Menguatnya Dominasi Tiongkok di Kawasan Timur Tengah

INTERNASIONAL, MP Usaha Tiongkok untuk menjadi hegemoni global kini kian nampak terwujud. Dalam hal ini, Tiongkok berusaha memproyeksikan kekuatan dirinya di wilayah kawasan Timur Tengah. Dalam kurung waktu beberapa tahun terakhir, Tiongkok berhasil mengambil alih dominasi wilayah Timur Tengah dari negara sebelumnya yang terkenal dengan julukan Negeri Paman Sam. Bukan hanya dalam bidang perekonomian saja, namun juga pertahanan dan pembangunan bahkan pendidikan. 

Usaha Tiongkok dalam berinvestasi di Timur Tengah sebenarnya merupakan bagian dari program Belt and Road Initiative (BRI). Sebelum direvisi menjadi BRI, awalnya program tersebut dinamakan OBOR (One Belt One Road), merupakan program yang dibentuk oleh Xi Jinping pada tahun 2013 lalu yang fokus terhadap pembangunan jalur darat, laut, dan udara di kawasan Asia dan sekitar. Program ini diharapkan dapat mempermudah proses perdagangan dan meningkatkan ekonomi antar negara. Tiongkok memang diketahui mempunyai keinginan untuk menghidupkan Belt and Road Initiative (BRI) atau jalur sutra modern. Infrastruktur yang dibangun berupa kereta api, pelabuhan, jalan dan taman industri.

Dalam pendekatannya, Tiongkok juga melakukan metode yang lebih transaksional dimana Tiongkok berhasil memanfaatkan kondisi ekonomi negara di kawasan Timur Tengah yang sedang mengalami gejolak politik dengan harga minyak yang fluktuatif, dan memanfaatkan ketidakpuasaan negara di Kawasan Timur Tengah terhadap Amerika Serikat demi kepentingan ekonomi mereka.

Timur Tengah tetap bergejolak. Asisten Menteri Luar Negeri Tiongkok, Chen Xiaodong dalam acara Forum Keamanan Timur Tengah di Beijing mengatakan bahwa Amerika hanya mengejar kebijakan yang egois dan menguntungkan mereka. “Kebijakan sepihak yang dilakukan Amerika Serikat hanya terus memperburuk krisis di kawasan itu,” kata Chen yang dilansir dari SINDOnews Internasional.

Tidak seperti Amerika Serikat, Tiongkok justru lebih menghindari hal-hal geopolitik yang bersifat sensitif. Chen menambahkan bahwa situasi di Timur Tengah saat ini merupakan hasil dari banyak faktor yang berbeda, termasuk perbedaan etnis, agama dan geopolitik. Maka dari itu, banyak negara Timur Tengah yang menyetujui proyek Belt and Road Initative, dan untuk mewujudkan program itu Pemerintah Tiongkok juga siap mengeluarkan dana sebesar US$150 miliar atau setara dengan Rp.2.137 triliun per tahun. Dana itu bisa dimanfaatkan oleh negara peserta untuk membangun infrastruktur mereka.

Hubungan Tiongkok dengan Timur Tengah

Dengan pudarnya dominasi Amerika Serikat di Timur Tengah, hal tersebut menjadi kesempatan bagi Tiongkok untuk mengukuhkan diplomasi dan pengaruhnya di kawasan tersebut. Berbagai negara seperti Iran, Turki, dan Arab Saudi sudah melakukan kerja sama terlebih dahulu dengan Tiongkok dalam berbagai bidang seperti sektor perbankan, pariwisata, sains, dan minyak serta untuk memastikan adanya dukungan penuh sebagai aktor penting dalam ekonomi, politik, dan keamanan global. 

Melihat hal tersebut, Putera Mahkota Abu Dhabi, Mohammed Bin Zayed dari Uni Emirat Arab sebagai negara tetangga tidak mau kalah. Ia kemudian melakukan kunjungan kenegaraan ke Beijing untuk bertatap muka langsung dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping. Hasilnya total kerjasama yang disepakati sebesar 70 miliar dolar Amerika Serikat. Besarnya jumlah tersebut menunjukan bahwa Uni Emirat Arab tidak main-main dengan Tiongkok sebagai mitra bisnis di kawasan Timur Tengah.

Reaksi Kawasan Timur Tengah Terhadap Tiongkok

Negara-negara yang berada di Kawasan Timur Tengah seperti Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab telah menyatakan dukungannya terhadap Tiongkok di wilayah kawasan. Bahkan, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab berencana memasukan Bahasa Mandarin kedalam kurikulum pendidikan nasional mereka.

Menurut Zuhairi Miswari dalam kolom detikcom, isu komunis yang biasanya menjadi batu sandungan dalam membangun kerjasama dengan Tiongkok seakan hilang, padahal Arab Saudi adalah pihak yang selalu bersikap anti komunis sama sekali tidak mempermasalahkan isu komunisme tersebut. Hampir tidak ada negara di kawasan Timur Tengah yang mempermasalahkan keberadaan Tiongkok di negara tersebut.

Seperti yang kita ketahui, Tiongkok sendiri memiliki SDA yang melimpah, militer yang kuat, serta SDM yang unggul. Maka dari itu, banyak negara yang berbondong-bondong untuk melekatkan hubunganya dengan Tiongkok, khususnya di wilayah Timur Tengah yang memandang bahwa bekerja sama dengan Tiongkok akan mendapatkan keuntungan yang besar bagi negaranya.

Terlebih lagi, Tiongkok pandai menggunakan pendekatan yang menghindari hal hal yang bersifat geopolitik dan bersifat sensitif. Serta Tiongkok tidak mengintervensi persoalan domestik dan kawasan, berbeda jauh dengan Amerika Serikat yang terbukti berhasil membawa Kawasan Timur Tengah kepada kekacauan dan konflik politik.

Usaha dan jerih payah Tiongkok dalam usahanya mendominasi wilayah Timur Tengah sebagai visinya dalam Belt and Road Initiative memang harus kita akui, dan sekarang Tiongkok hanya menikmati apa yang mereka tanam. Hal tak kalah penting lainnya dari Belt and Road Initiative adalah Indonesia juga termasuk kedalam jalur sutra tersebut, namun disayangkan bahwa masyarakat Indonesia cenderung bersikap anti terhadap investasi asing. Dengan melihat bagaimana negara Kawasan Timur Tengah menerima investasi asing, harapannya hal tersebut dapat kita jadikan contoh dan pelajaran kedepanya untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera dan sentosa.

Oleh : Nathanael Angga B.K

sumber :
* https://news.detik.com/kolom/d-4667004/timur-tengah-berlomba-lomba-merapat-ke-china
* https://www.voaindonesia.com/a/china-bersiap-pikul-peran-lebih-besar-dalam-politik-di-timur-tengah/3146356.html
* https://www.cnbcindonesia.com/news/20190513181838-4-72178/apa-itu-obor-jalur-sutra-modern-china-yang-jadi-polemik-ri
* https://international.sindonews.com/read/1463010/40/china-kebijakan-sepihak-as-bikin-timur-tengah-terus-bergejolak-1574849704

Penulis

*

*

Top
Atur Size