Refleksi: Masyarakat Sudah Alergi Perbedaan

Suasana Pameran Komik ‘Refleksi Sosial dalam Visual’ di Bandung Creative Hub. dok/MP. Suasana Pameran Komik ‘Refleksi Sosial dalam Visual’ di Bandung Creative Hub. dok/MP.

Dijajarkan lebih dari 20 lembar kertas putih besar dihiasi dengan beberapa kotak sebagai batas ruang gambar. Gambar-gambar yang terdapat pada kertas tersebut merupakan komik ciptaan Aji Prasetyo dan Kurnia Harta Winata yang dipajang pada acara “Refleksi Sosial dalam Visual.” Komik yang dipajang merupakan cuplikan dari beberapa buku kedua komikus tersebut. Media lembar komik yang besar membuat pembaca butuh untuk bergerak setiap satu langkah untuk memuaskan penasarannya terhadap kelanjutan cerita dalam lembar berikutnya.

Komik yang dipamerkan vokal menyuarakan dan mengkritik kelompok intoleran beragama di Indonesia. Beberapa fenomena pun sempat disempil ditengah cerita seperti Tragedi Cikeusik dimana sejumlah pemeluk Ahmadiyah dibunuh dan Tragedi Sampang ketika ratusan keluarga Syiah diusir dan bahkan dibunuh.

Dalam salah satu lembar komik, Aji memaparkan akar dari kehadiran isu intoleransi pada masyarakat dimulai dari takutnya menghadapi perbedaan. Ketakutan ini menjadi kebencian terhadap perbedaan. Dari dua hal ini, munculah puncaknya, yakni membasmi perbedaan itu sendiri. Maka dari itu, intoleransi tumbuh dan merambat.

Aji mengatakan masyarakat alergi dengan perbedaan karena konsep bangsa yang sudah luput. Definisi bangsa adalah sekelompok manusia yang tinggal di tempat yang sama dan mengalami nasib yang sama. “Gak ada tuh yang mengatakan sekelompok yang beragama sama,” gagas Aji. Indonesia, dari Sabang sampai Marauke, memiliki suku berbagai macam dengan ratusan bahasa dan puluhan agama. Aji mengatakan bahwa kalau mau menyebutkan diri Indonesia tulen, maka harus menerima perbedaan. Bagi kelompok intoleran, dipertanyakan apakah masih memahami konsep bangsa di Indonesia.

Isu intoleran mulai merambat seperti virus mulai dari politik sampai ke ranah pendidikan. Isu agama dipakai politikus untuk mencapai kepentingannya dan mencapai kekuasaan. Di ranah pendidikan, sekolah negeri dinilai tidak mampu mengakomodir minoritas. “Banyak sekolah negerti terlihat seperti madrasah. Ini kan sebuah kekeliruan,” ujar Aji.

Intoleransi terawat dengan baik dan tumbuh sehat karena hilangnya argumen dari pihak toleran. “Isu ini sebagai virus, merambat dan susah menyembuhkannya,” jelas Aji. Tidak adanya perlawanan dan adu argument untuk menyangkal kelompok intoleransi yang membuat kaum intoleran merasa paling benar.

Aji mengilustrasikan dengan pihak intoleransi sebagai pencopet di dalam bis. Jika seseorang dicopet, dan semua yang ada di bis tahu siapa pelakunya tetapi milih untuk diam, maka pencopet berhasil mencopet dan kabur. Hal ini mungkin membuat pencopet untuk mencopet kembali dengan santai. Tetapi, jika semua orang yang dibis kompak untuk teriak copet! maka pencopet pun berhasil ditangkap. Harusnya copet itu kalah dibanding orang banyak dibis. Hal ini serupa dengan isu intoleransi.

Kelompok yang vokal menyuarakan intoleransi dan kebencian dibiarkan dan  diabaikan, sehingga pengaruh intoleransi semakin banyak penggemarnya. “Rasa takut kita untuk bersuara, membuat kelaliman, kezaliman, itu bisa terjadi dengan nyantainya tanpa ada yang larang,” tambah Aji.

Pameran komik tersebut merupakan salah satu rangkaian acara Bandung Lautan Damai. Acara ini juga bekerjasama dengan pihak lainnya, salah satunya Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jakatarub). Acara digelar selama tiga hari, mulai dari 8 sampai 10 Desember lalu di Bandung Creative Hub.

 

Ranessa Nainggolan