Zen RS: Sepak Bola Indonesia Sudah Masuk Tahap Koma

WAWANCARA, UNPAR – Hingga saat ini Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) statusnya masih dibekukan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (kemenpora) dan belum ada titik terang. Semua ini bermula ketika kemenpora melalui Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) menyatakan bahwa Persebaya versi PSSI dan Arema tidak lolos verifikasi terkait asas legalitas. Namun, PSSI tetap mengikutsertakan 2 klub tersebut pada pekan pertama QNB League. Melihat hal itu, kemenpora menganggap PSSI secara sadar tidak mentaati sehingga memutuskan untuk membekukan PSSI. Keputusan ini membuat FIFA menghukum Indonesia. Hadirnya Piala Presiden dan Piala Kemerdekaan menjadi pelepas dahaga sejenak di tengah ketidakjelasan masa depan sepak bola di Indonesia.

Dalam acara Sepak Bola dalam Cerita yang diselenggarakan oleh Universitas Padjadjaran, 30 September lalu, Media Parahyangan berkesempatan untuk mewawancarai Zen Rahmat Sugito. Pria yang kerap disapa Zen RS ini sudah dikenal melalui novel berjudul Jalan Lain ke Tulehu, serta berbagai tulisannya di berbagai media, baik cetak maupun daring. Ia pun merupakan pendiri Pandit Football bersama rekannya, Andreas Marbun.

Pada wawancara ini, Zen berbicara mengenai situasi sepak bola Indonesia, sikap suporter, serta nasib pemain. Berikut petikan wawancaranya:

 

Bagaimana pandangannya terkait situasi sepak bola Indonesia saat ini?

Sepak bola Indonesia parahnya sudah pada level sangat akut. Wasit sudah tidak punya rasa malu lagi. Misalnya dalam pertandingan Persib-Pusamania Boreo FC (PBFC), ada 6 pergantian pemain, 12 kartu, tapi wasit hanya memberi waktu tambahan hanya 2 menit, baik di kandang PBFC maupun di kandang Persib. Kan tidak masuk akal.

Satu pergantian pemain nilainya 10 detik, sehingga 6 pemain berarti 1 menit. Begitu pun kartu merah atau kuning nilainya sama, belum lagi pemain cedera. Saya kira 5 menit waktu yang masuk akal. Sudah tidak malu lagi, padahal siaran langsung saat prime time. Oleh karena itu langkah revolusioner memang diperlukan.

Pertanyaannya adalah ketika sudah dibekukan, kemudian apa. Saya kira kalau disurvei, jauh lebih banyak yang setuju kok kalau dibekukan. Misalnya ketika sebelum ada pembekuan, Persib masih berkompetisi di AFC Cup, tapi banyak juga bobotoh yang dukung pembekuan meski ada resiko Persib didiskualifikasi. Jadi memang dukungan publik itu banyak.

Persoalan berikutnya adalah sampai berapa lama. Lama itu tidak apa, tapi kemudian apa, saya kira itu yang ditunggu oleh banyak orang.

 

Punya sikap tidak terhadap 2 pihak (PSSI dan Kemenpora) ini, karena ini seperti 2 orang botak rebutan sisir, siapapun yang menang, yang dirugikan yang kecil-kecil saja, suporter atau pemain. Malah pemain yang sekarang paling merasakan.

 

Justru karena itu tidak bisa memilah. Kalau pakai analogika MP, untuk apa dibela, tidak ada gunanya.

Ini menjadi penting buat pemain. Pemain dalam posisi yang dirugikan, tapi ini juga momentum mereka untuk memperkuat posisinya. Jangan kemudian merengek-rengek minta kompetisi, tapi ketika liga kembali jalan, mereka mengeluhkan hal yang sama. Gaji tidak dibayar. Pemain perlu melihat ke diri sendiri.

Saya merasa pemain belum bersuara banyak, semata-mata menuntut haknya untuk bermain, tapi dia tidak segera menyadari bahwa ketika bermain, tidak ada jaminan juga haknya akan dipenuhi. Kalau pemain berani mengambil sikap, tidak mau main karena hak tidak terpenuhi, selesai sebenarnya. Liga akan berhenti sendiri tanpa perlu dibekukan. Hal ini terjadi di negara lain, seperti di Spanyol, tetapi tidak di sini. Percuma kalau pembekuan dicabut, kemudian tidak ada perubahan.

 

Berkaca dari suporter sendiri, apakah suporter hanya mendukung klubnya saja atau suporter harus bersatu dan punya sikap?

 

Saya kira sulit, suporter Indonesia sudah terpolitisasi sedemikian rupa sehingga konflik antar suporter harus dibaca dari perspektif politik. Sebuah analisis politik bisa memberi penjelasan siapa yang diuntungkan dalam konflik suporter.

Buat saya, yang terus menerus diuntungkan dari perseteruan suporter ini adalah federasi. Bahkan ketika federasi demikian sangat bobroknya sekali pun, tidak pernah suporter bersatu. Semua klub mengaku pernah dicurangi, tapi tidak pernah ada satu suara. Jadi kita harus curiga bahwa rivalitas ini memang dirawat.

Suporter Indonesia sangat sulit untuk bersatu, sulit sekali. Bahkan di luar negeri sangat biasa rivalitas itu bisa berdamai di momen-momen tertentu. Perkelahian para ultras disana itu beradab, ada etikanya. Bahkan perang saja ada etikanya, tidak bisa tiba-tiba nyerang. Seperti di Argentina, para dedengkot suporter biasa bertemu membahas aturan main. Di Indonesia, tidak ada. Betul-betul sangat liar, satu orang bisa dikeroyok satu stadion.

 

Berarti suporter Indonesia seperti barbarisme modern?

 Sampai batas tertentu ya demikian, sehingga memang sulit untuk satu suara. Semua orang mengeluh klubnya dicurangi, wasit berpihak pada tuan rumah, tapi suporter tidak pernah solid. Semua orang kayak kebagian jatah, siapa yang lagi apes, siapa yang engga. Satu sama lain hanya berusaha supaya jatah apesnya lebih sedikit dari yang lain.

 

Bagaimana solusinya?

 Menurut saya liga bisa jalan hanya dengan cara menyesuaikan dengan aturan yang ada. Aturan yang dibuat oleh PSSI sendiri. Sesederhana itu. Peraturan yang ada memang belum memadai, tapi yang belum memadai itu pun tidak diperhatikan.

Pemain asing tidak punya kartu izin tinggal terbatas (kitas) itu kan artinya dia tidak bayar pajak. Kesebelasan tidak punya perseroan terbatas (PT) artinya tidak bayar pajak. Masa klub tidak bayar pajak dengan alasan belum untung. Tahu dari mana untung atau tidak kalau lapor saja tidak mau.

Saya kira negara ada di posisi ingin menegakkan aturan. Kalau PSSI mau berkompromi sedikit saja, liga bisa saja jalan. Misalnya dengan 16 kesebelasan tanpa Persebaya versi PSSI dan Arema, tetapi 2 klub itu tidak didegradasi. Atau liga jalan, tapi kasih waktu misalnya 2 bulan, kalau tidak beres, ya sudah, tendang. Opsi itu ada.

 

ZICO SITORUS | BAJIK ASSORA

Share