Sejarah Kelam Sepakbola Bangsa: Dualisme Berujung Hukuman FIFA

NASIONAL, MP – Lima tahun yang lalu, sepakbola Indonesia mengalami sejarah yang cukup kelam. Terjadi dualisme di kompetisi tertinggi liga sepakbola Indonesia. Saat itu, ada dua kompetisi liga, Indonesia Premier League (IPL) yang dikelola dan dijalankan oleh PT Liga Prima Indonesia Sportindo dibawah naungan federasi sepakbola nasional yaitu Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI)  dan Indonesia Super League (ISL) yang merupakan hasil kerja federasi baru yang menamakan diri mereka Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI).

Mirisnya, dualisme kompetisi ini turut mengakibatkan adanya dualisme klub. Misalnya saja tim dari Malang, Arema FC yang sudah terdaftar di IPL memutuskan untuk membentuk klub baru bernama Arema Cronus Indonesia, dengan tujuan mengisi slot kosong di ISL. Alhasil, tim Arema dari Malang berlaga di kedua kompetisi tersebut.

Akibat adanya dualisme kompetisi ini, federasi sepakbola internasional yaitu The Fédération Internationale de Football Association (FIFA) sempat menghukum Indonesia berupa larangan menggelar kompetisi internal (Liga Indonesia) hingga larangan mengikuti pertandingan professional internasional selama hampir 1 musim atau 1 tahun.

Ketidakpuasan terhadap PSSI

Sejarah buruk ini diawali dari keputusan PSSI yang saat itu berada di bawah kepemimpinan Djohar Arifin Husin dan Farid Rahman. Mereka mengesahkan IPL sebagai kompetisi profesional baru yang menggantikan ISL. Sebelumnya, ISL adalah kompetisi yang diakui PSSI. Kompetisi ini sukses digelar selama 3 tiga musim beruntun, yakni musim 2008-09, 2009-10, dan 2010-11. Setiap musimnya, ISL rutin diikuti 18 klub dalam satu wilayah. Masalah mulai muncul pada musim 2008-09 yakni saat muncul IPL dan tiga tim (Persema Malang, Persibo Bojonegoro, PSM Makassar) memutuskan untuk membelot di tengah jalan.

Alasan pembelotan ini sendiri dikarenakan oleh berbagai faktor yang umumnya merupakan ketidakpuasan pihak klub atas kinerja PSSI, seperti ketidakadilan soal izin melaksanakan pertandingan uji coba dengan tim dari luar negeri, hingga hadiah juara liga yang dinilai terlalu kecil dan bahkan sering kali tertunggak.

Hal ini lantas menimbulkan pemberontakan dari tim-tim peserta ISL yang didukung oleh beberapa anggota Executive Committee (Exco) yang menyatakan penolakannya terhadap IPL. Beberapa anggota ISL dan Exco ini kemudian membentuk federasi baru bernama KPSI.

KPSI sendiri terbentuk akibat adanya ketidakpuasan dari anggota Exco PSSI yang kemudian terpecah menjadi dua kelompok yang pro dan kontra terhadap Djohar Arifin. Kelompok yang kontra mengancam akan mengadakan kongres luar biasa (KLB) jika sistem kompetisi Liga Indonesia diubah. Ancaman ini sendiri dilayangkan oleh La Nyalla Mattalitti, Tony Apriliani, Erwin Dwi Budiawan, dan Roberto Rouw hanya 3 bulan setelah Djohar Arifin dilantik menjadi ketua umum PSSI.

KLB merupakan kongres khusus yang dapat dilakukan setiap saat dengan syarat harus ada lebih dari 50% dari total anggota PSSI mengirimkan permohonan tertulis mengenai agenda kongres. KLB ini terwujud atas persetujuan lebih dari 2/3 anggota. Kemudian pada penghujung Desember 2011, KPSI yang juga dihuni oleh eks pengurus PSSI menyatakan mengambil alih kewenangan PSSI selaku otoritas sepak bola Indonesia. FIFA sediri menyatakan tidak mengakui KPSI dan meminta PSSI untuk terus mendorong klub untuk kembali ke federasi.

Perselisihan ini dinilai banyak pengamat sepakbola sebagai ajang perebutan kekuasaan dalam tubuh sepakbola Indonesia. Di sinilah momen dualisme ini terjadi.

Dualisme yang berujung kekacauan

Imbas dari dualisme ini berdampak sangat panjang. Persipura Jayapura nyaris saja didiskualifikasi dari ajang Liga Champions Asia (LCA) karena liga tempat mereka berkompetisi berstatus tandingan atau breakaway. Untungnya, pengadilan arbitrase olahraga yaitu Court of Arbitration for Sport (CAS) mengeluarkan keputusan untuk mengembalikan Persipura ke kompetisi LCA musim itu.

Kekacauan ini juga menyebabkan prestasi tim nasional (timnas) Indonesia menjadi tidak karuan. Pada Kualifikasi Piala Dunia 2014, timnas yang baru saja berganti pelatih dari Wim Rijsbergen menjadi Aji Santoso dihajar habis-habisan oleh Bahrain dengan skor telak 10-0.

Pertandingan yang digelar pada Februari 2012 itu tercatat sebagai kekalahan terbesar timnas Indonesia sepanjang sejarah dalam kompetisi resmi. Adapun pencapaian buruk Tim Merah-Putih saat itu terjadi karena komposisi pemain sudah disodorkan PSSI tanpa adanya seleksi lanjutan oleh pelatih.

Di ajang AFF Suzuki Cup 2012 juga, Indonesia bahkan tidak bisa lolos dari fase grup. Sempat mengalahkan Singapura berkat gol cantik Andik Vermansyah, Indonesia gagal memenangi pertandingan melawan melawan Laos dan Malaysia yang mengakibatkan kandasnya asa Indonesia untuk lolos ke putaran selanjutnya. Kondisi tersebut sangat berkebalikan dengan prestasi Indonesia pada AFF 2010, yang berakhir dengan keberhasilan Indonesia menempati podium runner up di bawah Malaysia yang berhasil menjadi juara.

Tidak hanya klub dan liga, para pemain juga terkena imbas dari adanya dualisme liga ini. FIFA sendiri melarang keras pemain dari klub yang bermain di kompetisi breakaway untuk memperkuat timnas mereka, sehingga berdampak kepada mereka – para pemain langganan timnas – yang merumput di ISL. Ini membuat Aji Santoso, pelatih timnas saat itu kesulitan mencari pemain terbaik dari IPL untuk mengisi slot pemain di timnas.

Momentum tersebut kemudian dimanfaatkan oleh KPSI untuk unjuk gigi dengan membentuk timnas sendiri. Seakan timnas profesional, timnas tandingan dengan pelatih Alfred Riedl ini juga mengadakan uji coba di Australia. Uniknya, timnas versi KPSI yang dipimpin oleh Firman Utina meraih kemenangan telak 8-0 saat menghadapi tim non-divisi yang baru saja dibentuk 24 jam sebelum bertanding, yaitu Queensland Christian Soccer Association (QCSA) All Star.

Situasi semakin buruk setelah FIFA resmi memberikan sanksi suspensi terhadap Indonesia melalui surat bertanggal 30 Mei 2015 yang dikirimkan kepada sekretaris jenderal PSSI, Azwan Karim. Sanksi ini merupakan buntut dari perseteruan antara PSSI dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Sanksi FIFA dilandasi oleh tindakan pemerintah Indonesia yang sudah melakukan intervensi terhadap sepakbola di dalam negeri.

Dua minggu sebelum FIFA menjatuhkan sanksi, Kemenpora membekukan PSSI. Terhitung dari tanggal 17 Mei 2015, mereka tidak mengakui segala bentuk aktivitas yang dilakukan PSSI, termasuk semua level kompetisi. FIFA sendiri mengharamkan adanya intervensi pemerintah terhadap persepakbolaan di dalam negeri. Tak heran keputusan Kemenpora ini membuat FIFA tak berpikir panjang untuk menjatuhi sanksi kepada Indonesia. Menurut catatan FIFA, Indonesia merupakan negara ke-12 yang terkena sanksi dari FIFA.

Sanksi yang dijatuhkan kepada Indonesia berimbas sangat besar. Timnas Indonesia dan seluruh klub asal Indonesia tidak bisa berlaga di kompetisi resmi di bawah naungan FIFA selama masa hukuman, terkecuali timnas U-23 yang sedang berkompetisi di Sea Games 2015. Persipura Jayapura yang saat itu mengikuti AFC juga terpaksa harus mundur.

Setelah hampir setahun lamanya, Presiden FIFA Gianni Infantino dalam kongres tahunan FIFA di Mexico City memastikan federasi sepakbola dunia tersebut telah mencabut sanksinya terhadap sepakbola Indonesia. Pencabutan sanksi itu sebenarnya sudah dilakukan beberapa saat sebelum kongres digelar. Keputusan FIFA itu dikeluarkan setelah mereka menerima surat dari pemerintah Indonesia yang mengatakan bahwa Kemenpora tidak akan melakukan intervensi lagi terhadap urusan sepakbola di dalam negeri.

Wajah Sepakbola Indonesia Masa Kini

Kini kompetisi sepakbola Indonesia mengalami perbaikan. Sudah ada liga utama dengan 3 kasta divisi yang berada dibawah naungan PSSI. Timnas usia muda pun mendapat perhatian yang lebih, yang akhirnya menghasilkan 1 trofi AFF Cup 2019 di Phnom Penh, Kamboja. Timnas senior menjadi lebih sering mendapatkan jatah pelatih kelas dunia. Misalnya pada 2018 PSSI mendatangkan Luis Milla, pelatih asal Spanyol yang berhasil menjuarai Piala Eropa U-21 2013.

Namun sayangnya, kontak Luis Milla yang berjangka 2 tahun tidak diperpanjang dengan alasan gajinya yang sebesar Rp. 1,5 miliar tersebut terlalu memberatkan PSSI. Kemudian belum lama ini PSSI juga mendatangkan Shin Tae-Yong, pelatih asal Korea Selatan sebagai pengganti Luis Milla. Shin Tae-Yong sendiri sukses mengantar Korea Selatan lolos ke final Piala Dunia U20 2019 di Polandia.

Walau demikian, masalah persepakbolaan Indonesia masih juga belum usai. Banyak pekerjaan rumah yang perlu dibenahi PSSI. Misalnya di tahun 2017, dua klub yakni Bhayangkara FC dan PS TNI yang langsung berkompetisi di kasta teratas liga tanpa pernah mencicipi kasta-kasta di bawahnya terlebih dahulu.

Tentu hal ini menimbulkan protes dari publik sepakbola Indonesia walaupun pada akhirnya PSSI tidak berbuat apa-apa. Selain itu, masalah penunggakan gaji pemain oleh klub masih saja terjadi di tahun 2020 ini. Di Liga 2 sendiri, ada 5 klub yang masih menunggak gaji pemainnya. Klub-klub tersebut antara lain PSPS Pekanbaru, Perserang Serang, Mitra Kukar, Kalteng Putra, dan PSMS Medan.

Permasalahan gaji ini telah berlangsung sejak lama dan terus menerus terulang hingga saat ini. Umumnya hal ini disebabkan karena klub kekurangan sponsor hingga terjadi defisit keuangan. Dan lagi, PSSI tidak berbuat banyak di sini.

Reporter: Muhammad Rizky

Editor: Alfonsus Ganendra, Naufal Hanif

Related posts

*

*

Top
Atur Size