SIARAN PERS: Chris Burden Estate Menggugat Henry Husada dan PT Pasti Makan Enak Atas Dugaan Pelanggaran Hak Cipta Terhadap “Urban Light” Karya Chris Burden

SIARAN PERS, MP — Kamis, 4 Juni 2020, peninggalan dari almarhum seniman Chris Burden (Chris Burden Estate), dengan diwakili oleh kuasa hukumnya dari kantor Ivan Almaida Baely & Firmansyah (IABF) Law Firm, telah mendaftarkan gugatan pelanggaran hak cipta terhadap Henry Husada di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Kasus ini bermula ketika taman hiburan bernama wisata selfie “Rabbit Town” yang berlokasi di Jl. Rancabentang No. 30-32, Bandung, beroperasi pada tanggal 11 Januari 2018 dan resmi dibuka pada tanggal 23 Februari 2018.

Ketika Rabbit Town dibuka untuk umum sudah banyak menuai kontroversi karena banyak pihak menuding bahwa instalasi-instalasi yang ada di Rabbit Town berpotensi menjiplak karya-karya seni internasional terkenal. Salah satunya adalah instalasi bernama “Love Light” yang terdiri dari tiang-tiang lampu jalanan yang disusun dalam formasi berbaris.

Beberapa pihak menilai bahwa instalasi “Love Light” yang dipamerkan di Rabbit Town merupakan tiruan atau plagiat dari karya seni “Urban Light” karya ciptaan Chris Burden yang sudah lama dipamerkan di Los Angeles County Museum of Art (LACMA), museum seni terkenal di bagian barat Amerika Serikat. Rabbit Town diketahui dimiliki oleh pengusaha Henry Husada dan dikelola oleh PT Pasti Makan Enak.

Masalah ini kemudian sampai diketahui oleh Chris Burden Estate. Chris Burden Estate kemudian menunjuk kuasa hukumnya di Indonesia yaitu IABF Law Firm untuk menegakkan hak-hak almarhum Chris Burden atas dugaan pelanggaran hak cipta yang diduga dilakukan oleh pemilik dan pengelola Rabbit Town tersebut.

Menurut kuasa hukum Chris Burden Estate (IABF Law Firm), Yayoi Shionoiri, Executive Director dari Chris Burden Estate mengatakan “Chris Burden Estate sangat kecewa. Kami mengetahui banyaknya kreativitas artistik, waktu, tenaga, dan biaya yang dikeluarkan untuk membuat karya seni Urban Light,”.

“Rabbit Town sama sekali tidak pernah meminta izin untuk menggunakan hak cipta Chris Burden, dan hak-haknya sebagai pencipta perlu untuk dilindungi” ujar Yayoi.

Oleh karena itu, Chris Burden Estate melalui kuasa hukumnya (IABF Law Firm), meminta kepada Pengadilan Niaga untuk mengakui kerugian yang diakibatkan oleh Henry Husada dan PT Pasti Makan Enak dan meminta keduanya untuk mengganti kerugian materiil dan immateriil, segera memusnahkan instalasi “Love Light” dan juga membuat permintaan maaf di surat kabar nasional dan internasional serta akun media sosial Rabbit Town.

Gugatan ini didaftarkan di bawah register Perkara No. 31/Pdt.Sus-Hak Cipta/2020/PN.Niaga.Jkt.Pst. Sidang pertama perkara ini dijadwalkan pada hari Kamis, 18 Juni 2020, pukul 09.00 WIB di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Kuasa hukum Chris Burden Estate (IABF Law Firm) memastikan akan menghadiri sidang pertama perkara tersebut untuk menegakkan hak kliennya berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dan konvensi-konvensi international yang telah diratifikasi oleh Negara Republik Indonesia.

Penulis

Related posts

*

*

Top
Atur Size