IDE: Persiapan Unpar Dalam Kuliah Metode Daring

LIPUTAN, MP – Pandemi Covid-19 telah menyebabkan dampak yang signifikan bagi aktivitas masyarakat. Tidak hanya perekonomian, tetapi kegiatan pendidikan dan pembelajaran sekolah dan kampus juga ikut terdampak. Metode pembelajaran yang biasa konvensional, yaitu tatap muka, harus digantikan dengan metode kuliah daring. Unpar sendiri sudah memiliki Interactive Digital E-Learning (IDE) sebagai platform pembelajaran digital, tetapi apakah IDE ini siap digunakan secara intensif menggantikan perkuliahan tatap muka?

“Setelah dikonfigurasi ulang, IDE bisa menampung current user activity hingga 1200 dalam satu sesi,” jelas Yohanes Nano Yuliono, Kepala Biro Teknologi Informasi (BTI) ketika diwawancarai Jumat (27/03). Sebelumnya, IDE hanya bisa menampung sampai 500 current user activity per sesi. “Kami mengukur penggunaan berdasarkan current user activity, bukan berdasarkan berapa banyak mahasiswa yang masuk.” lanjut Yohanes.

Yohanes Nano mengutarakan bahwa rencana pengembangan IDE sudah dibahas dengan beberapa dosen Fakultas Teknik Informatika dan Sains (FTIS) seperti Pak Yanto, Pak Chandra, dan Bu Mariska. “Untuk infrastruktur sendiri seharusnya baru dipasang semester depan, tapi karena situasi sekarang membutuhkan jadinya sekarang,” imbuhnya.

Hal ini, jelasnya, sudah direncanakan sejak semester ganjil lalu dan diperkirakan akan selesai pada tahun 2021, tetapi adanya kebijakan kuliah daring mendorong pihak BTI untuk mempercepat penambahan infrastruktur. Penambahan infrastruktur ini tentunya membutuhkan anggaran lebih, sehingga untuk sementara mereka berusaha mengoptimalisasi apa yang sudah ada.

Yohanes menambahkan bahwa optimalisasi IDE ini juga diprioritaskan untuk pembelajaran kuliah daring, tidak hanya saat UTS. “Aktivitas di IDE (saat UTS) jauh lebih ringan karena dosen memberikan cara alternatif seperti Google Classroom, Google Drive, dan lainnya. Tetapi jangan sampai saat perkuliahan daring, media pembelajaran tersebar.” jelas Yohanes.

Lihat juga: Dampak COVID-19 Terhadap Mahasiswa Unpar

Selain perkuliahan daring melalui IDE, sempat diperdebatkan pula mengenai mata kuliah yang harus mengadakan praktikum. Mengenai hal ini, Yohanes mengakui bahwa ia tidak terlalu mengikuti diskusi seputar praktikum karena menjadi ranah teknis akademis.

“Bila harus ada praktikum, mahasiswa tetap harus datang ke kampus karena beberapa prasarana untuk praktikum hanya ada di kampus,” tambahnya. “Tetapi untuk beberapa praktikum yang bisa dilakukan dari rumah, misalnya dengan prasarana berupa komputer, kami membuka fasilitas Virtual Private Network (VPN) untuk mahasiswa dan dosen. Praktikum seperti itu bisa dilakukan by remote, jika hanya membutuhkan digital resources.”

Fakultas Teknologi Informatika dan Sains (FTIS) dan Fakultas Ekonomi (FE), misalnya. Kedua fakultas tersebut sudah meminta akses data laboratorium komputer dan menurut Yohanes, sudah mendapat akses. Akan tetapi, untuk jurusan seperti Teknik Industri, Teknik Kimia, dan Teknik Sipil yang praktikumnya tidak bisa digitalisasi, mahasiswa tetap datang ke kampus. Meskipun begitu, Yohanes menyatakan bahwa pihak kampus sedang mengkaji mengenai hal tersebut, “Apakah datang dengan mengikuti prosedur keamanan dan keselamatan,” jelasnya.

Tidak hanya proses pembelajaran materi kuliah, ada pula masalah mengenai dosen yang belum terbiasa menggunakan IDE sebagai platform untuk mengajar. Yohanes sendiri mengatakan bahwa, berdasarkan kesepakatan dari pihak rektorat, BTI meminta satu person in charge untuk setiap fakultas.

PIC ini akan mengakumulasi permasalahan yang dihadapi dosen dan memberikan solusi sementara menurut pengetahuan yang mereka miliki. “Apabila mengalami kesulitan, PIC ini bisa meminta bantuan ke Lembaga Pusat Pengembangan Karir (LPPK), karena merekalah yang sebenarnya memiliki wewenang mengatur dan menentukan fitur-fitur dalam IDE.”

“Tetapi kembali lagi, kami lebih mengurusi support IT untuk IDE. Oleh karena itu, kami juga meminta dukungan kepada seluruh pihak termasuk mahasiswa. Saat ini kami terus meningkatkan layanan kami untuk kemudahan mahasiswa.” tutupnya.

Lihat juga: Magang dan Skripsi yang Tertunda Akibat Pandemi

Reporter: Hanna Fernandus, Nathanael Angga

Editor: Novita

Penulis

Related posts

*

*

Top
Atur Size