Ruang Sempit Lantai 3,5

Nur Indro berpose di depan patung Karl Marx dan Friedrich Engels di Berlin. dok./Warta Himahi Nur Indro berpose di depan patung Karl Marx dan Friedrich Engels di Berlin. dok./Warta Himahi

Tidak butuh waktu lama bagi ruang itu menjadi riuh. Setelah masuk ke dalam dan mendengar sapanya yang khas, cerita mengalir begitu saja dan tentang apa saja: kesibukan mengajar, buku yang baru dibaca, situasi politik, kabar orang dekat, hingga keluhan migrainnya yang termasyhur itu. Tentu tidak lupa bumbu guyonan di sana-sini yang mengaburkan batas antara dosen, mahasiswa, pejabat kampus, pekarya, atau siapapun yang sedang mampir. Saat itu biasanya tawa terkekehnya akan terdengar hingga jauh ke ujung lorong.

Ruangan P.Y. Nur Indro itu memang sering dikunjungi mereka yang sekedar bertukar salam, ngobrol tak tentu arah, berkeluh kesah, atau sekedar mencari tempat berteduh. Dengan membelakangi jendela berlatar kota Bandung, si empunya bilik akan mempersilahkan anda duduk menghadap meja penuh tumpukan buku yang jauh dari rapi.

Nur Indro bersama mahasiswa Hubungan Internasional angkatan 1997 dalam acara Malam Syukur Mahasiswa Hubungan Internasional. dok./Warta Himahi

Di bawah kaca yang melapisi meja itu terdapat beberapa foto generasi-generasi mahasiswa yang dulu mungkin sering mengunjungi ruangan yang sama ini. Potret lawas para mahasiswa juga terpampang di lemari yang memuat puluhan skripsi hasil bimbingannya. Begitu penuh lemari itu hingga susah mencari sejak tahun berapa koleksi skripsi itu dimulai, beberapa nama dalam sampulnya pun nampak pudar.

Bagi yang hapal dengan rutinitas hari kerja Mas Nur, panggilan akrab Nur Indro, tahu bahwa dia akan datang ke ruang itu sekitar pukul 7.00 pagi. Sebelum mengajar, ia mengambil secarik kertas yang dicoret-coret sebagai bahan mengajar di hari itu. Bertahun-tahun mengajar kelas yang sama, tidak membuatnya lantas menggampangkan tiap pertemuan yang ia hadapi. Coretan-coretan yang dibuatnya pada tiap kelas, ia olah menjadi sesuatu yang berbeda.

Memasuki ruang kelas Mas Nur bisa menjadi sebuah tantangan tersendiri. Pembahasan filsafat dan teori yang dianggap terlalu “abstrak” atau “mengawang-awang” kadang membuat banyak mahasiswa kebingungan. Namun tidak sedikit pula yang malah merasa sangat berterima kasih telah dikenalkan dunia filsafat dengan penjelasan yang dianggap mudah. Yang paling epik tentu yang sambil menyelami kebingungannya, bisa memetik hasil: rapper Iwa K, mantan mahasiswa HI Unpar, mempersembahkan album Kramotak! (1996) kepada Mas Nur sambil mengaku mendapat inspirasi setelah menjalani kelasnya.  

Yang pasti, diskusi tak akan pernah absen dalam kelas tersebut. Bahkan, bisa melebar menjadi pembahasan apa saja. Tak ada tema yang dianggap terlalu tabu, karena di ruang kelas itu, tiap gagasan haruslah selalu dapat diuji. Tak ada pula hierarki yang menjulang antara dosen dengan mahasiswa, karena dianggap akan mengungkung kebebasan berpikir dan nalar kritis, yang membuat perkembangan ilmu pengetahuan terhenti. Karenanya di ruang kelas Mas Nur, pertukaran gagasan juga disertai dengan pertukaran nilai.

Seringnya diskusi tak hanya cukup terjadi di ruang kelas. Ada saja mahasiswa yang mengikuti Mas Nur kembali ke ruangannya, untuk menyambung pembicaraan yang tak berujung itu. Jika diskusi berlangsung asik dan cukup lama, pemilik ruangan biasanya akan menawarkan kopi atau makanan. Di tempat itu pula, buku-buku filsafat yang terserak boleh dipinjam, bahkan tak jarang jika kita benar-benar tertarik, keesokan hari ada satu kopi buku yang diberikan cuma-cuma. Seorang kawan dan juga bekas mahasiwanya, Mirza Fahmi (FISIP 2008), dengan apik menggambarkan situasi ruangan tersebut:

“Desas-desus waktu saya kuliah mengabarkan kalau ruangan Mas Nur, meski ukurannya sama seperti ruang dosen pada umumnya, isinya berjejalan tumplek hiruk-pikuk; ada Feyerabend, Foucault, Lakatos, Spivak, Umberto Eco nyempil, Derrida lagi bengong. Semuanya diajakin ngomong ngalor-ngidul. Kalau lagi mujur, mahasiswa bisa mampir terus nimbrung dalam diskusi nirbatas Mas Nur dengan warga lain di ruangannya. Konon banyak juga mahasiswa yang sekalinya masuk tidak pernah keluar gara-gara keasyikan”.

Mungkin saya adalah salah satu mahasiswa yang tidak pernah keluar itu, meski lebih banyak diam dan asik mendengarkan cerita apapun yang tersaji di ruangan. Tak jarang ketika Mas Nur harus mengisi kelas, saya dibiarkannya diam di dalam sekedar ngadem menikmati pemandangan Bandung dari jendela. Rutin itu jadi terbayang kembali saat mengetahui Mas Nur berpulang pada 9 Oktober 2018 lalu.

Nilai A dari Kantor Tentara

Salah satu cerita yang sering diulangnya adalah tentang sejarah Universitas Parahyangan lewat kisah kawan-kawan lama, suasana belajar masa itu, hingga para pendiri kampus itu sendiri. Lulus dan mengajar di jurusan yang sama pada 1988, Nur Indro masih termasuk dalam “generasi Geise” atau mereka yang sempat bersinggungan dengan Mgr. Geise, sang pendiri Unpar. Menurut Mas Nur, saat itu muncul fondasi gagasan pendidikan yang perlu diteruskan di Unpar hingga kini. Salah satunya adalah ide bahwa kampus merupakan sebuah laboratorium Pancasila, yang nilai-nilai di dalamnya tak hanya dipraktikkan namun juga diuji. Landasan Pancasila inilah yang mendorong, misal, penerapan kebijakan di kampus yang tidak memasang lambang-lambang keagamaan meski terkenal sebagai Universitas Katolik.

dok./Warta Himahi

Biasa mengadu gagasan, berpikir kritis dan kehidupan kampus yang egaliter mungkin mencirikan generasi awal itu. Karenanya kritik bukanlah hal yang terlarang, melainkan inheren dalam hubungan antara mahasiswa, dosen, maupun pejabat kampus. Hal itu masih setia dijalankannya, terlihat pada suatu peristiwa saat beberapa dosen Hubungan Internasional meninggalkan kewajiban mengajar untuk beberapa pekan karena ada kunjungan ke Jerman. Saat itu seorang mahasiswa baru, Ananda Badudu (FISIP 2006), nekat membentangkan spanduk berisi protes menuntut kewajiban para dosen. Beberapa pengajar bersungut-sungut mendapat kritik itu, namun Mas Nur langsung meminta maaf dan mengadakan kelas pengganti.

Kebebasan untuk berpikir, berpendapat dan mengkritik seharusnya merupakan hal yang tak terpisahkan dalam dunia akademis. Namun di masa pemerintahan Orde Baru, saat sensor dan larangan mengekang nalar kritis, hak asasi itu terasa begitu mahal. Bahkan dosen juga tak luput ikut disikut alat kekuasaan jika dianggap mbalelo, begitu juga Mas Nur. Dalam sebuah foto lama di arsip Media Parahyangan, Mas Nur terlihat ikut dalam demonstrasi mahasiswa di depan kampus Unpar bersama (Alm.) Professor Arief Sidharta, bagian dari generasi Geise lainnya.

Mantan mahasiswa Unpar kawakan, Budiyoga Permana, pernah bercerita saat rezim represif masih kuat berkuasa, Mas Nur sempat dipanggil oleh tentara akibat aktivitas politik mahasiswa di kampus itu. Namun saat ditanya bagaimana interograsi berjalan, dengan enteng ia menjawab “dapat A dek, lulus!”, seolah menyamakan panggilan itu dengan sidang skripsi.

Setelah panggilan itu ia justru tak tunduk atau malah ikut-ikutan melarang wacana kritis dan adu gagasan. Bahkan kegigihan itu berlanjut saat rezim kejam itu tumbang. Saat ada sekelompok mahasiswa iseng yang mengadakan peluncuran buku terjemahan Das Kapital dalam Bahasa Indonesia di kampus, Mas Nur ikut mendukung. Padahal saat itu beberapa peluncuran buku yang sama di tempat lain dilarang atau bahkan dibubarkan ormas atau polisi. Di lain hari, ia juga mendukung diskusi yang dhadiri pembicara yang dianggap dari golongan liberal seperti Goenawan Mohamad dan Dawam Rahardjo. Dengan kata lain, baginya tak ada ideologi yang patut mati-matian dibela atau ditolak. Yang justru penting baginya adalah terus menguji gagasan-gagasan itu agar tak jadi membatu dan dapat menjawab tantangan zaman.

Puisi yang dibuat oleh Nur Indro mengenai kritikan Teori Strukturalisme dalam disertasinya. dok./Warta Himahi

Mungkin pijakan itu pula yang membuat Mas Nur mendalami pemikiran Sosialisme Kerakyatan dalam tesis S2-nya. Ia mendalami pemikiran Sutan Sjahrir tersebut karena tidak menjunjung dogma yang harus sampai mati diikuti, namun bisa dengan cermat melihat arah gerak zaman. Pada masa hidupnya, Perdana Menteri Indonesia pertama itu fasih dengan pemikiran kiri yang juga digandrungi banyak kawan seperjuangannya. Namun, dia paham bahwa gagasan pembebasan itu tak dapat mengorbankan kemerdekaan atau bahkan kemanusiaan seseorang. Ia melihat jauh pada masa depan di mana kebebasan individu tetap dijamin, tanpa perlu menghamba pada pengumpulan kekayaan untuk kepentingan pribadi. Tidak hanya itu, penindasan oleh yang berkuasa terhadap yang lemah pun dikecam tanpa perlu mengorbankan penghormatan pada hak asasi manusia.

Keberpihakan Mas Nur pada nilai-nilai tersebut pun terlihat di dalam maupun di luar ruang kelas. Pada suatu hari di akhir tahun 2006, ada sekelompok mahasiswa yang mengadakan acara peringatan hari HAM dirinya bersedia menjadi pendamping acara tersebut. Para mahasiswa menyulap Gedung Serba Guna menjadi bioskop raksasa memutar dokumenter tentang Munir, mengadakan mimbar kebudayaan dengan Romo Sandiawan dan Ibu Sumarsih berorasi, dan ditutup dengan penampilan musik seperti kelompok kawakan Homicide. Tak ayal acara itu berlangsung hingga larut, sekitar pukul setengah tiga pagi baru selesai berbenah. Namun, Mas Nur masih setia hadir hingga dini hari itu, bersolidaritas dengan para mahasiswa, meski tak ada kewajiban untuk ia terus ada di sana.

Kue Balok Pagi Hari

Pernah pada suatu pagi, sepulang begadang di rumah kawan di Lembang, saya mampir ke ruangan Mas Nur membawa sekotak kue balok yang konon paling enak se-Bandung Raya. Ia nampak girang melihat makanan yang sudah lama tak ia temukan. Dari situ ia bercerita bahwa roti balok sering ia santap sewaktu menjalani kuliah S1 di Unpar. Saat itu ia memutuskan untuk mandiri secara keuangan dari orang tuanya, yang berakibat kembang kempis dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Waktu itu roti balok berperan penting, ia beli satu-dua buah di sebuah kios dan dimakannya satu, atau setengah, lalu disimpan sisanya untuk makan malam. Menurutnya roti balok biar dimakan sedikit sudah bisa memberikan efek kenyang.

Mungkin dari pengalamannya itu, ia menjadi gampang trenyuh, dan selalu mau membantu saat melihat perjuangan mahasiswa dalam menjalani kehidupan kuliah. Meski yang ia bisa lakukan tidak terlalu banyak: dari meminjamkan buku, menyediakan ruangan, membelikan makan siang, atau selemah-lemahnya iman hanya memberikan saran. Namun yang paling sering dan paling penting ia mau mendengar segala kesulitan kuliah, alasan skripsi telat, masalah keluarga, krisis identitas atau keluh kesah percintaan.

Tak pelak ruangannya kerap menjadi klinik konsultasi dadakan. Tidak sedikit yang mengaku telah banyak dibantunya hanya karena diajak bicara di ruangannya yang kecil itu. Bak oasis di padang gurun, siapapun yang membutuhkan bisa datang ke ruangan itu. Semuanya diterima dengan tangan terbuka, tanpa preseden, tanpa judgement. Tak peduli mahasiswa itu telat mengerjakan skripsi, tak pernah masuk kelas, sedang di ambang DO, gatal mencari teman berdebat, atau tertekan dengan persoalan personal, semuanya diterima dengan keramahannya yang khas.

Kalau Anda beruntung, dalam sesi tatap muka itu, ia akan bercerita tentang kisah masa kanak-kanaknya dengan segala sesuatu pengalaman yang magis: tentang kakek yang bisa berpindah tempat secepat angin atau paman yang bisa menyulap asap menari-nari. Ada pula cerita-cerita kenakalannya sewaktu di Seminari: dari akal-akalan para pemuda calon pastor di sana hingga  kekonyolan menghadapi aturan yang serba ketat. Selain itu, tentu ada pula cerita-cerita sentimentil tentang bagaimana ayahnya bertemu ibunya yang jauh lebih muda dan saling jatuh cinta. Tentang kekaguman dan kebanggaan tak pernah lekang atas anak semata wayangnya. Atau bagaimana ia gagal menjalani cita-cita sebagai seorang astronom.

Cerita-cerita itu seolah tak ada habisnya, dan ruangan itu seperti akan terus ada menanti kita mampir bertegur sapa, berkeluh-kesah atau bertukar tawa. Seperti sebuah proses panjang saling memaknai yang seperti Mas Nur sendiri yakini, seharusnya tak akan pernah selesai. Karenanya saat ia wafat, ada semacam rasa tidak percaya bahwa ruangan itu benar-benar ditinggalkan penghuninya, diskusi itu tak ada lagi. Kepergian Mas Nur lebih seperti saat kita sedang asik ngobrol dalam ruangannya dan tiba-tiba ia menceletuk harus segera pergi entah dengan alasan mengajar, ada kuliah S3, atau migrannya yang reguler menerpa. Tapi kali ini terburu-buru menemui Sang Khalik.

Jika ada satu guyonan terakhir yang ingin saya sampaikan kepada Mas Nur, ialah wajah tenang dalam pembaringan terakhirnya: mirip sekali dengan wajah Sutan Sjahrir, salah seorang yang ia kagumi. Namun, mungkin ia bakal segera menyanggah, menganggap bahwa ucapan saya itu, dan segala tulisan ini, hanya akan membuat pemaknaan atas dirinya menjadi “final”. Lalu, dengan tawa terkekehnya yang khas, ia menutup obrolan kali ini.

 

Kontributor : Bramantya Basuki (Alumnus Media Parahyangan Angkatan 2005)

One Comment;

  1. Budi Yoga said:

    rest in peace Mas Nur, dan terimakasih sekali buat Bram dan Media Parahyangan.

*

*

Top