Pusik Parahyangan: Apakah Unpar Sedang Baik-Baik Saja?

Suasana diskusi Pusik Parahyangan: Apakah Unpar Sedang Baik-Baik Saja? pada Rabu (28/8) silam di Coop Space. dok/MP

STOPPRESS, MP – Eksistensi hak mahasiswa menjadi poin utama dalam pembicaraan yang berlangsung selama kurang lebih 2,5 jam pada diskusi yang bertajuk ‘Apakah Unpar Sedang Baik-Baik Saja?’ pada Rabu (28/8) silam. Diskusi ini diadakan oleh Pusik Parahyangan, dimoderatori oleh Matthew Adith, dan bertempat di Coop Space. 

Diskusi tersebut menjadi menarik, sebab pihak-pihak yang dianggap ‘bertanggungjawab’ atas penuntutan hak dari mahasiswa Unpar sendiri hadir dalam diskusi ini. Ketua Majelis Perwakilan Mahasiswa, Rovolin Lumban Gaol; Presiden Mahasiswa, Denny Rizki, dan mantan staf MPM 2017/2018, Carlo Rondonuwu hadir sebagai pembicara dalam diskusi tersebut. Ketiganya saling mengeluarkan penjelasan dan apa saja yang sudah dilakukan oleh organisasi terkait untuk memperjuangkan hak-hak mahasiswa yang berada dalam ranahnya. Selain itu, ikut hadir pula Furqon Amc selaku aktivis ’98 dan pendiri think-tank lokal, Geostrategy Study Club.

Kekeliruan Penilaian ‘Apatis’ terhadap Mahasiswa

Pembicaraan dimulai dari keterangan Carlo yang mengkritik perilaku lembaga mahasiswa yang cenderung menuduh dan menunjuk jari kepada elemen mahasiswa yang dianggap ‘apatis’ dan tidak peduli terhadap hak mahasiswa. Padahal, bagi Carlo, pihak kelembagaan harus menanamkan nilai kritis tersebut pada mahasiswa luas. Jika saat SIAP, mahasiswa baru digembor-gemborkan nilai SINDU, tetapi pada akhirnya mahasiswa yang sama dihakimi apatis, berarti ada proses yang keliru. Ia menilai sosialisasi dan penyampaian informasi mengenai isu mahasiswa masih kurang. Sebagai contoh, isu mengenai rektorat atau dekanat yang mengeluarkan kebijakan mendadak. Selama diskusi, selalu ada imbauan untuk adanya diskusi lanjutan tentang perlunya dicari tahu alasan hal dapat terjadi, apa biang masalahnya, apatisme, apa yang salah dari pembinaan kelembagaan itu sendiri, utamanya terkait ospek.

Setelah itu, Denny memaparkan bahwa pada dasarnya mahasiswa Unpar dapat dibedakan menjadi empat kategori, yaitu mereka yang aktif dan peduli, aktif dan tidak peduli, tidak aktif dan peduli, dan tidak aktif serta tidak peduli. Mereka yang memahami mengenai isu-isu Unpar adalah golongan yang masih peduli, dan diperlukan diskusi –diskusi lanjutan untuk menggandeng mahasiswa-mahasiswa seperti ini.

Rovolin kemudian melanjutkan pembicaraan mengenai bagaimana mahasiswa pada umumnya ikut bergerak bersama elit lembaga, baik secara program kerja maupun himpunan. Dinamika kampus seringkali tidak datang dari sektor formal, dan mahasiswa perlu digerakkan agar mampu berjalan bersama. “Apakah mahasiswa mempunyai kesamaan nasib?” ujarnya. Jika ya, maka terdapat kesempatan bagi seluruh mahasiswa, yang sudah menyadari kesamaan nasibnya, untuk bergerak bersama.

‘Tidak Ada Elit Kampus, Semuanya Setara’

Furqon dari Geostrategy Study Club kemudian menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada kelompok ‘elit kampus’. Semuanya sama, merasakan hal yang sama. Ia menyatakan bahwa sudah basi apabila masih mengatakan mahasiswa sebagai apatis, sebab pada zaman Carlo beberapa tahun yang lalu, ketika GSG (Gedung Serba Guna) dibongkar, banyak mahasiswa yang protes sampai melayangkan somasi. Mengapa, tanyanya, sekarang tidak membuat vokasi jika ada isu yang menyangkut mahasiswa tapi kurang enak dibicarakan?

Ia menekankan bahwa budaya berdiskusi adalah bagian sentral dari mahasiswa sebagai intelektual. Jika dibandingkan dengan kampus lain, mereka lebih sering membahas fenomena sesuai dengan bidang keilmuannya. Diharapkan, ujarnya, mahasiswa-mahasiswa Unpar juga mempunyai budaya tersebut, dalam kata-katanya “semangat ngobrol yang substantif.”

Padahal, menurutnya, dinamika kemahasiswaan di Unpar cenderung sangat baik, dinilai dari pemberitaan media selama beberapa tahun terakhir. Jika dihitung dari rentang angka 1 sampai 10, ia bahkan memberi nilai di atas 7. Dinamika ini sangat maju dibandingkan kampus-kampus lainnya di Bandung.

 

Muhammad Naufal Hanif, Alfonsus Ganendra || Brenda Cynthia

Related posts

*

*

Top