Romantisme Orba: Fakta atau Dongeng?

Ilustrasi tulisan Romantisme Orba: Fakta atau Dongeng? Ilustrasi oleh: Brenda Cynthia

NASIONAL, MP – Manusia tidak pernah mengenal kata puas. Selalu ada ruang untuk meminta dan melakukan lebih. Begitu pula dalam gejolak politik Indonesia yang sedang panas.

Pemilihan Umum 2019 baru-baru ini selesai dilaksanakan. Bahkan KPU telah mengumumkan pemenang berdasarkan hasil suara tertinggi. Namun, beberapa kisah menarik muncul ke permukaan. Salah satunya berasal dari sebuah partai politik yang “menjual” Orde Baru (Orba), Partai Berkarya.

Partai Berkarya sendiri adalah fusi dari dua partai politik, yakni Partai Beringin Karya dan Partai Nasional Republik. Didirikan pada 15 Juli 2016, dan kini diketuai oleh Tommy Soeharto. Tommy sendiri adalah putra kandung dari Presiden Republik Indonesia ke-2, Soeharto.

Partai Berkarya secara terang-terangan menjual Orde Baru dalam slogannya. Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya, Titiek Soeharto, yang juga merupakan anak sulung dari Soeharto mengatakan bahwa Indonesia perlu kembali ke masa Orde Baru. “Sudah saatnya Indonesia kembali seperti waktu era kepemimpinan Bapak Soeharto, yang sukses dengan swasembada pangan, mendapat penghargaan internasional dan dikenal dunia,” ujarnya.

Kalimat yang sering kita lihat di truk-truk, “piye kabare, enak jamanku toh” bukan muncul tanpa alasan. Ketidakpuasan atas capaian saat ini, melahirkan kembali apa yang dinamakan romantisme Orde Baru, dimana pada masa tersebut, biaya kehidupan yang murah, banyaknya tersedia lapangan kerja, dan lain-lain. Masyarakat menyatakan rindu akan jaman dimana kebutuhan serba murah itu. Jaman sekarang, kesenjangan dan kepincangan sosial malah melebar. Begitu pula dengan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) yang kini bak dianggap budaya di Indonesia.

Menurut survei yang dilakukan Tirto terhadap 600 responden, sebanyak 78,54 % responden menyatakan bahwa masa kepemimpinan Soeharto berhasil membangun dan memajukan Indonesia. Kondisi teratas yang dikaitkan masyarakat Indonesia dengan masa pemerintahan Soeharto adalah bagaimana ekonomi berjalan stabil dan sejahtera.

Dua dari tiga kesan terkuat tentang zaman Soeharto menurut anak-anak usia 16-30 tahun adalah “kestabilan dan kesejahteraan ekonomi” dan “hukum yang menciptakan rasa aman dan kondusif”.

Tidak hanya itu, sebanyak 30.45% responden memilih Presiden Soeharto pada era Orde Baru sebagai presiden yang memberikan hidup paling nyaman dan makmur, menjadikannya sebagai nomor satu. Posisi kedua ditempati Presiden Joko Widodo dan disusul oleh Presiden SBY di peringkat ketiga.

Survey Indobarometer juga menempatkan Presiden Indonesia ke-2 itu sebagai presiden paling berhasil sepanjang sejarah Indonesia, dengan perolehan 32,9% responden. Posisi kedua diikuti oleh Presiden Soekarno dan ketiga oleh Presiden Joko Widodo.

Pemulihan Ekonomi Indonesia

Pada zaman Presiden Soekarno, masalah ekonomi menjadi urgensi karena Soekarno lebih berfokus pada arena politik. Akibatnya, kebijakan-kebijakannya banyak memberi dampak negatif bagi perekonomian Indonesia, seperti memutus hubungan dengan negara-negara barat dan pencetakan uang berlebih yang mengakibatkan hiperinflasi.

Pemerintah Orde Baru berhasil menekan angka inflasi yang tejadi di Orde Lama, dari 635% pada 1966 menjadi 112%. Pemerintah juga kembali bergabung dengan IMF (International Monetary Fund), PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), dan Bank Dunia pada pertengahan akhir tahun 1960-an. Bantuan keuangan pun mengalir dari negara-negara luar.

Kebijakan-kebijakan seperti larangan pendanaan domestik dalam bentuk utang domestik ataupun pencetakan uang dan mekanisme pasar bebas berhasil menciptakan kestabilan harga. Investor asing kembali berinvestasi di Indonesia dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ditambah lagi, Indonesia yang bergabung dalam OPEC (Organization of Petroleum-Exporting Countries). Harga minyak yang sempat melambung tinggi di pasar internasional meningkatkan pendapatan pemerintah Indonesia kala itu.

Harga sembako yang serba murah jika dibandingkan dengan saat ini, mungkin menjadi alasan mengapa masyarakat rindu akan zaman Soeharto. Semua harga barang murah. Pada tahun 1998, sebelum Soeharto lengser, harga bahan bakar premium hanya Rp1.200,00 per liter. Harga beras masih sekitar Rp1.100,00 per liter, harga nasi padang Rp2.300,00 per porsi, dan harga mi instan hanya Rp250,00 per bungkusnya. Kalau dibandingkan dengan harga sekarang, pada saat itu tentu jauh lebih murah.

Meski demikian, pada masa Orba, kegiatan ekonomi terpusat pada pemerintahan dan dikuasai oleh kroni-kroni presiden, seperti dikutip dari Kompas. Posisi Bank Indonesia juga tidak independen, BI hanya dijadikan alat penutup defisit pemerintah.

Jadi, apakah kebijakan Orde Baru mendesak untuk saat ini?

Menelaah lebih jauh pada zaman Orde Baru, memang banyak prestasi yang dituahkan. Namun, duka di dalamnya tidak boleh semena-mena dilupakan. Kekejaman Soeharto semasa kepemimpinannya sangat dirasakan oleh orang-orang yang menentang dan mengkritiknya. Mereka menjadi sasaran empuk kekejaman para tentara.

Korupsi dalam Tubuh Keluarga Soeharto

Tuduhan korupsi yang dilayangkan kepada Soeharto dan keluarganya tak bisa dipandang sebelah mata. Pada 1 September 1998, Kejaksaan Agung menemukan indikasi penyimpangan pengelolaan dana dari yayasan-yayasan yang dikelola Soeharto dan keluarganya. Ada 7 yayasan yang diperiksa dengan total aset mencapai 4,014 triliun rupiah. Kekayaannya terbilang fantastis, apalagi kala itu, krisis moneter tengah merajalela di Asia. Kekayaan tersebut dibangun dari kegiatan monopoli dan kontrol atas sektor-sektor besar kegiatan ekonomi di Indonesia.

Tambah lagi, Soeharto dan keenam anaknya tidak menanggapi permintaan untuk melakukan wawancara.

Infografik kasus korupsi Soeharto. Ilustrasi oleh: Brenda Cynthia

Soeharto dikenal sebagai Bapak Pembangunan, telah mengubah banyak wajah Indonesia. Namun, pembangunan masa orde baru cenderung Jawa-sentris, berpusat pada Pulau Jawa, khususnya Jakarta sebagai ibukota negara. Warga negara Indonesia bagian timur sering kali dianggap warga negara kelas dua, hampir-hampir tidak dilakukan pembangunan di daerah sana.

Petrus, Senjata Ganas Rezim Soeharto

Zaman Soeharto adalah zaman penuh rasa takut. Penculikan dan pembunuhan, terjadi dimana-mana. Tidak ada kebebasan mengemukakan pendapat. Pemilu hanya dijadikan sebagai panggung sandiwara, yang pilihannya kembali pada figur-figur itu saja. Pemerintah Indonesia menjadi otoriter.

Penembakan misterius, disingkat Petrus, adalah hukuman tembak terhadap preman dan bramacorah tanpa adanya keputusan hukum sebelumnya. Petrus dianggap menjadi mesin efektif dalam menekan kriminalitas Indonesia. Dilaporkan, koban jiwa akibat penembakan misterius ini mencapai 10.000 jiwa, tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bandung.

Tujuan Petrus sederhana, membasmi orang-orang yang dianggap “sampah masyarakat”. Muncul dan hilang tanpa jejak, Petrus sering kali ditakuti rakyat pada zaman Orba. Bertato saja sudah cukup dijadikan alasan pembunuhan. Salah satu korban yang berhasil selamat dari kejamnya Petrus adalah Bathi Mulyono.

Bathi berhasil lolos dari tembakan Petrus. Beliau kabur dan memilih hidup bersembunyi di Gunung Lawu selama 2 tahun. Ia juga terpaksa meninggalkan istrinya, Siti Noerhayati yang tengah hamil tua. Barulah setelah Petrus mereda, beliau berani kembali ke rumahnya. Bathi Mulyono sendiri adalah ketua Yayasan Fajar Menyingsing, organisasi massa yang menghimpun ribuan pemuda di Jawa Tengah. Bisnisnya mulai dari jasa broker sampai dengan lahan parkir.

Kisah lain datang dari Trimurjo alias Kentus. Dikutip dari Tempo, Kentus sangat menderita akibat Petrus ini. Satu per satu temannya hilang. Wahyo, Tekuko, Kojur, Iren, Slamet Gajah, Slamet Gaplek, Polimron, Peno, dan Bandi Ponyol. Rasa takut membawa Kentus serta sahabatnya yang juga target dari Petrus datang dan meminta perlindungan pada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di Jakarta tahun 1983.

Kedua nama di atas hanya segelintir dari puluhan ribu jiwa yang menjadi sasaran Petrus, kebanyakan tidak seberuntung mereka. Banyak dari mereka hilang, tubuhnya tak lagi ditemukan. Tidak pernah ada keadilan bagi mereka. Keluarga korban dan aktivis pun mengadakan Aksi Kamisan, aksi damai sejak Januari 2007 dari para korban pelanggaran HAM di Indonesia. Lebih dari 500 Aksi Kkamisan dilaksanakan, namun jalan terang tak kunjung ditemukan.

Kritikan untuk Pemerintah

Masa Orde Baru memang dikenang. Indonesia bertumbuh dan berubah drastis, namun apakah Orba adalah hal yang diperlukan Indonesia sekarang?

Munculnya suara-suara untuk kembali ke masa Orba bukannya tanpa alasan. Masyarakat merindukan Indonesia yang sejahtera dan makmur, dimana pembangunan berjalan dengan baik dan ekonomi bertumbuh pesat. Meski demikian, masyarakat juga menolak Indonesia kembali ke masa Orba.

Menurut survei, sebanyak 62,9% responden menolak apabila keluarga Soeharto kembali ke panggung perpolitikan Indonesia. Kebanyakan masyarakat muda memang tidak mengalami masa Orde Baru, namun bagi yang mengalaminya, tidak akan berpikir dua kali sebelum menolak untuk kembali ke zaman Orba.

Romantisme Orba ini harusnya dianggap sebagai kritik. Dari mana munculnya pikiran-pikiran seperti ini? Apa semata-mata hanya slogan politik atau memang sebagai bentuk ketidakpuasan pada pemerintahan saat ini? Romantisme Orba ini dapat dianggap sebagai kritik terhadap pemerintah, apa yang harus ditingkatkan dan diperbaiki. Ingat, manusia tak pernah puas dan selalu berusaha mencapai kepuasan yang tak pernah ada itu.

Romantisme Orba boleh dikatakan sebagai pemacu dan pendorong pemerintah untuk lebih menyejahterakan rakyatnya, membuktikan bahwa zaman sekarang dapat menjadi lebih baik daripada Orde Baru. Bahwa masyarakat tak perlu jauh-jauh bernostalgia ke zaman dulu karena zaman sekarang pun mereka dapat sejahtera.

 

Agnes Zefanya | Brenda Cynthia

Related posts

*

*

Top