Menjawab Pertanyaan Mahasiswa FTI Mengenai TOEFL

LIPUTAN, MP – Dekan Fakultas Teknologi Industri (FTI) Unpar, Thedy Yogasara mengangkat suara mengenai desas-desus peraturan TOEFL yang beredar di kalangan mahasiswa FTI. Dia mengatakan bahwa peraturan TOEFL untuk ketentuan evaluasi tahap satu  ini sudah disosialisasikan pada saat SIAP (Inisiasi dan Adaptasi).

Menganggapi isu mengenai persyaratan yang dibilang mendadak, Thedy mengatakan bahwa persyaratan ini sudah dilaksanakan selama bertahun-tahun. Selain itu, sudah ada pada petunjuk pelaksanaan serta dipaparkan dalam SIAP. “Kalau ada yang kaget sebenarnya agak mengherankan, karena informasi sudah diberikan secara terbuka saat SIAP, di website juga ada semua infonya,” heran Thedy.

Sebelumnya, ada kabar burung di kalangan mahasiswa FTI mengenai seleksi evaluasi tahap satu yang dihadapi mahasiswa tahun kedua. Salah satu syarat dari evaluasi tersebut adalah mahasiswa sudah mengambil TOEFL dengan standar nilai lulus sebesar 500. Dikatakan bila mahasiswa tahun kedua FTI belum mengambil ataupun belum lulus TOEFL, maka akan mendapatkan sanksi dari fakultas berupa denda ataupun dikeluarkan. Lantas, semenjak awal semester genap lalu beberapa mahasiswa FTI pun berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk TOEFL.

Mendengar hal tersebut, Thedy Yogasara selaku Dekan FTI mengklarifikasi mengenai peraturan ini. “TOEFL itu kan jadi syarat kelulusan, skor harus lima ratus. Kendalanya itu sering numpuk di belakang,” kata Thedy. Dia menjelaskan bahwa evaluasi tahap satu ini merupakan upaya fakultas untuk mencegah penumpukan tes TOEFL diakhir semester. “Kami menyarankan untuk dicicil sekali, idealnya satu semester sekali, sehingga pas evaluasi satu sudah mencoba minimal 3 kali.” jelas Thedy.

Dia lanjut mengatakan bahwa masalah pemberhentian mahasiswa akibat persyaratan TOEFL merupakan keputusan yang besar. Hal tersebut harus dilakukan secara case by case karena ada pertimbangan tertentu. “Nggak langsung tiba-tiba DO,” kata Thedy. “Bukan kartu mati (DO) tapi pasti ada teguran/perjanjian/sanksi/semacamnya tergantung kebijakan di WD 1.” lanjut Thedy.

Peraturan  mengenai TOEFL pun dikatakan hanya menjadi syarat tambahan evaluasi tahap satu untuk mahasiswa FTI. “Syarat utamanya memang lulus minimal 45 SKS dengan IPK minimal 2.00,” ucap Thedy.

Peraturan di FTI dapat dikatakan berbeda dengan fakultas lainnya. “Bukan merugikan tapi mendorong mahasiswa untuk tes sejak awal agar tenang ke belakang,” tegas Thedy. Dia menjelaskan bahwa peraturan ini pada dasarnya membantu mahasiswa supaya tidak terhambat saat sidang skripsi. Peraturan ini mengikuti peraturan rektor mengenai syarat kelulusan mahasiswa Unpar.

Jumlah peserta tes TOEFL antara mahasiswa Teknik Kimia dan Teknik Industri pun tidak seimbang. “Kemarin Bu Santi sebagai WD 1 sudah ngecek, sekitar 70% anak TI 2018 belum tes TOEFL sama sekali, sementara Tekkim sudah banyak.” tutup Thedy.

Reporter: Naufal Hanif & Novita

Editor: Novita

Tags ,

Related posts

*

*

Top