Monster Plastik Yang Merusak Lingkungan

Ilustrasi opini "Monster Plastik yang Merusak Lingkungan". Ilustrasi oleh: Brenda Cynthia

Persoalan mengenai sampah plastik menjadi salah satu masalah yang diperhatikan saat ini. Banyak gerakan dari beberapa elemen masyarakat yang menuntut untuk mengurangi penggunaan plastik. Tuntutan ini bermula dari banyaknya pemberitaan mengenai jumlah sampah yang dihasilkan setiap tahun serta dampaknya terhadap lingkungan.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, menyebutkan Indonesia merupakan penyumpang sampah plastik kedua terbesar ke laut di dunia. Sedangkan penghasil terbesar pertama adalah China. Dikutip dari Kompas, berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Menurut sumber yang sama, kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar per tahun atau 85.000 ton plastik.

Dikutip dari Kompas, John Hocevar, Ocean Campaign Director Kelompok Lingkungan Greenpeace pernah mengatakan kepada VOA bahwa sampah plastik yang datang dari kedua negara itu dihasilkan dari bahan-bahan pembungkus perusahaan-perusahaan yang berpusat di Eropa dan Amerika. Malaysia, menjadi negara yang menerima sumbangan sampah terbanyak dari Amerika. Maka dari itu, Menteri Energi, Teknologi, Ilmiah Lingkungan dan Perubahan Iklim Malaysia, Yeo Bee Yin bersikap tegas dengan mengatakan akan mengirim balik sampah yang diimpor secara ilegal itu.

Tentu saja fenomena mengenai pengiriman sampah ilegal ini harus diperhatikan dan ditindak lanjut secara tegas. Sebagai negara berkembang, kita tidak boleh takut dan tunduk kepada negara adidaya yang jauh lebih maju. Warga negara maju tidak menyadari bahwa hasil sampah dari mereka bukan berakhir didaur ulang oleh negaranya sendiri, melainkan dikirim ke negara berkembang yang akan dimusnahkan dengan cara yang merusak lingkungan.

Salah satu dampak dari penggunaan plastik berlebihan adalah banyak makhluk hidup di laut yang mulai mengonsumsi plastik. Salah satunya adalah bangkai seekor paus sperma (Physeter macrocephalus) yang memiliki panjang 9,5 meter dan lebar 1,85 meter yang ditemukan warga terdampar di sekitar Pulau Kapota, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Saat paus tersebut dibelah, ditemukan berbagai macam plastik seberat ±6 kilogram. Selain itu, di wilayah konservasi Muara Angke Jakarta pun tercemar sampah plastik dan ditemukan sampah plastik seberat lebih dari 50 ton yang berasal dari lautan.

Terdapat juga lembaga yang vokal dalam persoalan sampah plastik. Salah satunya adalah Greenpeace, Non Government Organization (NGO) yang berfokus pada lingkungan hidup. Sudah bertahun-tahun Greenpeace aktif dalam gerakan mengurangi pemakaian sampah plastik. Adapun gerakan dari aktivis Greenpeace yang baru terjadi, yaitu mereka melakukan aksi tuntutannya pada saat rapat umum tahun Nestle. Dengan mengumpulkan sampah plastik dari produk Nestle, seperti botol plastik dan sachet, Greenpeace merakit sampah plastik tersebut menjadi instalasi monster ukuran besar. Dengan membawa bendera berisi “Nestle, this is yours”, “Nestle, stop single use”, Greenpeace benar-benar menyampaikan protes mereka secara serius, bukan hanya pada Nestle, namun pada produsen plastik di seluruh dunia. Tuntutan mereka ini didasari dari adanya pencemaran ekosistem laut yang dipenuhi produk Nestle, dimana pada tahun 2018, Nestle menggunakan 1,7 juta ton plastik. Angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 13% dibanding penggunaan plastik Nestle pada 2017.

Menanggapi fenomena ini, pemerintah Indonesia lantas mengambil tindakan dengan mengeluarkan beberapa kebijakan. Menteri Susi Pudjiastuti pernah melaksanakan kegiatan membersihkan pesisir laut yang dinamai “Menghadap Ke Laut” di 76 titik di Indonesia. Kegiatan ini diharapkan akan menekan jumlah limbah plastik di Indonesia. Selain itu, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) juga mengeluarkan kebijakan Kantong Plastik Tidak Gratis (KTTG). Setiap kantong plastik yang diberikan ketika kita membeli barang akan dikenai biaya sebesar 200 rupiah. Hal ini bertujuan untuk melakukan edukasi kepada masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik.

Beberapa masyarakat sudah mulai sadar mengenai betapa pentingnya menjaga bumi dari sampah plastik. Gerakan Go Green pun mulai marak terjadi di beberapa kota besar. Seperti misalnya ketika saya bertemu dengan kawan-kawan, banyak dari mereka yang mulai menggunakan sedotan stainless steel daripada sedotan plastik. Selain itu, saat berbelanja pun mereka lebih memilih menggunakan tas ramah lingkungan.

Serba-serbi tentang sampah plastik dan lingkungan. Ilustrasi oleh: Denira Filia

Gerakan Cinta Lingkungan Yang Ironis

Tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah apakah dengan menggantikan dengan sedotan stainless steel akan mengurangi penggunaan plastik?

Sejak viralnya video penemuan kura-kura yang hidungnya terluka akibat tersumbat sedotan plastik, gerakan sedotan stainless steel menjadi membabi buta. Banyak toko offline maupun online yang memanfaatkan kesempatan tersebut dengan mulai menjual sedotan stainless steel yang harganya pun beragam. Orang pun berbondong-bondong membeli sedotan tersebut.

Seperti contohnya, Starbucks mulai menggaungkan gerakan tanpa sedotan plastik secara bertahap yang sudah berlangsung sejak 2018 lalu. Gerakan ini diharapkan dapat mengurangi lebih dari 1 milliar plastik per tahun. Ironisnya, walaupun mereka (para konsumen) menggunakan stainless steel untuk menggantikan sedotan plastik, mereka masih membeli kopi dengan cup yang masih menggunakan plastik, yang juga sama bahayanya dengan sedotan plastik. McD dan KFC juga ikut mengampanyekan tren tanpa plastik dengan tidak menyediakan sedotan plastik. Padahal untuk membungkus produknya, kedua fast food tersebut masih menggunakan plastik juga.

Lantas, kenapa hanya sedotan saja yang di kampanyekan?

Masyarakat tampaknya lupa. Dengan menggunakan stainless steel, bukan berarti masyarakat tetap dapat membeli minuman-minuman seperti Starbucks, KOI, Chatime, setiap harinya. Memang, sudah menggunakan stainless steel, tapi toh masih menggunakan gelas plastik sekali pakai kan untuk menampung minuman sesaat tersebut?

Pernah suatu kali, ketika saya dan teman saya sedang berjalan-jalan di mall, teman saya ingin membeli minuman dari suatu merk. Ia mengajak saya untuk juga membeli minuman tersebut, tetapi diiringi dengan celetukan, “Ah, pasti nggak bawa sedotan stainless steel ya.”

Lantas, saya pun bingung. “Jadi kamu boleh menggunakan gelas plastik sekali pakai, asalkan sudah pakai stainless steel?” tanya saya. “Aku cuma peduli sama kura-kura,” jawabnya.

Mengherankan? Saya juga heran.

Mau kita sekarang menggunakan sedotan stainless steel, sikat bamboo, dan sebagainya, jika tidak diimbangi dengan mengurangi bahan plastik lainnya, menurut saya tidak begitu terpengaruh. Jumlah produksi sampah plastik lain jauh lebih besar daripada sedotan plastik yang dipakai sekitar 93 juta batang per hari yang kira-kira tidak mencapai 5% dari total sampah plastik di laut.

Akhir kata, sebenarnya dengan menerapkan gaya hidup yang lebih cinta lingkungan bukan hal yang salah, tetapi tentunya tidak cukup hanya dengan menghentikan penggunaan sedotan saja, melainkan penggunaan plastik dalam bentuk lain juga. Dengan ini, semoga kita sadar harus lebih bijak lagi dengan menggunakan plastik. Karena bukan hanya diri sendiri yang akan dirugikan, melainkan juga lingkungan kita. Dan juga kita perlu menjaga dan merawat bumi ini bersama-sama untuk calon penerus bangsa ke depan. Kamu tidak mau kan kalau 10 tahun ini kamu tinggal bersisian dengan sampah?

 

Novita

One Comment;

  1. Tyo said:

    bagus, dengan makin banyak masyarakat yang sadar akan bahaya sampah, semoga jumlah sampah dapat berkurang. sampah sendiri dapat menimbulkan berbagai masalah bila dibiarkan saja

*

*

Top