[OPINI] Keraguan 91 Tahun Kemudian

Ilustrasi kontributor opini "Keraguan 91 Tahun Kemudian".

Oleh: Tanpa Suara

 

Sumpah Pemuda menjadi awal lahirnya nasionalisme bangsa Indonesia. Mengapa tidak? Pemuda dari seluruh pelosok Nusantara hadir dan mengikrarkan persatuan mereka sebagai sebuah bangsa. Pada zamannya, gerakan masif ini tergolong menakjubkan, mengingat perlunya usaha yang bersungguh-sungguh untuk mengatasi masalah komunikasi dan interaksi antarwilayah. Saya sendiri merasa Sumpah Pemuda adalah mahakarya pemikiran para pemuda yang patut dihormati oleh bangsa Indonesia. Suatu mahakarya yang menurut saya memiliki efek signifikan dibandingkan proklamasi kemerdekaan tahun 1945.

Hingga sekarang, Sumpah Pemuda masih dirayakan bangsa Indonesia setiap tanggal 28 Oktober. Tetapi bagi saya, momen sejarah tersebut kehilangan makna sejatinya. Tampaknya bangsa Indonesia telah termabukkan oleh kemerdekaan dan kebebasan, sehingga Sumpah Pemuda tak ubahnya sebuah momentum lampau belaka di mata kita. Sumpah Pemuda hanya menjadi ajang pamer dan “kepedulian” kalangan tertentu, maka tak ayal sikap hipokritis menjadi salah satu pola perilaku ciri khas masyarakat Indonesia.

Hal yang dapat kita lihat dengan mudahnya di kehidupan sehari-hari, misalnya, adalah sikap intoleransi. Sumpah Pemuda mengatasi segala perbedaan dengan ikrarnya, tapi kecenderungan masyarakat Indonesia masa kini memersepsikan perbedaan itu sebagai ancaman meningkat. Intoleransi menyebabkan diskriminasi, diskriminasi melahirkan konflik dan perpecahan; diskriminasi agamis, konflik perkubuan pemilu karena perbedaan pendapat, dan diferensiasi kaum minoritas-mayoritas menjadi suatu pola yang lumrah bermain di kancah kehidupan bangsa kita.

Diskriminasi bukan satu-satunya yang tersisa dari lenyapnya esensi Sumpah Pemuda. Sikap individualis masyarakat Indonesia, yang saban hari semakin jelas terlihat, mempersulit terwujudnya integrasi bangsa yang diidamkan para pemuda 91 tahun yang lalu. “Ya, biasa lah,” menjadi salah satu bentuk tameng akan keapatisan masyarakat terhadap apa pun yang melanggar semangat berbangsa a la Sumpah Pemuda. Semua terlalu sibuk dengan ego, merasa terganggu ketika diingatkan untuk mengesampingkan diri dan melihat sekitarnya. Wajar saja sikap individualis itu ada dalam diri manusia, tetapi tetap diperlukan keseimbangan rasio perhatian untuk masalah pribadi dan bersama.

Harapan saya sih sebagai seorang mahasiswi tidak muluk-muluk. Sebelum mewujudkan Indonesia yang maju, harus ada Indonesia yang bersatu. Bersatu bukan karena legalitas konstitusi yang menyatakan wilayah kekuasaan Indonesia; bersatu karena paksaan hukum hanya akan membunuh hidup subjek itu sendiri. Tetapi seharusnya kita bersatu karena apa yang sudah disepakati para pemuda 91 tahun silam: bersatu karena mengerti perpecahan itu merugikan, bersatu karena tahu apa yang dibutuhkan untuk menang melawan dunia. Tapi ya, kalau bangsa Indonesia tetap tidak mau bersatu, apa yang akan terjadi di masa depan nanti? Ya, pasti akan lenyap, mungkin beberapa tahun lagi, atau mungkin saja besok pagi.

Related posts

*

*

Top