Sunset Deity: Keluh Kesah Seorang Bocah Menolak Menjadi Dewasa

MP, BANDUNG – Merchant of Emotion, mementaskan Sunset Deity, pertunjukkan teater tentang seorang bocah tanpa nama yang kehilangan wujudnya sebagai manusia akibat menolak proses pendewasaan.

Gadis itu bernama Sun, kehadirannya menghadirkan canda dan tawa dalam sebuah permainan dan bersama-sama menamai semua benda di semesta itu. Akan tetapi, sang penguasa waktu pun hadir membatasi kebersamaan mereka dalam waktu. Sun pun perlahan hilang dalam indahnya warna di langit dan segera tergantikan dengan datangnya malam bersama makhluk seram dalam suasana mencekam.

Akhirnya, malam pun berganti dengan cahaya, sang bocah pun menelan kekecewaan bahwa ia tidak bisa selalu bersama dengan Sun. Waktu memaksanya menjadi dewasa. Dewasa itu dimaknai sebagai kehilangan akan masa kecilnya dan pelajaran kehidupan menantinya. Terbenam dalam kekecewaan, ia pun menolak menjadi dewasa. Saat itu juga takdir sang Pencipta dilanggarnya dan ia berubah menjadi sosok yang asing sebab ia kehilangan wujudnya.

Sunset Deity adalah sebuah karya pementasan yang mengawali serial kisah yang dinamakan Midnight Strangers. Dalam pementasan, Midnight Strangers digambarkan sebagai sosok orang-orang yang kehilangan masa kecilnya dan menjadi pembawa cerita di malam hari. Sunset Deity dipentaskan lewat percakapan dan koreografi serta permainan video mapping (penggunaan proyektor untuk efek visual). Selain sang bocah dan Sun, panggung juga diisi oleh enam penari pada adegan hadirnya penguasa malam dan satu penari pada adegan terakhir.

Sebagaimana dikutip dalam buklet acara, Sutansyah Marahakim selaku penulis naskah menjelaskan bahwa Sunset Deity dipahami sebagai cerita mengenai “kehilangan”. Kehilangan itu perlahan terjadi akibat konsekuensi dari bertumbuh dewasa baik sosok maupun hubungan dengan seseorang. Namun, pada Sunset Deity, Sutansyah justru mengangkat kebalikannya melalui sosok seorang bocah yang menolak menjadi dewasa karena menolak kehilangan. Sutansyah memberi pesan, “You must lose something along the way yet you get through it.”( Kau harus kehilangan sesuatu Anda di sepanjang jalan namun Anda bisa melaluinya)

Kennya Rinonce selaku sutradara menjelaskan dua hal yang diangkat dalam kisah itu yaitu : penolakan terhadap menjadi dewasa dan hilangnya masa kecil. Dua hal itu menjadikan kisah ini menjadi tema yang manis nan mudah dinikmati juga tak lupa memunculkan refleksi bagi penonton. Tema itu juga yang dianggap oleh Tri Adi Purba selaku produser sebagai cerita yang dipaparkan dengan gaya yang sederhana, tetapi mendalam untuk dipahami.

Hal senada juga dikatakan oleh Ahmad Fariz Arifin (21) selaku penonton, “Jika karya sastra yang biasanya hanya bisa dimengerti sebagian orang, kini penonton pada usia remaja bisa dengan mudah menangkap nilai dan pesan dari karya itu.” Seorang pengunjung bernama Lidwina Kristanti (Mahasiswa SBM ITB – 2014) juga berharap agar teater dengan nilai artistik yang mendalam seperti ini semakin sering ditampilkan di Bandung.

Teater Sunset Deity dipentaskan di panggung Teater Tertutup Dago Tea House pada tanggal 23-25 Januari 2015. Sunset Deity merupakan seri Midnight Strangers pertama dari tim Merchant Of Emotions. Merchant Of Emotions merupakan transformasi dari Teater Epik yang sebelumnya pernah mementaskan Teater Taraksa.

VINCENT FABIAN

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *