Ini Alasan Jogun Memutuskan Berhenti Sebagai Ketua Senat Universitas

STOPPRESS MP, UNPAR – Johannes Gunawan resmi berhenti dari posisi ketua senat universitas. Pembangunan gedung baru dan penyusunan statua jadi alasan dirinya memutuskan untuk berhenti dari jabatannya pada Kamis (30/4) lalu.

Pria yang juga bekerja di DIKTI (Direktorat Jendral Perguruan Tinggi) dan dosen Hukum itu memiliki sejumlah alasan terkait keputusannya. Salah satunya menyinggung pembangunan gedung baru. “Harus didasarkan pada kebenaran bukan kekuasaan,” kata Jogun, panggilan akrabnya ketika ditemui di ruangannya yang terletak di Gedung 2 lantsi 4, Senin (4/5). (Baru Menjabat 2 Bulan, Ketua Senat Menyatakan Berhenti)

Menurutnya, pembangunan gedung harus didahului dengan penetapan rencana induk pengembangan (RIP) yang jelas. Hal itu pernah disampaikannya dalam surat terbuka kepada Uskup Bandung. Namun, ia menyebutkan bahwa pihak yayasan (pengurus, pembina, dan penasihat) didukung Uskup tetap melanjutkan walaupun ia telah mengajukan sejumlah fakta. “Saya hanya mengharapkan satu kalimat saja dari beliau (Uskup.red.), susun RIP dulu sebelum membangun, titik!” tegasnya. (Ketua Senat Universitas: Saya Keberatan Dengan Pembangunan Gedung Baru)

Ia juga menilai bahwa pengalaman yang dimiliki Uskup dan yayasan dalam mengelola perguruan tinggi (PT) terbilang kurang. Menurutnya, membangun universitas tidak dapat disamakan dengan membangun sekolah SD-SMA. Sebab, harus memahami kebutuhan tiap program studi yang berbeda-beda.

Ia juga menyesalkan keputusan tersebut diambil atas dasar kekuasaan bukan kebenaran (RIP). “Ya, sudahlah saya maklum silahkan saja, saya tidak mau ikut campur,” ujar Jogun. “Saya menyesal bahwa itu menjadi contoh yang luar biasa buruknya bagi mahasiwa. Dan kekuasaan sudah ditunjukkan di perguruan tinggi,” katanya.

Selain pembangunan, Johannes juga menunjukkan kekecewaannya soal penyusunan statuta (UU perguruan tinggi.red) Unpar. Hal itu terjadi lantaran dirinya terlibat dalam tim penyusunan dan sosialisasi konsep statuta untuk seluruh PTS (Perguruan Tinggi Swasta) di seluruh Indonesia.

Dengan berbekal pengalamannya saat ikut menyusun peraturan pemerintah (PP), peraturan menteri (Permen), dan UU universitas, ia mengaku sempat mengetik sendiri isi statuta Unpar. Hal itu menjadi pertimbangannya dibanding membiarkannya dikerjakan orang lain. Namun, sewaktu menjadi ketua tim penyusunan statuta Unpar, ia berujar dirinya boleh dikatakan diberhentikan. “Pak Johannes lebih baik sebagai narasumber saja kan lebih terhormat,” ucapnya saat menirukan bunyi ucapan yang disampaikan pada dirinya.

Terkait hal itu, ia juga menambahkan bahwa yayasan memiliki keinginan yang berbeda dengan statuta yang ia rancang. Perbedaan itu terletak pada keinginan yayasan yang menginginkan kebijakan akademik menjadi tanggung jawab senat sedangkan non-akademik pada yayasan. Namun, ia berpendapat bahwa universitas sepatutnya memiliki otonomi dan rektorlah yang harus merumuskan kebijakan bukan didikte. “Karena itu runcing karena mungkin itu saya diberhentikan karena yayasan tidak memberikan otonomi,” katanya.

Adapun senat universitas baru berjalan tiga periode. Saat pertama dibentuk, Johannes Gunawan sempat menjadi ketua selama 5 tahun. Lalu dilanjutkan Wimpy (Dosen Fakultas Teknik) dan pada periode ini Johannes terpilih kembali. Jogun sendiri baru menjabat sebagai ketua senat universitas selama 2 bulan sebelum memutuskan berhenti. Pemilihan ketua senat yang baru akan dilaksanakan pada 8 Mei 2015.

VINCENT FABIAN

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *