Tantangan Perubahan Semester Pendek Berbasis Online

LIPUTAN, MP — Semester pendek 2020 menghadapi tantangan baru: pendidikan jarak jauh via daring akibat situasi pandemi global COVID-19. Perubahan sistem ini akan terasa bagi para mahasiswa, utamanya mereka yang baru pertama kali mengikuti semester pendek.

Secara metode, perkuliahan semester pendek harus digantikan dengan sistem pembelajaran metode daring. Hal ini sesuai dengan surat keputusan yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nadiem Makarim mengenai upaya pencegahan dan penyebaran Covid-19. Terkait dengan situasi pandemi ini, ternyata tidak hanya semester pendek saja yang mengalami perubahan sistem, namun juga proses perwalian, pendaftaran, dan proses terkait yang dilakukan oleh Prodi atau Fakultas seluruhnya diproses secara daring.

Wakil Rektor Bidang Akademik Tri Baskoro Juwono menjelaskan bahwa sebelumnya perlu dipahami bahwa semester pendek sifatnya tidak wajib diselenggarakan. Tiap program studi dipersilahkan untuk menyesuaikan penyelenggaraan semester pendek dengan berbagai pertimbangan, seperti ketersediaan dosen mata kuliah, perkembangan studi mahasiswa, dan juga perkembangan situasi pandemi Covid-19.

Tidak semua mata kuliah semester reguler dapat dijalankan pada semester pendek. “Tentu ada perbedaan dengan semester regular. Kepala Program Studi dapat menyelenggarakan mata kuliah yang dirasa perlu bagi mahasiswa. Hal ini berarti tidak seluruh mata kuliah akan dibuka,” tambahnya.

Namun demikian, Tri memastikan bahwa seluruh mata kuliah yang diselenggarakan di semester pendek ini akan menggunakan metode daring. “Hal ini berdampak pada perlu dipertimbangkannya mata kuliah yang sulitatau tidak mungkin dilakukan dengan daring, misalnya praktikum,” tutur Tri.

Salah satu mahasiswa berinisial RC yang mendaftar SP mengatakan bahwa salah satu faktor kesulitan mengikuti kuliah online adalah jaringan internet. “Kalo semester pendek kayak kelas biasa seperti yang sekarang mungkin tidak akan terjadi masalah, kecuali masalah gangguan internet,” katanya.

Pihak kampus sendiri telah menyediakan beberapa paket kuota internet untuk mendukung mahasiswa dalam menjalankan perkuliahan online. Namun, beberapa mahasiswa merasa kampus kurang menunjang bantuan kuota karena hanya menyediakan beberapa provider saja.

“Anggaran Sudah (Ada), Perangkat Belum Ada Kabarnya”

Tri menyatakan bahwa pihak kampus akan melakukan improvisasi pada Interactive Digital Learning (IDE). Hal ini terkait dengan beberapa kendala pada pelaksanaan UTS Semester Genap 2019/2020 yang nantinya akan dijadikan bahan evaluasi.

Selain IDE, pihak kampus juga memperbolehkan platform lain digunakan untuk perkuliahan semester pendek. Hal tersebut disesuaikan dengan kesiapan dosen pengajar dan mahasiswa di setiap kelas.

Tri mengatakan bahwa platform seperti Google Classroom dan Google Meeting menjadi salah satu media pendukung aktivitas pembelajaran karena sudah bekerjasama dengan pihak kampus. “UNPAR juga memiliki Microsoft Team yang tentu dapat dielaborasi lebih lanjut oleh dosen,” tutur Tri.

Pemilihan platform ini juga tergantung pada platform yang dirasa sesuai dan mendukung kegiatan pembelajaran selama perkuliahan semester pendek.
“Prinsip yang digunakan oleh universitas adalah bahwa platform yang digunakan agar dipilih yang paling cocok untuk mendukung proses pembelajaran, cocok dengan gaya dan metode dosen dan materi pembelajaran, serta kesesuaian dengan mahasiswa,” tambah Tri.

Biro Teknologi dan Informasi (BTI) sendiri mengaku bahwa server BTI memang belum bisa maksimal. “Anggaran sudah (ada), perangkat yang diimpor belum ada kabarnya,” ujar Yohanes Nano Yuliono, Kepala BTI. Kemungkinan besar, semester pendek akan tetap menggunakan sarana lain seperti Google Classroom/Zoom. “IDE sebagai alat administratif saja,”.

Ia juga mengatakan bahwa dari sudut konfigurasi, IDE belum bisa banyak berubah. “Kami masih menunggu server datang,” terangnya. Sistem tender server dan bagian pengadaan terpisah dari BTI. “(BTI) tinggal tunggu barang datang.” lengkapnya. Dalam segi fitur, untuk perubahan IDE di masa depan sendiri, BTI mau tidak mau harus berkoordinasi dengan LPPK.

Nathanael Angga | Agnes Zefanya | Naufal Hanif | Novita

Mohon maaf, ada perubahan judul dalam artikel akibat kesalahan redaksi.

Penulis

Related posts

*

*

Top
Atur Size