Sosok Calon Rektor: Mangadar Situmorang

Mangadar Situmorang/ Sumber: pemilihanrektor.unpar.ac.id

Pendidikan Bukanlah Bisnis

Sosok seorang Mangadar Situmorang tidaklah asing lagi di kalangan Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Setelah bertahun-tahun mengabdi pada Unpar, Mangadar diangkat menjadi Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unpar pada tahun 2011 sampai sekarang. Dekan kelahiran Samosir tahun 1964 ini awalnya tidak pernah membayangkan menjadi seorang dosen. Terlahir dari keluarga yang agamis dan berlatar belakang pengajar, Mangadar kecil bercita-cita menjadi seorang Pastur. Sedikit demi sedikit cita-citanya ia gapai dengan masuk seminari pada bangku SMP sampai SMA di daerah Pemantang Siantar. Mangadar kecil suka berkeliling jalan kaki bersama Pastur ke Gereja-gereja daerah Danau Toba untuk berkunjung dan membantu warga sekitar. Pada saat masih sekolah kegemarannya adalah melukis. Lukisannya kerap dipajang di sekolahnya dan pernah disuatu acara seorang Pastur dari Belanda meminta Mangadar kecil untuk melukis muka Pastur tersebut. Tetapi karena banyaknya kegiatan, hobi melukis itu mulai ditinggalkan oleh mangadar kecil. Seiring berjalannya waktu, Mangadar kecil gagal melanjutkan cita-citanya sebagai pastur.

Lulus dari SMA ia menyebrangi pula Sumatera menuju Jawa untuk melanjutkan ke bangku kuliah, Mangadar memilih berkuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan Hubungan Internasional.  Setelah menyelesaikan studi S1 nya, ia melanjutkan studi S2 Magister Ilmu Politik di universitas yang sama pula. Tak puas hanya bergelar Magister, Mangadar melanjutkan studinya S3 nya ke negeri sebrang Australia. Atas beasiswa ADS/AusAID,Australia ia memulai satu tahun di Flinders University, Adelaide pada tahun 2003. Kemudian melanjutkan dan menyelesaikan PhD-nya di Curtin University, Perth pada tahun 2007. Pada tahun 2004 Mangadar sempat mengikuti internship di International Conflict Research Institute (INCORE), University of Ulster, London Derry, Irlandia Utara, atas sponsor Chevening Awards Australia. Mangadar kemudian menempuh post-doktoral di Asia Research Centre, Murdoch University,Perth.

“Belajar dari kemajemukan, manusia dituntut untuk menjadi tidak egois dan sangat toleran,” ucapnya dengan semangat saat ditemui pada saat sela-sela kesibukannya sebagai dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpar. Hidup di beberapa kota di Indonesia dan di luar negeri membuat Mangadar belajar banyak tentang kemajemukan atau pluralisme. Dulu pada saat masih tinggal di Samosir, Mangadar mengira semua orang Indonesia adalah orang Batak, kemudian setelah menginjak tanah Jawa, ia sadar bahwa orang Indonesia itu beragam. Begitu pula dengan ciri khas masing-masing daerah di Indonesia. Pada saat pertama kali ke Yogyakarta, Mangadar kaget bukan main dengan makanan dan minuman disana yang serba manis. Tetapi lambat laun dengan adaptasi, makanan manis yang tadinya terasa asing bagi Mangadar kini menjadi makanan paling nikmat baginya.

Memiliki tubuh yang tegap dan sehat ternyata Mangadar memiliki kegemaran berolahraga. “kegemaran saya adalah olahraga, jujur saya ini bisa dibilang mahir dalam berbagai bidang olahraga terutama sepak bola” ujarnya dengan semangat. Olahraga sepak bola yang merupakan kegemarannya masih sering dia lakukan sampai sekarang bersama tetangga-tetangga rumahnya. Alasannya menyukai olahraga sepak bola adalah karena sepak bola olahraga ini mengajarkan kita mengenai kinerja didalam tim. Setiap pemain didalam tim tersebut memiliki perannya masing-masing. Bagaimana kita percaya dengan teman tim kita dan bagaimana kita menyerahkan sesuatu untuk dikerjakan secara bersama-sama.

Selain olahraga sepak bola, perantau asal Samosir ini gemar menonton olahraga tinju. Menurutnya didalam olahraga tinju terdapat pelajar penting yang ia dapatkan. “di olahraga tinju,pelajaran yang saya dapatkankan adalah how to be a loser, not to be a winner” katanya. Tambahnya lagi yaitu bahwa didalam olahraga tinju yang bisa kita dapatkan adalah bagaimana caranya kita untuk mampu bertahan didalam situasi yang sulit. Tidak akan ada satu orang pun yang dapat membantu dan tantangannya adalah bagaimana bisa bertahan didalam kemandirian.

Mengenai Pencalonan Rektor Unpar

Alasan pencalonan dirinya menjadi rektor Unpar adalah keinginan untuk menjadikan Unpar lebih baik. Menurut Mangadar,aspek yang baik pada Unpar itu bukan hanya secara fisik berupa gedung tetapi juga dalam hal akademis. Tetapi sesuatu yang baik itu juga masih harus diperbaiki. “Unpar jangan mau bertahan ditengah melesatnya universitas-universitas lain,”Ujarnya.

Nggak tega rasanya melihat Unpar begini terus, Unpar sudah baik tapi apakah puas hanya menjadi baik?” ujar Mangadar saat ditanya pendapatnya mengenai Unpar. Dua puluh lima tahun mengabdi pada Unpar,serta merta memanggil Mangadar ingin menjadikan Unpar yang tadinya sudah baik menjadi sangat baik. Walaupun bukan merupakan alumni Unpar, ia tidak ragu mencalonkan diri menjadi calon Rektor periode 2015-2019. Mangadar merasa terpanggil pada saat teman-teman seperjuangannya mendesaknya untuk mencalonkan diri. Ia mengatakan bahwa terdapat ketidakikhlasan didalam dirinya melihat Unpar begini-begini saja.

Problematika dan Tantangan Unpar

Disinggung mengenai permasalahan-permasalahan di Unpar yang salah satunya adalah mengenai pembangunan gedung baru, Mangadar mengaku merupakan salah satu orang yang tidak setuju dengan pembangunan gedung baru. Menurutnya anak muda khususnya mahasiswa membutuhkan lahan yang terbuka yang luas bukan hanya bangunan tinggi. “Ruang yang luas, adalah suasana yang perlu ada untuk mahasiswa. Merobohkan dan menggantikan yang sudah ada sebenarnya bukan satu-satunya jalan untuk menambah fasilitas yang diperlukan Unpar,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa pembangunan didaerah Unpar akan menimbulkan gangguan didalam proses belajar mengajar mahasiswa. ”Tetapi kewenangan pembangunan tetap berada pada tangan yang berwenang” tambahnya.

Lain hal, mengenai permasalahan yang kerap kali menjadi omelan orang tua mahasiswa atau mahasiswa itu sendiri di perkuliahan yaitu nominal pembayaran kuliah yang semakin kesini terus naik. Mangadar menjelaskan bahwa sebelum kita mengeluh kita wajib mengecek biaya kuliah universitas-universitas lain. Menurutnya, Unpar adalah salah satu universitas yang biaya kuliahnya tidak begitu mahal dibandingkan universitas swasta maupun negeri sekalipun dan mengajak kita untuk lebih komparatif . “persoalan pada Unpar itu lebih pada kesan. Seakan-akan bersekolah di Unpar itu kesannya mahal” katanya.

Mengenai birokrasi PM Unpar yang sekarang sedang dipertanyakan, Mangadar menjelaskan bahwa penting adanya pembagian otoritas didalam prinsip efektivitas kerja. Sehingga seyogyanya tidak ada lembaga yang tumpang tindih. Kelembagaan kemahasiswaan perlu di reformulasikan lagi agar tidak akan ada tumpang tindih.

Jika dipercaya dapat menjadi Rektor Unpar, hal konkrit yang akan dilakukan adalah terkait dengan akademik. Pihak yang paling relevan untuk dibahas substansi antara dosen dan mahasiswa. menurut Mangadar jumlah dosen masih sangat kurang,sehingga rasio antara dosen dan mahasiswa tidak imbang. Kualitas dosen pun harus ditingkatkan. Jabatan akademik dosen juga sangat penting, karena menjadi profesor adalah jaminan kualitas akademik walaupun kita tidak melihat itu sebagai satu-satunya. Riset dan publikasi juga penting dalam materi pembelajaran perkuliahan. Tantangan baginya adalah begitu mahasiswa selesai kuliah dan mulai bekerja. Disisi lain, perlu adanya perbaikan dari segi mahasiswa. Mahasiswa Unpar harus memperbanyak kerja praktek bukan hanya belajar dikelas tapi dengan sumber pembelajaran yang lebih kaya.

Menurut Mangadar, makna dari Unpar itu sendiri adalah institusi yang hadir untuk mencerdaskan generasi muda. Pencerdasan yang terkait dengan ilmu pengetahuan tetapi juga konversi nilai-nilai menjadi tantangan yang melekat dalam panggilan Unpar tersebut. Menurutnya pendidikan bukanlah bisnis, melainkan merupakan sebuah panggilan. Jadi Unpar ada dan terpanggil untuk pelayanan pencerdasan masyarakat.

KRISTIANA DEVINA