Malah Dicubo, Cita rasa khas Minang di Tanah Sunda

Suku Minang dikenal sebagai suku yang identik dengan kaum perantau.  Banyak orang Minang yang merantau hampir ke seluruh Indonesia, tanpa terkecuali Bandung. Bandung merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang menjadi tujuan para perantau. Tak sedikit para perantau mencari kehidupan yang lebih baik di kota kembang ini. Kehidupan yang lebih baik ini salah satunya didapatkan dengan membuka usaha. Salah satu usaha yang dilakukan perantau minang ini adalah membuka usaha rumah makan Padang. Rumah makan Padang tentunya sudah tidak asing ditelinga kita. Hampir di tiap sudut kota dapat ditemukan rumah makan padang, baik yang berupa warteg kecil-kecilan ataupun yang sudah berupa restoran besar. Namun dari banyaknya jumlah rumah makan Padang yang ada, tidak semua dapat menyajikan rasa otentik yang khas. Banyak rumah makan Padang yang rasanya sudah disesuaikan dengan lidah Sunda. Sehingga, untuk menemukan rumah makan Padang dengan cita rasa khas Minang sulit ditemukan. Hal inilah yang membuat penulis penasaran untuk mencoba Rumah Makan Padang “Malah Dicubo”, yang terkenal dengan cita rasa khas Minangkabau.

Rumah makan Padang yang berlokasi di belakang Stasiun Kereta Bandung di area terminal angkutan umum ini awalnya memang terlihat kurang meyakinkan dikarenakan lokasinya yang cukup terpencil, ditambah lingkungan sekitar yang berdebu. Namun, melihat keramaian dari pengunjung yang berdatangan ke lokasi tersebut membuat rasa penasaran bertambah. Waktu telah menunjukkan pukul 16.00 wib, walau hari sudah sore namun suasana di dalam rumah makan tersebut masih saja ramai dan cukup sibuk.

Nasi dendeng batokok pun menjadi pilihan di sore hari ini. Nasi dengan dendeng cabai hijau disajikan juga dengan daun singkong serta sambal hijau. Dendeng batokok ini berbeda dari dendeng pada umumnya. Tekstur cabai hijau pada sambalnya yang kasar, serta dengan potongan bawang merah yang mendominasi. Proses pembuatannya pun dibuat dengan cara yang unik, yaitu daging sapi tersebut digoreng setengah matang, lalu kemudian di-tokok (yang berarti dipukul dalam Bahasa Minang) hingga empuk, dan kemudian dibakar. Dendeng batokok ini awalnya merupakan resep coba-coba kreasi sendiri. Sempat juga dendeng ini tidak laku di pasaran dan di stop produksinya. Namun, setelah mendapat berbagai masukan dari maka dendeng ini pun kembali lagi ke pasaran.

Untuk mempertahankan cita rasa khas nya, tak jarang beberapa bahan dasar seperti cabai giling dan rempah-rempah didatangkan langsung dari Sumatera barat. Namun, untuk bahan-bahan pelengkap seperti jahe, kunyit, dan bawang-bawang membeli di Bandung saja.

Selain menyajikan makanan dengan cita rasa Minang yang khas, rumah makan ini pun menyajikan minuman-minuman yang cukup unik. Salah satunya adalah Es Timun Cincau. Rasanya yang tidak terlalu manis, disertai serutan timun, dan potongan cincau serta es batu membuat dahaga pun hilang. Selain Es Timun, rumah makan ini pun menyajikan minuman yang asing di telinga yaitu Teh Telor dan Es Tebak. Es tebak dari Malah Dicubo berisikan cendol, cincau hitam, roti, peuyeum, dan agar-agar yang kemudian disiram dengan sirup stroberi.

Berawal Dari Mencoba.

Dendeng Batotok, salah satu menu andalan RM. Malah DIcubo.
Dendeng Batotok, salah satu menu andalan RM. Malah DIcubo.

Sedikit mundur ke belakang, rumah makan yang beralamat di Jalan Stasiun Hall Selatan No. 72 Bandung ini berdiri sejak tahun 1995. Restoran ini diberi nama “Malah Dicubo” yang berarti marilah dicoba karena dilatarbelakangi oleh coba-coba yang dilakukan oleh pemiliknya.

“Arti “malah dicubo” itukan marilah dicoba, jadi dulu orang tua saya bekerja di salah satu pabrik semen di Padang, karena untuk hari tua rasanya gaji itu kurang, mencoba berdagang nasi, mencoba sesuatu yang baru itu makanya itulah asal “malah dicubo”, biasa nggak dagang nasi jadi dagang nasi”, ujar Uda Rudi, salah seorang anak dari pemilik rumah makan “Malah Dicubo” ini.

Setelah selesai mencicipi makanan dan minuman disini rasanya puas sekali. Begitu juga dengan pelayanannya yang baik, walaupun ramai namun makanan diantarkan sampai ke meja oleh pegawai rumah makan tersebut. Satu lagi yang menjadi nilai tambah bagi rumah makan ini, yaitu selalu menjaga kebersihan. Hal itu terlihat dari tempat sendok dan garpu yang berada di meja luar ditutupi oleh plastik untuk menjaga kebersihannya dari debu-debu yang beterbangan.

Kemampuan “Malah Dicubo” dalam mengolah dan meracik bumbu sehingga menciptakan cita rasa yang khas juga menjadikan rumah makan ini selalu dicari-cari. Tak jarang pelanggannya pun berasal dari kalangan mahasiswa, termasuk Mahasiswa Unika Parahyangan (Unpar). Hal ini pula yang membuat “Malah Dicubo” mau bekerja sama dengan Koperasi Keluarga Besar Mahasiswa (KKBM) Unpar untuk membuka cabang nya di Co-op Space yang terletak di halaman Aula UKM Unpar. “Pelanggan kami ini kan banyak anak unpar nya juga, bagus lah kalau ada yang mau bekerja sama. Malah dicubo nya untung, KKBM pun untung, kita pun sama-sama berkembang,” ujar Uda Rudi, lelaki asal Payakumbuh ini.

 

RAHAJENG DEWI ANANDARI

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *