[Opini] Ga Merdeka-Merdeka Banget, sih

Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia

Disclaimer: tulisan ini merupakan opini sederhana yang amburadul dari seorang mahasiswa semester muda yang belum pernah menulis sebelumnya.

Teringat pada kolom Prof. Ariel Heryanto di Tirto.id, yang mengatakan bahwa sebenarnya proklamasi kemerdekaan kita memang disusun secara terburu-buru, mengambil kesempatan dalam kesempitan, saat Jepang sudah mulai lengah. Demikian juga Pancasila yang dirumuskan sebagai hasil kompromi terhadap kemajemukan pandangan di Indonesia, agar menahan diri, dan bukan mengakhiri.

Sehingga menurut saya, tanpa berusaha merendahkan dan/atau melecehkan ideologi bangsa ini, Pancasila yang sekarang belumlah merupakan produk akhir. Pancasila merupakan sarana untuk mencapai konsensus tentang apa yang adil dan memang diinginkan semua pihak untuk bangsa ini. Dengan ini tentunya saya sangat tidak setuju dengan perbuatan apapun, khususnya yang sering dilakukan oleh aparat keamanan, yang membatasi kebebasan berwacana dengan mengatasnamakan Pancasila. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini, pemberantasan buku berbau “kiri”, yang dicap radikal. Sehingga akan muncul sebuah paradoks yaitu: “Jika kita masih memberangus sebuah ide karena dianggap tidak sesuai dengan ide kita karena radikal, lalu siapa yang radikal?”.

Menurut apa yang saya lihat, pengamalan dan pelaksanaan Pancasila hari ini sudah bukan lagi seperti apa yang didambakan para perumusnya, melainkan telah menjadi sarana bagi para penguasa untuk menunggangi kepentingan-kepentingan mereka. Penggunaan eufimisme untuk nasionalisme, bela negara, cinta tanah air sebagai kedok sikap fundamentalisme sudah cukup membuat saya. Perjuangan untuk membuat negara ini benar-benar merdeka dari penjajahan dan perbudakan seakan sia-sia, seperti yang dikatakan Pram Ananta Toer dalam surat terbukanya menanggapi Gunawan Moehammad. “Apa yang terjadi di Indonesia tidak sesederhana itu: kulit cokelat menindas kulit cokelat”. Kata-kata “Merdeka atau Mati” yang sering diserukan pejuang kemerdekaan Indonesia menurut saya telah ternegasi oleh kenyataan menjadi “Tidak Merdeka dan Mati” atau bahkan “Merdeka tetapi Mati”.

Peristiwa-peristiwa pembungkaman terhadap suara terutama masyarakat marginal masih terjadi hingga saat ini. Kita mengenal Budi Pego yang berakhir di jeruji karena menolak tambang emas dengan tuduhan anti Pancasila serta menyebarkan komunisme. Masih banyak lagi kasus HAM di negara yang katanya sudah merdeka ini yang tak kunjung dituntaskan. Bahkan, teman-teman aksi kamisan— yang berkumpul setiap hari Kamis menagih janji negara untuk menuntaskan kasus HAM— di depan istana presiden dan di kota-kota lainnya tidak pernah digubris. Hanya sekali diundang masuk ke istana, namun tetap tidak ada penindakan lanjut.

Padahal, seperti kata Jean Jacques Rousseau, negara dibentuk untuk menjamin keberlangsungan hak-hak warga negaranya. Bagaimana jadinya jika negara yang harusnya berkewajiban untuk menjamin hak kita, abai untuk menjamin hak warga nya?

Yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa adalah dengan terus menyatakan sikap terhadap keanehan-keanehan dan ketidakadilan yang kita saksikan. Kita adalah salah satu kelompok penekan yang suaranya murni tanpa ditunggangi kepentingan manapun, Jadi apakah kita sudah merdeka? Ya, dari penjajah, tapi belum dari banyak hal.

 

Kontributor: Masao Simanjuntak, FH Unpar

Related posts

*

*

Top