September Hitam: Sebuah Peringatan Kasus Pelanggaran HAM

STOPPRESS MP, UNPAR – Media Parahyangan dan Komunitas Perpustakaan Jalanan menyelenggarakan acara yang bertajuk “September Hitam” di Gedung Serba Guna (GSG) Unpar pada Kamis (18/9). Acara ini adalah bentuk kampanye berbagai peristiwa pelanggaran HAM masa lalu yang belum terselesaikan di bulan September.

“Acara ini tuh bentuk memorabilia untuk kasus pelanggaran HAM di bulan September, bukan berarti berkabung, tapi jadi menjadikan motivasi untuk terus berani memperjuangkan HAM,” kata Kristiana Devina selaku ketua acara September Hitam saat diwawancarai via Line Jumat (19/9). Berbagai peristiwa Pelanggaran HAM telah terjadi di bulan September dalam kurun waktu 50 tahun terakhir. Peristiwa-peristiwa seperti Tragedi 65, Tragedi Tanjung Priok, Peristiwa Semanggi hingga kasus pembunuhan aktivis Munir terjadi di bulan September dan belum diungkap faktanya.

Bekerja sama dengan Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS), acara ini mengangkat media seni sebagai sarana untuk mengkampanyekan HAM. Acara tersebut dimulai pukul 12.00 WIB hingga pukul 22.00WIB. Acara ini diisi pameran karya seni tentang HAM, pertunjukkan seni teaterikal, pemutaran film serta diskusi publik. “Kita ingin ngasih ruang buat mereka yang mau mengkampanyekan HAM lewat seni dan juga bagi mereka yang ingin tahu soal HAM tapi bosan dengan cara-cara diskusi publik pada umumnya,” ujar Devina.

Acara ini juga diisi diskusi santai dengan tema “Nasib Penegakkan HAM di Pemerintahan Jokowi-JK” yang menghadirkan Wanggi Hoediyatno, seorang seniman pantomime dan Alves Fonataba dari KontraS. Dalam diskusi kedua, tema yang diangkat adalah Hak Ekonomi Sosial serta Media Alternatif Perlawanan. Dalam sesi ini, Linggo dari Forum Komunikasi Masyarakat Agraria (FKMA) dan Arman Jamparing, salah seorang seniman di Bandung, menjadi narasumber. “September Hitam ada karena terdapat rentetan peristiwa pelanggaran HAM dan sebagai memorabilia agar kita tidak lupa akan peristiwa itu,” kata Alves Fonataba selaku divisi Kampanye dan Jaringan KontraS saat ditemui di GSG selepas acara.

Acara September Hitam ini tidak hanya menghadirkan sudut pandang pelanggaran HAM masa lalu tetapi juga mengangkat isu-isu pelanggaran HAM yang saat ini sedang terjadi. Isu-isu seperti konflik perebutan lahan dan perlindungan tenaga kerja juga muncul dalam karya yang dipamerkan dan diskusi yang berlangsung. Dalam sesi diskusi, Linggo selaku koordinator Jawa Barat FKMA mengatakan bahwa sarana pertemuan langsung untuk membicarakan isu HAM sudah sangat jarang. “Di zaman yang overloaded information ini diperlukan pertemuan langsung untuk membicarakan langsung masalah HAM yang menjadi visi kita bersama,” ujar Linggo.

Dengan padatnya acara dan jenis kegiatan dalam acara tersebut, Gedung Serba Guna pun terlihat cukup ramai. Acara tersebut tidak hanyha dihadiri oleh mahasiswa dari Unpar tapi juga dari berbagai komunitas dan mahasiswa dari kampus lain di Bandung. Melihat antusiasme pengunjung yang hadir, panitia penyelenggara pun mengaku cukup puas. Adun () yang merupakan salah seorang penyelenggara dari komunitas Perpustakaan Jalanan menyatakan dukungannya pada acara ini. “Bagus lah, masih banyak generasi yang peduli dengan HAM dan terutama kejadian di September Hitam,” ujar Adun seusai acara.

Selain diskusi dan pameran karya, acara juga diisi dengan pemutaran film di antaranya, Payung Hitam, Kiri Hijau Kanan Merah, Kubur Kabar Kabur, Bekasi Bergerak. Tidak hanya pemutaran film, acara ini juga menampilkan pertunjukkan seni. Pertunjukkan itu di antaranya diisi oleh Pantomime Wanggihoed, Pertunjukan seni Act Movedan Pertunjukan seni Burdum. Acara ini juga dimeriahkan oleh lapak-lapak media alternatif dan seni sablon dari komunitas-komunitas independen di Bandung. Di penghujung acara, pengunjung dimanjakan dengan band-band yang hadir. Mereka adalah Teman Sebangku, Ukeba, Nada Fiksi, Tetangga Pak Gesang, Vagina Otoritasku, Masturbasi Distorsi, Super Sucker, The Sickness, 13%, Senja, dan Beling.

VINCENT FABIAN | CHARLIE ALBAJILI

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *