Simpang Siur Aturan Titip Kunci

STOPPRESS MP, UNPAR – Praktik valet (titip kunci) sempat dinyatakan illegal sebab tidak tercantum di dalam MOU antara Unpar dan Secure Parking. Namun, menurut keterangan pihak secure parking, ketentuan titip kunci terdapat di dalam Local Operational Procedure (LOP) yang digunakan sejak 2011. LOP itu pun menjadi dasar praktik titip kunci yang masih berlangsung saat ini.

“Nih ada (red. poin 1.6 dalam LOP) memungut uang titip kunci sesuai yang telah ditentukan. Dulu, bersama Bawono (red. mantan Ketua BSP), titip kunci digodok lama dan dituangkan ke dalam LOP,” ucap Rudi Sucipto selaku Car Parking Manager (CPM) Secure Parking Unpar saat ditemui MP di kantornya pada Kamis (6/10) lalu.

Rudi menambahkan bahwa penggunaan istilah valet kurang tepat bahkan terlalu meriah. Menurutnya, istilah yang seharusnya digunakan mengacu pada LOP yaitu titip kunci. “Valet tidak murah, harganya Rp 25.000,00 ke atas. Disini titip kunci Rp 5.000,00 sudah murah super dunia. Sebenarnya, mana mau keluar keringet keliling dan masukin mobil dengan rapihnya,” tambahnya.

Pada acara Sore Bersama (Sobers) yang diselenggarakan oleh Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) Unpar pada Kamis (1/9) lalu, Roni Sugiarto selaku kepala BSP menyatakan valet parking tidak ada dalam kontrak maupun lembaga secure parking.

Menurutnya, bagaimanapun juga tidak ada kontrak dan standar operasional (SOP) yang mengatur mengenai layanan tersebut. “Valet Parking itu tidak ada di dalam kontrak antara Unpar dan Secure Parking,” ucap Roni Sugiarto. (Baca juga : Tidak Ada Dalam MOU, Valet Parking Illegal?)

Pihak secure parking sampai saat ini masih menggunakan LOP yang belum diperbaharui sejak Catharina Tan Lian Soei menjadi Wakil Rektor Bidang Sumberdaya. Meskipun kini dilarang, Rudi menjelaskan pelarangan itu hanya sebatas lisan, tidak pernah dibuat tertulis. “Titip kunci masih ada karena LOP yang lama masih berlaku,” ucapnya.

Terkait titip kunci yang menggunakan member, Rudi pun mengaku hal itu memang dilarang dalam LOP. Meskipun demikian, ia menganggap member hadir atas keinginan mahasiswa terutama yang lebih memilih membayar per bulan. “Kalau member kan itu hukum di lapangan buat mahasiswa yang malas atau ribet ngeluarin uang,” ucapnya.

Selain itu, Rudi juga beranggapan bahwa sistem titip kunci hadir lantaran menyesuaikan dengan kapasitas parkir Unpar yang terbilang minim. Berdasarkan data secure parking, kapasitas parkir mobil mahasiswa mengalami penurunan.

Untuk seri, pararel, dan serong Basement 2 Gedung 10 sebanyak 48 dan Rektorat sebanyak 82. “Kalau gak dititip kunci ya repot. Mereka mau parkir gimana karena memang space-nya gak ada. Petugas hanya menjalankan aturan dan keputusan,” ucapnya.

VINCENT FABIAN

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *