

Sumber Jurnal

Grünwald, Richard. 2020. “Lancang Mekong Cooperation: Present and Future of the Mekong River Basin.” Politické vedy Vol. 23 (No. 2). Accessed Januari 5, 2021. doi:https://doi.org/10.24040/politickevedy.2020.23.2.69-97.

Xing, Wei. 2017. “Lancang-Mekong River Cooperation and Trans-Boundary Water Governance:A Chinese Perspective.” China Quarterly of International Strategic Studies. doi:https://doi.org/10.1142/S2377740017500233.

Sumber Website

Parliament, European. 2018. “Water Disputes in The Mekong Basin .” European Parliament Think Tank. April 17. Accessed Januari 17, 2021. https://www.europarl.europa.eu/thinktank/en/document.html?reference=EPRS_ATA(2018)620223.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *