Rektor Unika Parahyangan, Dr.Cecilia Lauw, Menanggapi Kasus Plagiat: “Kawah Candradimuka itu Harus Dilalui”


Stoppress – 5 Februari 2010 – Pada tanggal empat Januari 2010, khalayak Unpar dikejutkan oleh tulisan permintaan maaf redaksi koran harian nasional The Jakarta Post. Pasalnya, dalam permintaan maaf itu tercantum nama seorang Profesor Unika Parahyangan, Anak Agung Banyu Perwita. Sang Profesor rupanya mengirim tulisan plagiat, dan terlanjur diterbitkan oleh The Jakarta Post tanggal 12 November 2009. Media Parahyangan lantas mewawancara Rektor Unpar, Dr. Cecilia Lauw, meminta tanggapan. Berikut wawancaranya:

Stoppress (SP): Pertanyaan saya tidak secara langsung mengenai Pak Banyu, tapi saya ingin tanya, apa tanggapan Ibu selaku Rektor menanggapi seorang Profesor yang melakukan plagiat?

Bu Cecil: Kemarin sore, kebetulan itu saya buka facebook, email dari Ananda, karena sudah dekat waktu pulang. Email dari Ananda itu baru tujuh menit masuk. terus saya buka. Saya sangat terkejut. Saya baru tahu pada saat itu (soal tulisan plagiat-red). Kemudian Pak Banyu saya panggil, lalu dia datang dan kita bicara bertiga dengan Romo Tarpin. Romo Tarpin itu Doktor dalam bidang moral. Pak Banyu mengatakan bahwa dia sangat menyesal, dia mengaku salah. Dia siap dihukum apapun yang saya berikan.

SP: Itu pertemuan yang dilakukan kemarin?

Bu Cecil: Iya. Tapi pada saat itu saya belum melihat materinya . Baru tadi pagi saya lihat.

SP: Setelah berbagai masalah terkait Pak Banyu, mulai dari pengunduran diri dari jabatan wakil Rektor V,  lantas permasalahan plagiat ini, kalau boleh ditanya, bagaimana perasaan Ibu saat ini?

Bu Cecil: Saya itu sangat sedih ya, sangat marah, sangat kecewa. Tapi saya juga tetap sangat sayang Pak Banyu. Biar bagaiamanapun dia dua setengah tahun jadi Wakil Rektor. Meski begitu hukuman berat tetap harus diberikan kepada Pak Banyu.

SP: Nah itu kan posisi sulit ya Bu. Bagaimana mengahadapi permasalahan itu Bu?

Bu Cecil: Belum Tahu, tapi saya percaya kalau Roh Kudus membimbing kita kalau kita menerima pencerahan dari Roh Kudus. Apalagi kalau dibantu oleh segenap Masyarakat Akademika Universitas.

SP: Pernah redaksi Media Parahyangan mewawancarai Ibu terkait visi-misi Ibu sebagai Rektor membawa Unpar menjadi kampus go-internasional. Dalam rangka itu Unpar harus menjadi kampus yang terdepan dalam menjaga integritasnya. Nah, dihadapkan dengan permasalahan saat ini, seolah Unpar seperti ditabrak musibah. Bagaimana tanggapan Ibu soal ini?

Bu Cecil: Yang pertama soal pengunduran diri dari jabatan Wakil Rektor V, itu atas permintaan Pak Banyu. karena perilaku Pak Banyu itu membuat saya banyak dikritik orang. Tapi dia menyadari dampaknya itu lalu kemudian dia mengundurkan diri. Yang kedua mengenai Go Internasional, saya percaya bahwa dalam setiap masalah jika kita bisa mengelola masalah dengan baik, kita bisa mendapatkan mendapatkan buah yang lebih baik daripada kalau tidak ada masalah. Semoga dengan tercorengnya nama Unpar ini, maka segenap Civitas Academica kita, dosen, maupun kita, bangkit semangatnya untuk lebih baik lagi. Itu yang saya harapkan. Jadi jangan kalau ada masalah terus kita hancur. Jangan. Kita harus me-manage masalah itu sehingga berubah menjadi kebaikan. Saya ini seorang Katolik yang sejati. Sejati itu menurut saya artinya, dalam setiap permasalahan selain taat pada peraturan yang biasa, saya juga selalu mencari pemecahan dari sisi pandangan lain. Kamu tahu bahwa Katolik itu prinsipnya kan cinta kasih. Bukan berarti tidak menghukum yang salah, pasti itu harus dihukum tetapi juga kita tidak menghukum mati. Bagaimana caranya sekarang? Saya tidak tahu. Saya dengar Pak Banyu itu sudah minta maaf di depan kelas. Bayangkan,bagiamana perasaan seorang Anak Agung yang berbuat seperti itu. Hanya penyesalan yang penuh yang bisa seperti itu.

Bu Cecil: Jadi, kalau kita nyetir mobil, sengaja atau tidak disengaja kita nabrak orang, lalu orangnya mati, Surat Izin Mengemudi-nya (SIM) diapain?

SP: Dicabut

Bu Cecil: “Tapi, sesudah dia dihukum, Sesudah dia bertobat. Tentu makan waktu lama ya. Kalau suatu saat dia minta lagi SIM boleh ga?”

SP: Boleh

Bu Cecil: “Ya benar, tapi periode pertobatan itu yang kita tidak tahu berapa lama ya. Mungkin lima tahun, mungkin sepuluh tahun, kita tidak tahu. Tapi yang jelas, kawah Candradimuka itu harus dilalui. Penderitaanya harus dirasakan”.

SP: Analogi SIM tadi, apakah itu merujuk pada gelar Profesor?

Bu Cecil: Saya belum tahu apakah ada prosedur untuk mencabut seseorang dari gelar Profesor. Karena biasanya pemberian gelar Profesor. Belum pernah ada istilahnya pencabutan gelar Profesor. Saya akan menyelidiki terlebih dahulu, mendengarkan berbagai pihak, sebelum akhirnya mengambil keputusan.

SP: Jika misalnya prosedur itu ada?

Bu Cecil: Saya sudah minta dicarikan. Tapi bukan berarti saya mau mencabut gelarnya pak Banyu. Nanti kita lihatlah. Banyu itu kemarin masih dalam posisi terpukul, tapi saya kira pagi ini dia sudah lebih kuat. Pagi tadi dia sudah mengirim saya email.

SP: Kalau misalnya sekarang ibu punya kesempatan untuk menyampaikan pesan pada khalayak Unpar maupun masyarakat umum,kira-kira apa yang mau disampaikan ibu?

Bu Cecil: Permasalahan ini pasti akan membawa citra kalau Unpar ini adalah sarangnya plagiat. Mungkin iya mungkin tidak, saya juga tidak tahu. Tapi minimum menjadi pelajaran, bahwa dalam menulis itu harus jujur. Yang pikiran orang lain ditulis, yang pikiran kita dibedakan. Kedua, Untuk dapat mengembalikan citra Unpar menjadi Universitas yang baik dan bersih, maka saya menghimbau mahasiswa lebih baik lagi dalam pembelajaran. sebagai dosen, mengajar dengan lebih baik, Penelitian. Jadi seperti yang saya katakan tadi, dalam setiap permasalahan itu harus ada hasil baik yang kita peroleh. Kalau tidak kita nanti akan menerima dampaknya saja. Contoh, Aceh, Hancur karena Tsunami. Sekarang dibangun lebih baik dari sebelumnya. Kira-kira Unpar itu padanannya seperti itu. Kita anggap sekarang Unpar hancur. Dan ingin membangun Unpar menjadi lebih baik, lebih pintar, Dosen maupun mahasiswa. Makanya ini menjadi pelajaran, bukan hanya untuk Pak Banyu, tetapi untuk kita juga.

SP: Dalam pertemuan kemarin itu empat mata saja dengan Pak Banyu?

Bu Cecil: Saya didampingi Romo Tarpin, berbicara dengan Pak Banyu. Romo Tarpin itu memang Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan, tapi beliau itu Doktor dalam bidang moralitas, itulah pertimbangan utama waktu saya meminta Romo Tarpin menjadi WR III. Selain itu beliau kan anggota senat Universitas dewan etik. Dan beliau kan seorang Romo, kalau saya emosi, beliau bisa lebih bisa bijak. Bukan saya tidak ingin menghukum pak Banyu yah… tapi saya juga tidak ingin tidak memberi dia kesempatan untuk bangkit lagi. Karena itu sangat sulit. Saya juga tidak tahu apakah Pak Banyu kuat. Saya sangat bersedih, tapi saya sangat sayang Pak Banyu. Hal yang paling memberatkan untuk saya adalah pada waktu saya harus menghukum pak Banyu. Tapi karena saya rektor, saya musti. Kalian bantu ya, apa yang pantas diberikan.

SP: Lantas bagaimana dengan media-media umum Bu? jika ternyata berita ini tidak cukup menarik untuk media di luar tentu kepada Pak Banyu harus ada ruang untuk klarifikasi atau menjelaskan.

Bu Cecil: Sebentar lagi saya yakin kok, semua media-media akan menghubungi saya habis. Pak Banyu itu kelas internasional. Kalau dia dikeluarkan dari Unpar apakah dia bisa hidup di tempat lain? tidak bisa. di Unpar lah tempat dimana orang-orang yang membenci dia ada, tapi di Unpar juga tempat orang-orang yang menyayangi dia ada. Kalian Lihat Facebook Pak Banyu, yang memberi dia dukungan banyak. Tidak bisa masalah ini diselesaikan dengan menendang Banyu keluar dari Unpar. Tidak, tidak seperti itu. Itu akan membuat Unpar tidak ada bedanya dengan Institusi lain. Tapi kita dasarnya adalah cinta kasih. Hukuman tetap harus. Pertolongan juga harus dilakukan. Supaya dia bisa bangkit lagi di kemudian hari lebih baik dari sekarang. Caranya bagaimana saya tidak tahu. Kalau kalian punya ide, beritahu ke saya. Nanti suatu saat kita akan ketemu suatu formula yang tepat. (MF, AF, AWB)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *