Perang Dagang Amerika Serikat vs China: Sejak 2016 Hingga Sekarang

Ilustrasi artikel perang dagang Amerika dan China.

INTERNASIONAL, MP – Sejak terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat pada tahun 2017 yang lalu, hubungan perdagangan luar negeri antara Amerika Serikat mulai memudar. Bahkan sebelum Trump dilantik menjadi presiden ke-45 AS, selama masa kampanyenya, Trump telah berulang kali menindas China. Trump, melalui salah satu tweet-nya di bulan Mei 2014, mengatakan bahwa China bukan rekan Amerika Serikat.

Penyebab perang

Sebelum Presiden Trump “memulai” perang ini, Gedung Putih sedang berusaha untuk mengurangi defisit perdagangan antara AS dengan China yang naik menjadi US$ 375,2 miliar pada tahun 2017 dari US$ 347 miliar pada tahun 2016.

Dilansir dari CNBC Indonesia, selama kampanye kepresidenannya, Donald Trump membandingkan defisit perdagangan AS dengan China, menyebutnya dengan istilah ‘pencurian’, lalu melabeli China sebagai manipulator mata uang pada hari pertama ia menjabat pada Juni 2016.

AS, yang selama ini dikenal di dunia internasional sebagai negara adidaya, kini terancam posisinya, mengingat pertumbuhan dan perkembangan ekonomi pada negara-negara lain, salah satunya, China. Produk Domestik Bruto (PDB) China yang jumlahnya lebih dari 12 triliun dolar AS, dipandang akan melampaui AS di masa mendatang.

Tak hanya itu, bank-bank China mendanai proyek-proyek infrastruktur besar di 78 negara di seluruh dunia. Investasi besar ini akan memungkinkan China mengakses pasar dan sumber daya asing, membeli sekutu di seluruh dunia, dan berpotensi menyaingi AS sebagai negara adidaya. Selain itu, China juga menggagas proyek Belt Road Intiative (BRI) atau yang lebih dikenal dengan istilah lainnya, yaitu One Belt One Road (OBOR).

Peristiwa-Peristiwa Penting

Menurut kronologi yang ditulis oleh CNBC Indonesia, pada Juni 2016, Trump menyebutkan tujuh langkah perdagangan untuk memperbaiki keuangan Amerika dan melabeli China sebagai manipulator mata uang pada hari pertama ia menjabat di Gedung Putih.

Lalu pada April 2017, ia bertemu dengan Presiden China, Xi Jinping, untuk membicarakan perdagangan di antara kedua negara dan meningkatkan kerja sama dalam menekan ancaman nuklir dari Korea Utara.

Namun pertemuan tersebut tidak menyelesaikan permasalahan di antara kedua pihak. Pada Januari 2018 yang lalu, Trump memulai aksi penerapan tarifnya dengan mengumumkan tarif impor bagi sel surya impor dan mesin cuci tertentu, dan China mengkritik langkah tersebut. Lalu pada bulan Maret 2018, Trump menandatangani peraturan tarif dimana ditetapkan 25% tarif untuk baja dan 10% bea masuk atas aluminium.

China membalas dengan menetapkan tarif kepada 106 produk AS pada April 2018, termasuk kacang kedelai, daging sapi, jagung, beberapa pesawat terbang, dan berbagai kendaraan. Pada bulan yang sama, China mengajukan keluhan kepada Wrganization (WTO) mengenai tarif yang dikenakan Trump untuk impor baja dan alumunium.

Dilansir dari Kompas, Minggu (1/4/18), Direktur Jenderal WTO Roberto Azevedo, mengatakan bahwa perang dagang ini akan menyebabkan jatuhnya pertumbuhan ekonomi global. Komentar Azevedo tersebut sejalan dengan meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dengan China, ditandai penerapan tarif impor antara kedua negara tersebut.

Beberapa hari kemudian, Departemen Perdagangan AS melarang raksasa peralatan telekomunikasi China, ZTE, untuk membeli komponen AS selama tujuh tahun, dengan alasan bahwa perusahaan telah melanggar kesepakatan yang dicapai karena melakukan pengiriman ilegal ke Iran dan Korea Utara. Hal ini segera diatasi oleh kedua pihak, seperti yang dikatakan oleh Trump pada postingan Twitternya pada Mei 2018, dan akhirnya terselesaikan pada Juni 2018.

Pada bulan yang sama, China mengatakan bahwa akan menurunkan tarif impor mobil hingga 15% dari 25% dan akan berlaku mulai bulan Juli, namun Trump mengatakan bahwa ia tidak puas dengan negosiasi dengan China seminggu yang lalunya.

Pada akhir bulan tersebut, Trump mengatakan bahwa akan menambahkan tarif sebanyak 25% pada barang-barang impor China senilai US$50 miliar, menyoroti produk yang terkait dengan salah satu program China, yaitu ‘Made in China 2025’. Daftar akhir tarif ini ditetapkan dan dirilis pada 15 Juni 2018.

China menanggapi hal tersebut dengan membuat daftar 545 impor AS yang senilai kira-kira US$34 miliar yang akan dikenakan tarif sebesar 25% mulai 6 Juli 2018. Beijing juga mengatakan bahwa akan memberlakukan tarif tambahan pada 114 barang AS, termasuk alat pencintraan resonansi minyak, dan diesel serta magnetik. Total dari kedua daftar tersebut mencakup 659 item AS, senilai US$50 miliar.

Pada 18 Juni 2018, Kementerian Perdagangan China mengatakan AS telah memulai perang dagang dan China akan melindungi kepentingannya.

Namun pada pertemuan di Argentina, 1 Desember 2018 yang lalu, AS setuju untuk menunda kenaikan tarif dari 10% menjadi 25% yang direncanakan atas US$200 miliar barang-barang China.

Tetapi pada 5 Mei 2019 kemarin, Trump mengatakan bahwa tarif impor atas barang-barang China senilai US$200 miliar akan menjadi 25% pada 10 Mei, meskipun pemerintahnya dalam beberapa pekan terakhir telah berulang kali menekankan bahwa pembicaraan dagang dengan Beijing berjalan baik. Trump juga mengancam akan mengenakan tambahan tarif 25% pada US$325 miliar barang-barang China “segera” melalui postingan Twitternya.

Melansir CNN Indonesia, Pemerintahan Trump menuding China sedang memainkan aksi untuk menyalahkan AS atas perang dagang yang terjadi di antara kedua negara. Perwakilan Dagang AS (USTR) dan Departemen Keuangan AS menegaskan kembali pandangan mereka bahwa negosiator China telah mundur pada elemen-elemen penting dari kesepakatan yang sebagian besar sebenarnya telah disepakati.

Sampai saat ini belum ada pembicaraan yang dijadwalkan sejak Mei yang lalu, dan masih belum jelas apakah Trump dan Xi akan bertemu ketika keduanya menghadiri pertemuan KTT para pemimpin negara G-20 akhir bulan ini di Jepang.

Kronologis sekilas pertempuran tarif Amerika dan China.

Baru-baru ini, China mengeluarkan larangan berpergian atau berlibur ke Amerika Serikat. Dilansir dari BBC, Jumat (7/6/19)  China mengimbau warganya untuk ‘mempertimbangkan semua risiko’ ketika bepergian ke AS. Bahkan, imbauan itu dilakukan dengan tegas dan dapat diartikan sebagai larangan!

Imbauan tersebut dilontarkan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata China. Mengingat, akhir-akhir ini ancaman seperti perampokan dan kekerasan dengan senjata meningkat di Negeri Paman Sam. Tak hanya itu, Kementerian Luar Negeri China juga mengatakan lembaga penegak hukum AS telah melecehkan warganya melalui interogasi yang mereka lakukan.

Selain dua hal tersebut, alasan lainnya seperti yang dapat kita perkirakan, ya karena efek perang dagang.

Huawei Putus Hubungan dengan Google

Perang dagang ini mengakibatkan berbagai dampak, salah satunya adalah pemutusan akses Google dari Huawei pada 20 Mei 2019 lalu. Dilansir dari Tempo, pemerintahan AS menganggap Huawei adalah tangan kanan Partai Komunis Cina. Australia juga menyatakan kegelisahan yang serupa dan melarang Huawei terlibat dalam jaringan 5G karena masalah keamanan nasional. Langkah Google mengakibatkan Huawei kehilangan akses ke pembaruan sistem operasi Google Android, Play Store, Gmail dan YouTube.

Namun langkah ini juga dapat berdampak buruk kepada Google. Google kehilangan ratusan juta pengguna produknya. Departemen Perdagangan AS pada bulan Mei yang lalu mengumumkan bahwa Huawei dan afiliasinya telah ditambahkan ke daftar entitas yang dibatasi penjualan teknologinya di AS. Saat ini Huawei dikabarkan telah meminta pabriknya melalui Foxconn untuk mengurangi produksinya.

Pada 6 Juni lalu, Huawei menandatangani kesepakatan dengan salah satu perusahaan layanan internet dan telepon seluler terkemuka Rusia, Mobile TeleSystems (MTS), untuk pengembangan jaringan 5G di tengah tekanan yang dilancarkan AS. Penandatanganan ini berlangsung di kantor kepresidenan Rusia, Kremlin, di sela-sela kunjungan tiga hari Presiden China, Xi Jinping.

Berdasarkan kesapakatan tersebut, kedua perusahaan berkewajiban membangun rencana 2019-2020 mengenai penerapan teknologi 5G dan jaringan internet dengan menggunakan infrastruktur milik MTS. Mereka juga akan mengembangkan jaringan komersial LTE dan meluncurkan zona uji coba dan melakukan percobaan jaringan 5G untuk bermacam penggunaan, termasuk prasarana.

“Kesepakatan MTS tidak hanya akan menciptakan penggunaan komersial jaringan 5G di Rusia dalam waktu dekat ini, namun juga berkontribusi untuk mempercepat pembangunan kerja sama ekonomi antara Rusia dan Cina,” ujar Guo Ping, Ketua Dewan Huawei, dan Alexei Kornya, CEO MTS, dalam pernyataan bersama mereka.

Indeks Bursa Saham Anjlok

Mengutip CNBC Indonesia, indeks-indeks acuan di bursa Wall Street pada perdagangan 3 Juni 2019 kemarin terkoreksi dalam, terimbas sentimen perang dagang tersebut. Indeks Dow Jones Industrial average anjlok 617,38 poin atau 2,38%, S&P 500 turun sebanyak 2,41%, sementara Nasdaw Composite rontok hingga 3,41% di akhir perdagangan.

Tak berhenti disana, indeks Shanghai langsung anjlok 1,1% pada saat pembukaan perdagangan hari Selasa 14 Mei lalu, ke level 2.872,83, sementara indeks Hang Seng terkoreksi cukup dalam yaitu 2,1% ke level 27.951,12.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI), Octavianus Budiyanto, menilai perang dangan memberikan dampak yang membahayakan perekonomian global. “Dua kekuatan ekonomi dunia China dan Amerika seharusnya tidak melakukan hal ini karena memberi dampak terhadap konsep ekonomi bebas,” kata Octavianus, kepada CNBC Indonesia.

 

DIONNY NATHAN || BRENDA CYNTHIA

2 Comments

  1. Tristan said:

    Di bagian peristiwa penting, ad paragraf yang sepertinya belum selesai. Selain itu jg ad beberapa kata yang sepertinya terhapus. Tolong diperbaiki ya terimakasih

*

*

Top