Diskusi KSMPMI : Sisi Gelap Dunia Penegakkan Hukum AS

STOPPRESS MP, UNPAR – Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional (KSMPMI) menyelenggarakan diskusi besar pada Rabu (13/5) di ruang Audio Visual Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP). Tema diskusi itu mengangkat interogasi rahasia dalam bentuk metode penyiksaan yang dianggap legal untuk memperoleh informasi penting demi keamanan negara.

“Kita kan sebenarnya tidak tahu (adanya penyiksaan red.) karena enggak ada berita yang jelas. Dari diskusi ini tuh kita bisa tahu kalo sebenarnya tidak sebersih yang kita tahu,” ujar Farizi Fatwa (Hubungan Internasional 2013) selaku ketua pelaksana diskusi sewaktu ditemui saat acara selesai.

Diskusi ini dibagi ke dalam 4 sesi dan dipandu oleh Imam Assovie (Hubungan Internasional 2013) selaku moderator. Sesi 1 diskusi itu membahas metode penyiksaan oleh CIA yang dianggap efektif sebab dengan memperoleh informasi soal detail kejahatan yang dilakukan, dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa. Namun, hal itu dianggap melanggar moral. Sepanjang sesi 1, terlihat cuplikan gambar maupun video yang menggambarkan metode tersebut.

Di antaranya : Sleep Management (Tangan diikat ke atas dan dibiarkan berdiri selama 180 jam agar tidak tidur), waterboarding (Kepala ditutupi kain dan disiram air untuk membuat suasana tenggelam), dan sexual hummilation (Baik pria maupun wanita ditelanjangi dan dipermalukan).

Sesi dua diskusi itu menggarisbawahi bahwa definisi AS yang menganggap penyiksaan ini tidak berat dan berbahaya sama sekali. Pada sesi tiga membahas dilema AS sebagai negara demokratis antara merusak hukum atau merusak masyarakatnya. Hal itu terangkum dalam sebuah kalimat, “Securing The Few, by protecting the many” dapat diartikan membunuh segelintir orang untuk keamanan orang banyak.

Di sesi terakhir, Diandra Dewi selaku narasumber melontarkan pertanyaan, “Apakah ini sepadan dengan manfaat yang diperoleh?” Menurutnya, hal itu tentu masih belum sepadan dengan tujuannya yang preventif. Ia menambahkan bahwa masih ada penyimpangan berupa implementasi dan dasar hukum serta sejumlah informasi sengaja tidak dipublikasikan sehinnga publik terkesan dibohongi.

Diskusi besar yang berlangsung dari pukul 14.00-16.30 WIB itu diberi judul “Interro(r)gation : The Untold Protocol Report of the CIA.” Menurut informasi yang didapat, panitia pelaksana sengaja menambah huruf ‘r’ di tengah interogasi sehingga dibaca in-tero(r)-gasi. Hal itu dimaksudkan untuk memberi pesan bahwa ada teror dalam bentuk penyiksaan yang lama dirahasiakan lembaga intel AS (CIA).

Diskusi terbuka ini bersifat dua arah. Baik peserta maupun narasumber dapat melontarkan pertanyaan dan saling menanggapi. Oleh karena lingkup HI, diskusi sesekali dibawakan bercampur dengan bahasa Inggris dan Indonesia. Tidak hanya mahasiswa HI, mahasiswa dari berbagai jurusan tampak menghadiri diskusi tersebut.

VINCENT FABIAN

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *