[Resensi] The Bajau: Suku Bajau, Kehidupan Subsisten yang Terdegradasi

Minggu (18/1) Suasana saat menonton dokumenter "The Bajau" oleh FKPMB

Pada Minggu (18/01) lalu, Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung (FKPMB) mengadakan nonton bareng film dokumenter The Bajau. Dihadiri oleh berbagai Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Universitas di Bandung, seperti Isola Pos dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Jumpa Pers Universitas Pasundan (Unpas). Rangkaian acara sendiri dimulai dengan musikalisasi puisi yang dilanjutkan dengan pemutaran film The Bajau, diakhiri oleh diskusi dengan moderator yaitu Rizza Ikhsan dari Swasembada Literasi dan pemantik diskusi yaitu Meiky W. Paendong dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat.

Film The Bajau (2019) sendiri merupakan film dokumenter karya Dandhy Dwi Laksono dengan bantuan documentary production house Watchdoc. Sebelumnya, telah ada dua film dokumenter terlebih dahulu mengenai suku Bajau, berjudul Bajau Laut: Nomads of the Sea (2008) dan film pendek The Call From The Sea (2016). Film The Bajau ini sudah tayang terlebih dahulu pada festival budaya Indonesia di Hamburg bertajuk Pasar Hamburg.

Suku Bajau dan Laut Sebagai Rumah

Film The Bajau menceritakan tentang Suku Bajau dan segala aspek kehidupannya dari dulu hingga sekarang. Suku Bajau tersebar pada perairan Indonesia di sekitar pulau Sulawesi, salah satunya di daerah Konawe Utara. Suku ini dikenal “hidup hingga mati” di laut. Artinya, sebagian besar bahkan sepanjang hidupnya dihabiskan dan digunakan di wilayah laut. Sehingga gelar pengembara laut tersemat dalam diri mereka hingga sekarang.

Mereka memang nomaden tapi pasti punya asal-usul. Di mana asal-usul mereka, itu masih pertanyaan” jelas Phillippe Grange, ahli linguistik dari Universite La Rochelle, Perancis. Namun, ada perbedaan pandangan dengan ahli linguistik lain dari University of Hawaii, Robert Blust yang memberikan sedikit penjelasan bahwa Suku Bajau berasal dari Bariro dan mulai melaut pada tahun 800 Masehi, seiring dengan berkembangnya Kerajaan Sriwijaya.

Banyaknya film dokumenter yang menceritakan suku Bajau tidak lepas dari keunikan mereka. Salah satunya mereka seperti hidup “sepiring” dengan laut. Mereka mempunyai mata pencaharian di laut sebagai hal utama dan mungkin satu-satunya, yaitu sebagai nelayan. Namun, mereka sama sekali tidak merusak alam. Hingga sekarang, mereka masih menggunakan alat-alat tradisional untuk menangkap ikan dan berbagai binatang laut lainnya, salah satunya dengan Spear Gun. Kehidupan mereka di laut membuat mereka sangat mahir dalam menyelam. Mereka bisa melakukan free diving hingga kedalaman 230 kaki dan hanya menggunakan wooden googles sebagai alat bantu. Tak jarang, mereka merusak gendang telinga mereka semasa muda agar memudahkan penyelaman. Mereka juga hanya ke darat untuk mengisi bahan bakar atau berlindung sejenak saat hujan deras.

Keunikan tersebut menarik minat calon doktoral di Universitas Copenhagen, Melissa Iladro untuk melakukan penelitian. Ia mendapatkan fakta bahwa suku Bajau telah beradaptasi secara genetis, terutama pada bagian limpa. Ukuran Limpa atau hati orang Bajau termasuk spesial (lebih besar). Setelah diteliti dan dianalisa, ditemukan bahwa terdapat gen khusus pada DNA orang bajau yaitu PDE10A yang berhubungan dengan ukuran limpa.

Didukung oleh kondisi sudah menjadi penghuni laut sepanjang hidupnya, menyebabkan Suku Bajau memiliki kepercayaan sendiri. Salah satu implementasinya yaitu memberikan persembahan kepada “Embo Dilaut”, yaitu the God of The Sea sebagai bentuk terimakasih. Melekatnya Suku Bajau dengan laut yang mereka anggap rumah menyebabkan menurunnya kesejahteraan mereka dikarenakannya kelestarian laut yang turut menurun.

Punahnya Mata Pencaharian dan Oligarki Sumber Daya Alam

Seiring berjalannya waktu, kondisi lingkungan alam di Indonesia perlahan memburuk. Salah satu degradasi kelestarian tersebut terjadi pada laut di Indonesia. Hal ini berimplikasi ke mereka yang menggunakan laut sebagai tempat mata pencaharian bahkan tempat tinggal. Suku Bajau merasakan dampak dari hal ini. Dalam hal ini, korporasi perusahaan menjadi salah satu “dalang” utama selain globalisasi. Suku Bajau yang menangkap ikan dengan metode tradisional kalah jauh dengan kapal-kapal yang menangkap ikan dengan jala besar. “Dulu, saya bisa mencari ikan didekat-dekat daratan. Sekarang harus ke tengah laut” kata salah seorang Suku Bajau dalam film the Bajau.

Pemerintah yang melihat kehidupan Suku Bajau serba nomaden, lantas memberikan rumah agar mereka bisa menetap dan bisa dianggap sebagai warga negara suatu negara terkait. Saat ini, telah didirikan beberapa desa untuk para Suku Bajau. Salah satu desa yang terkenal adalah Desa Mola. Namun, disediakannya tempat tinggal bukan berarti menyelesaikan permasalahan Suku Bajau.

Ketika para Suku Bajau mulai menetap di daratan, beberapa dari mereka mencari mata pencaharian lain selain melaut. Namun, mereka terkena kendala karena Suku Bajau hanya sedikit yang menempuh pendidikan, bahkan banyak yang kemudian kembali melaut karena tidak adanya biaya untuk bersekolah. Hal itu kontradiksi saat mereka menginginkan mata pencaharian lain, karena mengharuskan adanya ijasah. “Saya tanya, bisa kerja disini nggak? Katanya, harus berpendidikan. Saya kan hanya melaut ya selama ini, jadi mana bisa.” Tutur seorang Suku Bajau di film the Bajau.

Kesulitan Suku Bajau yang terlihat pada film The Bajau kembali dikritisi oleh Meiky W. Paendong, bahwa ini merupakan bentuk perampasan ruang bagi Suku Bajau. Salah satu pelakunya adalah pemerintah. “Ini sebenarnya oligarki pemerintah yang dilakukan oleh korporasi-korporasi setempat, baik didarat maupun dilaut. Sebagai contoh, korporasi tambang didaerah tersebut.” Tutur Meiky. Adapun Walhi sebagai salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Non-Government Organization (NGO) selalu bergerak untuk memperjuangkan kedaulatan selaku rakyat dan warga negara dinegara yang kapitalis ini. “Bahwa rakyat punya kedaulatan untuk pengelolaan sumber daya alam”, kata Meiky sembari memberikan pandangannya bahwa seperti yang terlihat di film The Bajau, Suku Bajau mengalami degradasi kehidupan baik didarat maupun dilaut.

Film dokumentasi The Bajau ini merupakan tambahan dari serangkaian kritik sosial yang dilakukan oleh Dandhy Laksono dan Watchdoc pada beberapa tahun terakhir. Setelah Sexy Killers dan Asimetris, The Bajau hadir sebagai kritik berlapis terhadap pihak-pihak yang berwenang: bahwa pemerintah terkadang terlalu dini menganggap mereka dengan budaya berbeda sebagai pihak yang patut dikasihani, dan bahwa pemerintah terlalu gampang memberikan izin bagi perusahaan-perusahaan tambang–utamanya tambang batu bara–tanpa memperhatikan dampaknya terhadap manusia di sekelilingnya.

Alfonsus Ganendra | Novita | Muhammad Naufal Hanif

*

*

Top
Atur Size