Gugatan Warga Tamansari Ditolak Oleh PTUN Bandung

Aksi massa berorasi di depan PTUN Bandung pada Kamis (19/12). dok/MP Aksi massa berorasi di depan PTUN Bandung pada Kamis (19/12). dok/MP

MP – Kamis (19/12) warga RW 11 Tamansari dan kawan-kawan solidaritas hadir dalam sidang gugatan izin lingkungan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung. Majelis hakim memutuskan untuk menolak seluruh gugatan yang dilayangkan oleh warga Tamansari.

Sekitar pukul 9 pagi, massa telah berkumpul di depan gedung PTUN bersiap untuk menyampaikan gugatannya. Sambil menunggu persidangan di mulai, orasi pun dilakukan oleh Eva Eryani Effendi, salah seorang warga RW 11 Taman Sari. Dalam orasinya, dia mengecam penggusuran yang dilakukan oleh aparat pada 12 Desember lalu. Ijul selaku kuasa hukum warga RW 11 Taman Sari pun ikut berorasi, dia mengajak sebagian warga dan kawan-kawan solidaritas untuk memantau laju pembacaan putusan hakim nanti.

Seiring berjalannya orasi
di luar gedung PTUN, Teatrikal pun dilakukan dengan tidur beralas aspal di
jalan raya depan PTUN sebagai simbol “Telah Matinya Hak Asasi Manusia (HAM) di
kota Bandung”.

Massa terus berorasi di
depan gedung PTUN hingga persidangan pun dimulai. Sekitar pukul 11 siang, warga
mulai memasuki ruang sidang PTUN bersama kuasa hukum dari LBH Bandung.

Terlihat ada beberapa
massa yang mengikuti sidang, dan ada sebagian yang di luar gedung untuk
mengetahui hasil putusan hakim. Sambil menunggu, mereka yang di luar berorasi,
memasang spanduk yang bertuliskan tentang penolakan terhadap rumah deret, dan
gugatan mereka terhadap penggusuran.

Salah satu dari massa solidaritas tamansari yang ingin dipanggil Dani mengatakan bahwa mereka menggugat karena sosialisasi yang dilakukan pemerintah kota Bandung tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Selain itu dari pemkot sendiri ada cacat prosedur, dan tentunya mereka ingin agar hak mereka sebagai manusia diperoleh kembali.

Di dalam ruang sidang
terlihat saat pembacaan pertimbangan dan beberapa bukti oleh hakim, para
peserta dari pihak penggugat tidak hanya sekali mengucapkan kata bohong. Hal
tersebut dapat dilihat saat hakim membaca pertimbangannya. Warga yang ada di
persidangan merasa pernyataan yang dibaca oleh hakim tidak sesuai dengan
kenyataan yang mereka alami. 

Saat sidang berjalan pun, hembusan nafas panjang dari pihak penggugat pun terdengar, atmosfer kepasrahan dari pihak penggugat dapat dirasakan diruang sidang itu. Saat hakim membacakan pertimbangan yang merugikan pihak penggugat, poster poster yang bertuliskan “Tolak Rumah Deret” “Penggusuran itu tidak kreatif” dan lainnya diangkat, ditunjukkan kepada hakim sebagai bentuk simbolis bahwa penggugat tidak setuju dengan apa yang dibacakan.

Pada puncaknya saat
gugatan ditolak oleh hakim, dan putusan itu tidak dapat diganggu gugat dengan
ketukan palu hukum, pihak penggugat bersama-sama menyanyikan lagu yang
menggambarkan kesedihan mendalam karena putusan tersebut. “Gusur-gusur rakyat
digusur, keji-keji sekali” nyanyi lirih pihak penggugat.

Orasi Penggugat Pasca Sidang

Setelah sidang berakhir,
warga RW 11 dan para solidaritas berunjuk rasa di depan gedung PTUN. Mereka
menuntuk hak tempat tinggal yang direnggut, mereka bersuara bahwa tanah yang
mereka tinggali secara status quo milik mereka. “Saya sejak dikandung oleh Ibu
saya, saya tinggal di rumah yang sudah dibongkar itu. Saya bukan warga liar,
saya tidak terima dikatakan seperti itu.” Ucap salah seorang orator dari warga
RW 11.

Tentang sosialisasi pun
dibahas di sana. Mereka tidak setuju bahwa sosialisasi telah dilakukan agar
mendapat persetujuan dari warga. “Oded yang katanya Wali Kota Bandung katanya
sudah menemui warga satu persatu, bohong! Saya belum pernah ketemu dengan dia.”
lanjut dia.

Terdengar juga orasi dari Kuasa Hukum LBH Bandung, Rifki Zulkifar. Dia menyatakan bahwa tragedi kemanusiaan telah dilakukan oleh pemerintah kota Bandung. “Jika pembangunan ini demi kesejahteraan masyarakat terutama untuk warga RW 11 Taman Sari, harusnya pemerintah kota Bandung melakukan upaya persuasif, upaya negosiasi dengan warga tentang apa yang diingikan warga taman sari. Jika hal ini disampaikan dengan cara halus dan humanis tentunya, tragedi kemanusiaan tidak akan terjadi” teriak Rifki.

Rifki pun juga menyampaikan bahwa aksinya tidak selesai di sini, dia tetap akan berjuang dan segera melakukan hukum banding.

Mahasiswa dan Kampanye di Gedung Sate

Setelah berorasi, warga
RW 11 dan Massa Solidaritas berkampanye dari PTUN ke Gedung Sate, menggaungkan
suara mereka agar di dengar banyak masyarakat.

Setiba di Gedung Sate
massa beristirahat dan melanjutkan kembali aksi kampanye mereka. Kali ini
peserta yang mengikuti aksi kampanye bukan hanya dari warga RW 11 dan Massa
Solidaritas, mahasiswa pun ikut terlibat. Mahasiswa yang ikut turun ada dari
Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM), Universitas Pasundan (Unpas),
Universitas Telkom, dan Universitas Al-Ghifari.

Hal itu digambarkan dari orasi yang dilakukan masing-masing BEM dari Universitas mereka. Limas perwakilan dari BEM Unpas berorasi agar lebih banyak lagi yang sadar akan pentingnya kemanusiaan kepada banyak orang.

Selain itu, ada juga
orasi dari Dzaqwan perwakilan BEM Universitas Komputer Indonesia serta Siti
Nurhayati dari BEM Universitas Al-Ghifari yang kurang lebih sama yaitu terus
berjuang dan jangan takut melawan aparat yang menindas.

Sekitar pukul 4 sore kampanye pun berakhir, massa telah pergi dari Gedung Sate. Mereka pergi dengan masih menyimpan harapan dan akan tetap memperjuangkan hak mereka.

Ricky Rialdi | Novita

Penulis

Related posts

*

*

Top
Atur Size