Sepakbola Eropa Dalam Genggaman Financial Fair Play

STOPPRESS, MP – Beberapa hari lalu, tepatnya Jumat (17/02) berdasarkan waktu di Inggris, Manchester City, salah satu klub sepakbola asal Manchester yang bermain di kasta tertinggi liga Inggris, dijatuhi hukuman berupa larangan bermain pada kejuaraan tertinggi di kancah eropa, yaitu UEFA Champions League (UCL). Union of European Football Associations (UEFA) lewat bagian Club Financial Control Body (CFCB) menyatakan City bersalah karena sudah menggelembungkan (mark up) pendapatan sponsor selama rentang waktu 2015-2016.

Dikutip dari The Guardian, pemilik klub Manchester City, Sheikh Mansour Bin Zayed Al-nahyan yang merupakan keluarga dari penguasa Abu Dhabi, ikut mendanai sponsor sebesar 67.5 juta poundsterling atau setara 1,2 trilliun rupiah untuk kaos, stadion dan akademi oleh maskapai penerbangan, Etihad. Telah ditemukan salah satu surel yang bocor dan menyatakan bahwa sponsor resmi yaitu Etihad hanya memberi 8 juta poundsterling atau setara 143 milyar rupiah pada periode 2015-2016, sedangkan sisanya berasal dari perusahaan private equity bernama Abu Dhabi United Group (ADUG).

Manchester City belum memberikan tanggapan melalui akun resminya hingga hari ini. Namun, berdasarkan Goal Ball Live, Sheikh Mansour Bin Zayed Al-nahyan memilih untuk menghabiskan £30 juta (30 juta poundsterling) untuk menyewa 50 pengacara terbaik dan menuntut balik UEFA ketimbang menerima hukuman dengan lapang dada.

Sebelumnya, Manchester City sudah pernah “diperingatkan” oleh berbagai media di Inggris mengenai kemungkinan terkena Financial Fair Play pada tahun 2014. Namun, ramalan itu belum terjadi hingga tahun 2020 ini. Semenjak diciptakan, aturan Financial Fair Play menjadi musuh beberapa klub Eropa. Lantas, apa yang menyebabkan fenomena tersebut?

Regulasi untuk Menciptakan “Fair Play” Keuangan

Financial Fair Play (FFP)
merupakan peraturan yang dibuat oleh UEFA. Peraturan ini dibuat dan mulai
dilaksanakan pada awal tahun 2011. Bertujuan untuk memastikan klub agar mampu
mengatur finansial dengan melarang  klub
mengeluarkan uang lebih banyak untuk mendapatkan pemain dan mencegah keuntungan
yang tidak adil.

Untuk berpartisipasi aktif dalam kompetisi eropa, salah satunya UCL dan UEFA Europa League (UEL), para klub harus memenuhi syarat terlebih dahulu. Beberapa syarat diantaranya tidak memiliki hutang dengan klub lain, pemain, serta otoritas pajak. Para klub harus memberi bukti bahwa mereka telah memenuhi syarat tersebut.

Regulasi FFP mengalami beberapa perubahan. Pada tahun 2013, ditambahkan persyaratan yang disebut “break even requirements”. Merupakan persyaratan yang mengharuskan klub untuk menyeimbangkan pengeluaran dengan pendapatan mereka dan membatasi klub dari akumulasi hutang. CFCB yang mempunyai hak untuk melakukan check and balance akan menganalisis laporan keuangan klub beserta aliran dana setiap 3 tahun dan berlaku untuk semua klub yang berkompetisi di UEFA.

Pada Juni 2015, UEFA kembali
memperbaharui regulasi dengan tujuan mendorong investasi yang lebih
berkelanjutan dan melakukan controlling
untuk mencegah pengeluaran yang berlebihan. Pada tahun yang sama juga, untuk
pertama kalinya CFCB mulai mencari klub yang belum memenuhi syarat untuk
kompetisi UEFA tetapi ingin berpartisipasi pada tahap tertentu di masa depan. Klub
yang dimaksud tersebut berkriteria membutuhkan restrukturisasi bisnis, sedang menghadapi
guncangan ekonomi yang di tidak perkirakan, dan sedang beroperasi dengan
defisiensi struktural pasar yang parah.

Menyamakan Jejak AC Milan

Saat regulasi ini diterapkan, sudah ada beberapa klub yang terjerat karena kondisi keuangan yang tidak sesuai dengan standar. Regulasi ini tidak hanya menjerat klub tajir macam Manchester City, namun juga menyasar klub yang semi-bangkrut. AC Milan menjadi salah satu klub yang memenuhi kriteria tersebut.

Pada awal musim 2017/2018, salah satu klub di kasta tertinggi liga Italia, AC Milan melakukan belanja besar-besaran saat bursa transfer musim panas. Hal itu terjadi setelah klub diakusisi oleh Yonghong Li. 10 pemain dibeli oleh AC Milan dan menyebabkan kondisi keuangan AC Milan kembali bermasalah hingga mendapati kerugian sebesar €126 juta (126 juta euro). CFCB memberikan sanksi larangan bertanding namun AC Milan langsung mengajukan banding ke Court of Arbitration for Sport (CAS). AC Milan memenangkan banding yang bersyarat. Tidak lama setelah itu, CAS kembali menemukan pelanggaran keuangan sehingga AC Milan terkena sanksi berupa larangan bermain di UEL pada musim 2019/2020. Sanksi itu bisa diperberat menjadi larangan bermain di semua kompetisi klub Eropa untuk musim 2022/2023 hingga 2023/2024 jika AC Milan tidak bisa menyelesaikan permasalahan keuangan klub.

Bukan hal yang mustahil bagi Manchester City untuk mengajukan banding ke CAS. Pun ada kemungkinan untuk memenangkan banding. Namun, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah akan ada City yang kedua? Karena klub yang berani menggelontorkan banyak dana untuk membeli pemain akan menjadi sasaran empuk regulasi ini.

Harjuno Aditia | Alfonsus Ganendra | Novita

Related posts

*

*

Top
Atur Size