Respon Somasi Mahasiswa, Yayasan Adakan Dialog Mencari Solusi

Setelah dikirimkannya somasi oleh dua mahasiswa hukum 2012, Richard Sianturi dan Leo Pangaribuan, Yayasan Unpar adakan diskusi terkait pembangunan Pusat Pembelajaran Arntz-Geisse (PPAG). Diskusi tersebut dilaksanakan untuk mencari solusi dari keluh kesah mahasiswa saat dilaksanakannya pembangunan. Dialog diadakan pada Jumat (4/12) di Gedung Rektorat Lantai 2.

Iwan Supriadi selaku Ketua Yayasan mengungkapkan perasaannya saat dua mahasiswa melayangkan somasi. “Saya pribadi tidak senang dengan istilah somasi, namun ini hak mahasiswa untuk melayangkan somasi,” ujarnya. Dalam pengantar, ia menyebutkan bahwa apa yang diutarakan mahasiswa dalam substansi somasi tersebut sudah menjadi pemikiran pihak yayasan dalam berjalannya pembangunan.

Dalam dialog mencari solusi tersebut, yayasan akui tidak dapat mengabulkan semua gugatan yang dilayangkan mahasiswa terhadap keamanan dan kenyaman pembangunan PPAG. Menanggapi permasalahan crossing antara mahasiswa dan truk pembangunan, pihak yayasan akan melakukan rekayasa akses keluar masuk Unpar yang dijanjikan dilaksanakan pada bulan Januari 2016.

Terkait pemberhentian pengerjaan pembangunan pada jam-jam kegiatan mengajar, tak dapat dikabulkan. Menurut pihak yayasan pemberhentian jam kerja tersebut akan memakan waktu lebih banyak untuk menyelesaikan pembangunan PPAG. Pihak yayasan menargetkan penyelesaian pembangunan akan dirampungkan dalam kurun waktu 36 bulan.

Diskusi tersebut membahas pula mengenai area kampus yang berdebu dan becek. Namun yayasan menyebutkan untuk masalah debu dan becek merupakan tanggung jawab dari kontraktor. Sehingga solusi yang diberikan apabila mahasiswa melihat tidak adanya tindakan dari kontraktor untuk menyiram atau membersihkan yang becek, dapat segera menghubungi tim PPAG untuk tindakan lebih lanjut.

Diskusi dilanjutkan dengan mencari solusi mengenai dampak-dampak lain pembangunan bagi kesehatan serta kenyamanan mahasiswa.

Menanggapi respon yayasan tersebut, Richard Sianturi (FH 2012), selaku perwakilan pemberi somasi menyesali adanya somasi yang dilayangkan kepada yayasan dan sempat akan diajukan ke Pengadilan Negeri. Menurutnya dari semua diskusi tidak ada tanggapan yang berarti dan perlindungan mahasiswa dianggap tidak penting. “Yang ingin ditekankan dalam somasi adalah bagaimana pembangunan kampus dapat berjalan dengan menghargai semua pihak yang ada didalamnya. Somasi Ini adalah cara terakhir untuk dapat berdialog dan mencari solusi,” ujarnya.

Diskusi dihadiri oleh ketua yayasan, perwakilan yayasan, tim pembangunan PPAG, pihak rektorat, perwakilan mahasiswa dari LKM, MPM, dan perwakilan himpunan-himpunan. Sebelumnya, diskusi mengenai pencarian solusi atas dampak pembangunan sudah beberapa kali dilaksanakan dengan nama SOBERS yang dilaksanakan pada 1 Oktober 2015 dan 10 November 2015.

KRISTIANA DEVINA

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *