[Resensi] The Gentlemen: Perebutan Monopoli Marijuana Dibalut Komedi

RESENSI, MP — The Gentlemen merupakan salah satu karya terbaik dari Guy Ritchie. Dengan genre action-comedy, film ini mampu mengguncang pikiran para penonton. Pada awal film diperlihatkan satu orang yang mendatangi café untuk bersantai sejenak. Kondisi tersebut menjadi mencekam karena orang tersebut ditembak oleh orang yang tidak diperlihatkan mukanya. Scene kemudian berganti menjadi dua orang baru didalam suatu rumah mewah. Raymond Smith (Charlie Hunnam) dan Fletcher (Hugh Grant) menjadi dua pemeran utama yang akan membawakan alur cerita dari awal hingga akhir.

Alur cerita campuran dan dipotong menjadi beberapa potongan cerita seperti pada film Memento (2000) karya Christopher Nolan membuat penonton tidak bisa berkedip saat menonton part per part. Walaupun secara alur tidak seberat Memento, namun dengan cara sang sutradara Guy Ritchie dalam menyampaikan alur film yang mundur patut diacungi jempol. Alur tersebut terbentuk dari scene per scene saat Fletcher menceritakan hal-hal yang tidak diketahui oleh Raymond, yaitu latar belakang munculnya motivasi Dry Eye (Henry Golding) untuk membunuh bos Raymond, mafia narkoba jenis mariyuana di daerahnya yang bernama Michael ‘Mickey’ Pearson (Matthew McConaughey).

Karakter para tokoh menjadi salah satu daya tarik film ini. Tokoh-tokoh tersebut tidak hanya berperan sebagai figuran untuk menghilangkan rasa monoton pada film, namun juga membawakan alur baru dimana yang termotivasi untuk membunuh Mickey bukan hanya satu orang namun berbagai pihak dengan cerita yang panjang. Gerombolan tokoh tersebut juga terdiri dari berbagai lapisan, mulai dari 4 orang youtuber yang hobi mencari konten termasuk ketika mencuri dan menghajar para buruh dalam pabrik bawah tanah Mariyuana milik Mickey, hingga sesama mafia yang ingin membeli pabrik Mariyuana milik Mickey yaitu Dry Eye dan Matthew Berger (Jeremy Strong).

Hal tersebut membuat film ini tidak terasa membosankan dan alur-alur tersebut menarik untuk diikuti. Ditambah dengan keunikan setiap tokohnya seperti Fletcher yang terus menyuruh Raymond untuk melayaninya dirumah Raymond semacam memasak atau bermain dubbing suatu video percakapan orang, menjadi satu dari banyaknya lelucon pada film ini sehingga film serius tapi santai patut disematkan pada berbagai alur ini dan membuat penonton lupa bahwa film ini berdurasi lebih dari dua jam.

Pada pertengahan hingga ke akhir film, Guy Ritchie memberikan beberapa kejutan pada film ini dalam bentuk plot twist. Ya, tidak hanya satu. Pertama, ternyata Mickey tidak mati karena diselamatkan Raymond (scene pada awal film). Kedua, ternyata Fletcher ingin menyelamatkan diri sendiri dengan memberitahu komplotan Dry Eye mengenai letak Raymond. Ketiga, bahwa Matthew ternyata menjadi dalang utama dibalik banyaknya masalah yang timbul yang membuat harga Mariyuana di pasaran menjadi jatuh. Plot twist yang terakhir adalah para youtuber sadar akan situasi tersebut (Fletcher berkhianat) dan mau menolong Raymond untuk ketiga dan (mungkin) terakhir kalinya.

Sebagai penonton saya sangat mengapresiasi kekreatifan Guy Ritchie dalam membuat film dengan poster film yang sangat biasa, yaitu laki-laki berjumlah sekitar 8 orang dengan background putih, namun menghasilkan kualitas film dengan alur yang sangat menarik. Terlebih di jaman sekarang film-film dengan plot twist sangat jarang ditemui, tidak semudah menemukan film bergenre action dengan alur maju yang berpola sama pada alurnya dan akan membuat bosan.

Menurut saya dari sisi lain, alur cerita ini sedikit terlalu cepat sehingga untuk yang tertinggal beberapa menit saja akan kebingungan. Namun, dengan skor IMDB sebesar 8.1, maka bisa dipastikan bahwa film ini menjadi salah satu film dengan plot twist terbaik pada tahun ini.

Alfonsus Ganendra | Novita

*

*

Top
Atur Size