Renovasi Aula UKM, Untuk Siapa?

EDITORIAL, MP — Media Parahyangan bersama dengan unit-unit kegiatan mahasiswa lain setuju jika pihak kampus ingin merenovasi gedung aula UKM tempat kami bernaung, memperbaiki kekurangan-kekurangannya serta menambah fasilitas-fasilitas yang kami butuhkan. Namun, ketika pihak kampus pada akhir tahun 2019 mengumumkan bahwa rencana tersebut akan melibatkan digantinya ruang masing-masing unit menjadi open space, maka dari situ mahasiswa telah memulai mempertanyakan arah rencana kampus.

Seiring berjalan waktu, diumumkan bahwa tidak hanya ruang UKM akan dihilangkan, tetapi seluruh gedung tersebut akan diubah menjadi co-working space, ruang-ruang rapat, kantor BRI, dan kafetaria. Barang-barang UKM yang sekarang pun tidak muat masuk ke tempat yang sudah disediakan, akan dikumpulkan di ‘loker’ yang sekarang bertempat di gudang Listra serta studio dan ruang Potret. Ruang itu, yang saat ini saja sudah tidak cukup untuk memuat barang-barang dua UKM, kini akan digunakan untuk memuat barang semua UKM.

Paling tidak, jika kita yakin pihak kampus benar-benar berniat baik ingin membantu mahasiswanya, niat baik ini bergerak ke arah yang tidak diinginkan mahasiswa. Pengubahan ruang UKM menjadi co-working space tidak menambah manfaat bagi mahasiswa yang selama ini memakainya, tidak menghilangkan masalah yang kini dialami mahasiswa, tetapi justru menambah banyak sekali masalah baru di kemudian hari, di tahun depan ketika mahasiswa kembali menempati dan menggunakan gedung tersebut. 

Pertama, apa yang dibutuhkan oleh mahasiswa adalah optimasi fasilitas yang mungkin ditambah dengan ruang-ruang baru. Apa yang ada dalam rencana baru kampus, yaitu ruang kerja, amfiteater, dan kafetaria yang diluaskan sebenarnya bermanfaat bagi unit-unit kegiatan mahasiswa. Media Parahyangan dapat menggunakan coworking space untuk menyelenggarakan rapat maupun mengadakan diskusi, dan Satre bisa menggunakan amfiteater untuk latihan adegan. Tidak ada juga mahasiswa yang akan melawan rencana tambahan tempat makan di kampus. 

Tetapi dengan pengorbanan yang banyak, yaitu dihilangkannya ruang unit, banyak hal yang dibutuhkan oleh UKM juga tidak terealisasi di rancangan baru ini. Unit-unit kegiatan bela diri tidak mendapatkan tempat sendiri yang berdedikasi untuk latihan fisik dalam jangka waktu yang panjang. Selain itu, barang-barang yang telah menumpuk dan masih akan menumpuk mengingat kebutuhan UKM belum terpenuhi, bukan hanya tidak diperluas, tetapi malah dipersempit. Tidak ada juga, misal, ruang yang didedikasikan untuk kegiatan fotografi dan jurnalistik. Singkatnya, tidak ada banyak tambahan fitur baru di dalam rancangan renovasi, mengingat banyak ruang yang perlu dikorbankan untuk mencapai upgrade tersebut.

Kedua, apa yang kini menjadi masalah bagi mahasiswa pengguna gedung tersebut juga tidak terselesaikan dengan denah rancangan baru. Jika pihak kampus mengkhawatirkan bahwa gedung UKM menjadi sarana bagi kegiatan-kegiatan tidak menyenangkan yang dilakukan oleh oknum-oknum mahasiswa, maka menghilangkan agensi UKM dalam mengatur sendiri penggunaan ruang-ruang di dalamnya (alih-alih memberikannya pada birokrasi kampus) serta membebaskan penggunaannya kepada mahasiswa luas tidak akan menjadi solusi kepada apa yang selama ini dianggap masalah oleh pihak kampus maupun beberapa mahasiswa di unit kegiatan mahasiswa.

Ketiga, dan yang paling penting, rencana renovasi yang berniat baik ini justru akan memberikan banyak masalah baru dan merugikan unit-unit kegiatan mahasiswa pada umumnya. Masalah utama adalah UKM akan kesulitan menyelenggarakan fungsi-fungsi sentral organisasinya beriring dengan akan hilangnya ruang-ruang unit mereka. Lebih dari itu, pengalihan status gedung UKM dari swakelola menjadi diserahkan pada sistem administrasi birokratik kampus, meskipun dikatakan akan dibuat sesederhana mungkin, pada praktiknya dikhawatirkan akan menyulitkan unit-unit kegiatan mahasiswa.

Sebab fungsi ruang unit tidak seremeh yang dikira oleh kampus: ia tidak hanya sekat-sekat tempat anggota unit berkumpul dengan satu sama lain dan gudang bagi unit yang tidak menggunakannya, tetapi memiliki fungsi sentral di dalam banyak pelaksanaan harian unit-unit kegiatan mahasiswa.

Ruang UKM digunakan tidak hanya untuk kumpul tidak jelas dan menyimpan barang yang tidak digunakan, tetapi utamanya untuk: menerima anggota baru, melaksanakan pelatihan bagi anggota baru, menerima tamu dari luar kampus, berkumpul secara informal bagi anggota-anggotanya untuk menyelesaikan tugas unit, mempersiapkan diri dan beristirahat sebelum dan setelah latihan fisik, menjadi markas bagi kegiatan lapangan, seperti liputan, hunting foto, atau bertugas sebagai paramedis di acara tertentu, dan ya, menyimpan barang-barang yang tidak akan cukup dimasukkan ke dalam ‘loker’ dalam rancangan denah renovasi.

Jika fungsi ruang untuk perkumpulan informal dihilangkan, ruang mana yang bisa digunakan untuk menjalankan fungsi-fungsi ini? Konsep open space jelas tidak dapat mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan unit yang telah disebutkan di atas.

Fungsi pertemuan informal ini juga akan disulitkan oleh peraturan baru yang lebih bersifat birokratis.Tentu pihak UKM hanya bisa menggunakan sebagian besar dari fasilitas baru ini melalui izin yang jelas, untuk tujuan yang jelas, dan jangka waktu yang juga jelas. Sekilas, aturan-aturan ini terlihat masuk akal dan diperlukan untuk memoderasi penggunaan ruang kampus, dan memang banyak acara unit kegiatan mahasiswa yang bersifat seperti ini. Namun, lebih banyak lagi acara unit kegiatan mahasiswa, selama ini bernaung di ruangannya masing-masing, yang sifatnya informal, tidak mengikat, memiliki tujuan ‘bonding’, dan dengan jangka waktu yang pasti.

Tentunya jika pengurus suatu unit menginginkan anggotanya untuk berkumpul tanpa disuruh dan menjadi lebih erat satu sama lain secara organik, tidak efektif baginya untuk melakukan itu dengan cara menyuruh anggotanya untuk berkumpul di jam tertentu dengan tujuan tertentu dalam tempat yang telah ditentukan. Singkatnya, tidak ada bonding di kalangan mahasiswa yang membutuhkan birokrasi. Justru kegiatan seperti itu tidak akan terlaksana segera setelah keperluan administratif masuk ke dalam persyaratan.

Betapa krusialnya ruang UKM bagi UKM itu sendiri sulit untuk dilebih-lebihkan. Maka, agaknya mohon pihak kampus memaklumi jika unit kami bersama dengan unit-unit lain menganggap bahwa penghilangan ruang masing-masing UKM ini sangat merugikan tidak hanya bagi pelaksanaan harian UKM, tetapi juga untuk eksistensi UKM itu sendiri. Bagaimana tidak, beberapa unit bergantung pada sarana ruangan yang dimiliki sebagai tempat berkumpul secara informal untuk mengeratkan sense of belonging anggotanya di dalam komunitas, dan beberapa unit sangat membutuhkan sense of belonging dari anggotanya agar dirinya tetap eksis dan berjalan secara fungsional. 

Secara lebih spesifik lagi, rancangan baru ini juga menimbulkan berbagai permasalahan, antara lain:

Coworking Space

Kegiatan UKM di dalam co-working space tidak akan efektif dan efisien, setidaknya tidak secara merata. Bentuk apapun dari ruang terbuka ini tidak dapat secara bersamaan dan optimal mengakomodasi kegiatan jurnalistik, fotografi, teatrikal, maupun bela diri sekaligus–kecuali ruang terbuka tersebut berbentuk ruang kosong, tanpa perubahan dari apa yang sudah ada. Setidaknya dalam kondisi saat ini, setiap kegiatan yang bisa dilakukan di ruangan masing-masing akan dilakukan di tempat dan kegiatan yang membutuhkan ruang lebih akan beralih ke tempat lain di dalam kampus. Sedangkan, apa yang ditawarkan oleh pihak kampus tidak juga memberikan solusi bagi mereka yang selama ini membutuhkan ruang lebih.

Alasan bahwa usulan open space akan membuat mahasiswa antar-UKM menjadi lebih aktif berbaur dan berinteraksi tidak sesuai dengan kenyataan yang sudah ada. Jika BKA melalui Pak Sapto kemarin menyatakan bahwa salah satu harapan open space ini adalah ‘kolaborasi antara MP dan PSM’, maka perlu halnya di sini kami mengklarifikasi bahwa MP telah dan akan selalu mendukung, mempublikasikan, menyiarkan, dan membuat artikel ulasan dari acara-acara PSM.

Tanpa adanya co-working, anggota antar-UKM telah biasa mengunjungi dan menggunakan ruang UKM lain, saling membantu jika ada kebutuhan material, dan berkoordinasi jika ada yang ingin menggunakan area di dalamnya. Dengan atau tanpa open space, unit-unit telah saling berkoordinasi dengan satu sama lain, menyusun acara bersama, dan saling bekerjasama untuk menyelenggarakan kegiatan lintas-unit.

Alasan yang diajukan oleh pihak kampus mengenai keperluan dan urgensi open space ini juga tidak selalu koheren. Romo Harimanto telah menyatakan bahwa salah satu alasan dibuat open space adalah karena COVID. Padahal, seperti yang diketahui bahwa penyebaran COVID rentan lebih cepat jika dalam lingkungan yang terbuka. Ucapan ini lalu dibantah oleh Romo Harimanto sendiri dalam sesi sosialisasi renovasi yang sama, mengatakan bahwa COVID-19 hanya menjadi inspirasi untuk menciptakan “ruang yang sehat”.

Sistem Loker

Sistem loker menjadi salah satu aspek yang harus disorot dalam rencana renovasi ini. Disebut bahwa setiap UKM akan mendapatkan satu loker untuk perlengkapan UKM. Ini menjadi masalah karena dua hal. Pertama, setiap UKM memiliki pola kegiatan dan inventaris yang berbeda. Tidak semua kegiatan ini bisa difasilitasi hanya dengan sistem loker, meskipun, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, akan ada penyesuaian dimensi loker dengan kebutuhan UKM. Bahkan sempat disebutkan juga bahwa mahasiswa harus bisa memilah barang yang mau disimpan di loker seperti proposal dan dokumen penting UKM, padahal justru dokumen seperti itulah yang akan dibawa-bawa oleh mahasiswa agar tidak tercecer dan hilang.

Kedua, sistem loker membuat kegiatan mahasiswa menjadi tidak efektif. Ruang-ruang UKM yang sudah ada merupakan pengaturan dari setiap UKM yang disesuaikan dengan kegiatan dan kebutuhan masing-masing. Jika sistem loker ini diterapkan, mahasiswa harus memindah-mindahkan peralatan setiap kali hendak dipakai, belum lagi apabila tempat open space dan ruang-ruang tertutup yang ada ternyata dipakai oleh kegiatan lain. 

Ketiga, dengan mengusung sistem loker, mahasiswa khawatir bila ada kejadian-kejadian tidak mengenakkan yang menimpa barang-barang mereka. Ruangan loker yang direncanakan bisa diakses semua orang, sehingga semakin tinggi kesempatan bagi orang lain untuk mengakses loker maupun peralatan yang ada di dalamnya. Dengan banyaknya barang dan harganya yang cukup mahal, mereka khawatir bila sewaktu-waktu barang tersebut hilang atau rusak. Walaupun sudah dijelaskan akan dipasang CCTV, hal tersebut juga tidak dapat memastikan keamanan barang milik UKM.

Ada baiknya pihak kampus agar benar-benar memahami nilai dari aset unit-unit kegiatan mahasiswa. Properti ini juga didapatkan menggunakan anggaran kemahasiswaan kampus, yang pada gilirannya dibiayai bersama oleh mahasiswa seluruh Unpar. Alat-alat yang didapatkan dari anggaran ini tidak hanya berupa meja, kursi, dan komputer–terdapat juga alat pelindung diri yang sulit didapatkan, partitur-partitur musik yang sensitif, data wawancara yang tidak boleh diakses semua orang, alat penunjang studio fotografi bernilai jutaan rupiah, dan masih banyak barang-barang lainnya.

Jika pertimbangan atas penempatan properti UKM ini mendapatkan prioritas kedua, ketiga, atau malah lebih kebawah lagi dibandingkan keinginan untuk mendirikan open space atau amfiteater, hal itu adalah salah satu paling mengkhawatirkan dari keseluruhan rencana kampus untuk melakukan renovasi aula UKM.

Foodcourt

Jika dibandingkan dengan apa yang perlu dihilangkan, tidak ada urgensi bagi pihak kampus untuk menambah kembali foodcourt yang sudah berlimpah di dalam dan sekeliling wilayah Unpar. Lebih lanjut, mengenai kemampuan wirausaha mahasiswa, program ini  tidak tepat sasaran. Hampir seluruh kegiatan kewirausahaan mahasiswa Unpar berbasis teknologi dan internet, misal sistem PO dan reseller yang tidak mengandalkan kios permanen. Bila memang ada keperluan sementara untuk mendirikan stand pun, mahasiswa biasa mendirikan di tempat yang lebih strategis seperti Taman FISIP atau yang dikenal dengan nama Tamsip, dan sekitar gedung PPAG. Oleh karena itu, kewirausahaan bukan alasan yang cukup kuat untuk mengubah satu lantai gedung UKM menjadi tempat yang belum tentu akan digunakan sesuai dengan fungsinya.

—————————————

Tujuan dari pemaparan ini adalah untuk menjelaskan bahwa niat baik dari kampus ini menghasilkan banyak ide buruk. Artikel ini adalah usaha untuk menyampaikan bahwa keberatan kami tidak dapat disimpulkan menjadi sekadar ‘tidak ingin kehilangan ruangan’ saja, melainkan juga memiliki banyak argumentasi di dalamnya, terutama berkaitan dengan situasi yang telah ada.

UKM tidak anti-perubahan, melainkan menginginkan segala keputusan yang bersangkutan dengan keberlangsungan kegiatan kemahasiswaan, ada baiknya melibatkan mahasiswa itu sendiri. Bagaimanapun juga, idealnya ketika pihak kampus memutuskan untuk membangun atau merenovasi fasilitas kampus, apapun alasannya, pada ujungnya fasilitas tersebut akan digunakan oleh mahasiswa.

Oleh karena itu, cukup mengecewakan ketika pihak kampus serasa tidak mendengarkan apa yang telah diutarakan oleh mahasiswa. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rancangan desain hari ini dengan rancangan desain di awal 2020, selain fakta bahwa di antara dua waktu tersebut mahasiswa telah mengkompilasikan alasan keberatan penghilangan ruangan unit dan kebutuhan-kebutuhan seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh UKM dalam rangka pembaharuan aula UKM. Apa yang disampaikan di sini dan di artikel liputan kami sebelumnya tidak jauh berbeda dengan apa yang kami katakan delapan bulan lalu, dan posisi kami belum berubah. 

Apa yang kami butuhkan bukan sekadar ‘sosialisasi’ satu arah dari pihak kampus, melainkan dialog dua arah secara berkelanjutan untuk menentukan apa dan bagaimana sebaiknya proses renovasi ini dirancang dan diselenggarakan. Mahasiswa tidak butuh dan tidak mau ‘terima jadi’. Ketika tahun depan para anggota UKM dan mahasiswa-mahasiswa lainnya kembali menginjak kampus Ciumbuleuit, tentu besar harapan kami bahwa apa yang kami lihat sesuai dengan apa yang kami butuhkan, dan kami tidak terkaget-kaget atau menyayangkan perubahan yang terjadi.

Sebab, jika rencana yang sudah ada sekarang ini tetap berjalan sesuai dengan apa yang disosialisasikan kemarin, maka kita sama-sama mengarah ke skenario paling buruk yang tidak diinginkan mahasiswa maupun kampus: skenario dimana mahasiswa tidak merasa nyaman, ingin, atau butuh menempati dan menggunakan fasilitas baru yang telah memakan proses dan biaya cukup banyak tersebut. Di dalam skenario ini, mereka yang merasa kehilangan tempat untuk beraktivitas akan mencari tempat baru atau mengurangi aktivitasnya.

Akibatnya, sense of belonging dan kegiatan-kegiatan informal akan menurun drastis, membahayakan eksistensi beberapa UKM. Unit-unit yang selama ini tidak menggunakan aula UKM akan semakin menjauh dari gedung baru itu, sebab mereka tidak melihat adanya fasilitas baru yang akan mengubah arah operasional mereka. Pada akhirnya, gedung baru tersebut akan mengalami krisis identitas: aula UKM tanpa UKM, gedung yang disiapkan untuk mahasiswa tanpa adanya mahasiswa.

Kalau seperti itu, sulit bagi kita untuk tidak mengajukan pertanyaan ini: sebenarnya mengapa dan untuk apa ini dilakukan? Mengapa pihak kampus begitu bertahan dengan desain yang sudah disiapkan? Apa pertimbangan untuk masing-masing bagian perubahan gedung yang ternyata tidak menguntungkan mahasiswa? Lalu, yang paling penting, renovasi gedung baru ini sebenarnya untuk siapa?

Penulis

Related posts

*

*

Top
Atur Size