Memetik Daun, di Kebun Teh Berkabut Hutang

FEATURE, MP – Mahasiswa yang tinggal di kota seperti kita terkadang perlu mencoba hidup dengan kondisi yang bertolak belakang, seperti tinggal di desa. Gladi sosial, kegiatan dari Lembaga Pengembangan Humaniora (LPH) menjadi salah satu wadah untuk mahasiswa merasakan apa yang selama ini tidak mereka rasakan. Salah satu lokasi gladi sosial terletak di desa Warnasari, Pangalengan. Terletak di selatan Soreang, di bawah hamparan kebun teh milik PT Perkebunan Nusantara VIII.

Masyarakat desa ini sebagian besar bekerja di ladang dan kebun teh. Dengan kata lain, mereka bekerja sebagai buruh PT Perkebunan Nusantara VIII, baik tetap maupun lepas. PT Perkebunan Nusantara VIII adalah perusahaan milik pemerintah yang memproduksi teh siap konsumsi. Mulai dari memetik pucuk teh, sampai menjadi teh kering yang siap diseduh, atau kemudian dikirim ke pabrik-pabrik minuman teh kemasan sebagai bahan produksi mereka.

Kegiatan harian mereka dimulai pukul 6 pagi, ketika sapi tetangga masih mendengkur lelap, ketika bukit di sisi barat rumah masih berselimut kabut dan ketika selesai di tengah hari, mereka bergegas kembali ke rumah untuk bertemu dengan sanak saudara dan tetangga-tetangga.

Rumah dengan dinding anyaman bambu menjadi tempat mereka bersantai sebentar di siang hari, juga menjadi tempat bercengkrama berbincang hangat ketika dingin malam mulai memeluk rumah mereka yang tidak seberapa besar. Perbincangan malam diselingi seruputan susu hangat hasil dari memeras sapi tadi siang tidak jauh dari perihal sederhana seperti meriahnya pasar malam, atau sekedar mengomentari tayangan sinetron penuh drama yang menjadi hiburan mereka tiap malam.

Di dalam rumah itu, ada seorang bapak paruh baya bernyanyi lirih menghantar anak bungsunya yang hendak tidur. Istrinya yang sehari-hari bekerja di warung tiga ratus meter dari rumah sedang merapikan baju-baju yang sudah disetrika. Seorang remaja laki-laki bermain gitar memainkan lagu-lagu Noah di kamar karena tidak mau mengganggu adik kecilnya yang sudah mulai terlelap. Dinamika sederhana ini menjadi pengalih perhatian akan utang-utang bank dan nasib keluarga ini beberapa tahun kedepan.

Hidup dengan gaji satu setengah juta perbulan memang sangat pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari. Belum lagi untuk kebutuhan sekunder seperti anak mereka yang masih kecil merengek minta chiki, atau sekedar beli lauk lebih demi memanjakan perut mereka sesekali. Apalagi untuk pekerja yang akan pensiun dalam waktu dekat, mereka harus menyisihkan uang untuk tabungan masa depan. Karena sejak 2014, para pekerja yang pensiun tidak mendapat tunjangan pensiun mereka.

Hal ini disampaikan oleh Saipudin, seorang pekerja kebun teh yang kini lebih banyak bekerja di pabrik ketimbang di kebun, karena tenaga yang sudah tidak bisa diajak kompromi dimakan usia. “Tunjangan pensiun bisa sampai 47 juta, tergantung lama dia kerja. Dulu sebelum 2014 cuma satu tahun langsung cair, yang sekarang belum cair-cair,” ujar Saipudin dengan nada cemas karena 2 tahun lagi beliau harus pensiun karena batas usia.

Lebih dari lima ratus pekerja yang pensiun sejak 2014 belum diberi uang tunjangan pensiun. Bukan hanya itu, uang bonus tahunan yang bisa mencapai sembilan juta pertahun juga tidak dibayarkan. Begitupula uang cuti yang biasanya menjadi pemasukan yang lumayan untuk para pekerja. Saipudin pun mengatakan jika dihitung-hitung utang perusahaan bisa mencapai tiga ratusan miliar. Hal ini tentu membuat pekerja PTP Nusantara VIII cemas akan masa depannya.

Fasilitas pendidikan di desa yang hangat akan kebersamaan antar warganya ini tidak seberapa. Membuat mereka tidak memiliki pilihan lain selain bekerja sebagai pekerja kebun atau ladang. Namun dengan pekerja yang sedikit demi sedikit diberhentikan, membuat warga tidak bisa bergantung pada pekerjaan ini.

Selama ini para pekerja dan mantan pekerja hanya berpasrah akan keadaan mereka. Hanya atasan-atasan mereka dan Tuhan yang tahu kenapa tunjangan-tunjangan itu belum mereka terima. Tidak pernah ada demo atau protes kepada atasan mereka, hanya obrolan dan keluh kesah antar pekerja di tengah-tengah mereka bekerja.

“Kalau sampai 2020 utang-utang ini belom perusahaan bayar, saya siap ke Bandung dateng ke kantornya, saya sudah sepakat sama orang-orang sini,” kata Saipudin. Dengan tidak adanya serikat kerja di antara mereka, membuat gerakan menuntut hak mereka menjadi sekedar angan-angan.

Indikasi bangkrut memang terlihat dari fisik pabrik itu sendiri. Terlihat rangka struktur bentang lebar khas bangunan pabrik yang sudah telanjang dan membiarkan angin melewatinya dengan leluasa. Rangka tersebut sudah berkarat dan lantainya sudah tumbuh alang-alang. Dulu pabrik ini dalam sehari dapat menghasilkan sampai enam puluh ton. Ketika itu pekerja di kebun teh memetik pucuk teh manual dengan tangan, sekarang semua sudah beralih menggunakan alat.

“Sekarang satu orang bisa bawa delapan ton, tapi itu pakai gunting. Dulu saya metik pake tangan cuma bisa empat ton, tapi yang saya petik emang ujungnya aja. Kalau pakai gunting kan daun yang udah tua juga ikut keambil,” jelas Saipudin sembari meratakan tumpukan daun teh yang baru saja diturunkan dari truk. Saat ini pabrik hanya bisa menghasilan sekitar empat puluh ton dalam sehari, dengan catatan bahwa teh yang dipetik sudah menggunakan bantuan alat.

Petinggi PTP Nusantara VIII sudah diganti beberapa kali sejak 2014, tapi tetap tidak membawa kejelasan akan utang-utang perusahaan. Pemerintah juga menutup mata dan mulut seolah semuanya baik-baik saja. Para calon DPRD yang kampanye ke desa ini juga tidak ada satu pun yang membawa jalan terang untuk para pekerja. Semoga orang-orang yang berkuasa segera bangun dan turun tangan menjamah para pekerja yang dirampas haknya ini.

GALLUS PRESIDEN

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *