Mahasiswa Unpar Keluhkan Sistem Student Portal

LIPUTAN, MP — Situasi pandemi yang belum terkendali menyebabkan pembelajaran harus diadakan secara jarak jauh kembali. Dengan kondisi demikiran, kebutuhan akan fasilitas penunjang pembelajaran jarak jauh meningkat. Tetapi, sudah dua minggu sejak berjalannya Semester Ganjil 2020/2021, fasilitas yang seharusnya bisa diakses mahasiswa Unpar mengalami permasalahan yang kentara.

Berbeda dengan kuliah daring semester lalu, mahasiswa kini harus mengisi absensi bukan pada IDE namun melalui Student Portal. “Selama kuliah online, menurut saya penggunaan IDE jadi lebih efektif untuk mengumpulkan tugas, memberikan bahan kuliah, dan pengumuman lainnya,” ujar Vania Theola, mahasiswi Teknik Sipil 2018.

Vania bukan satu-satunya mahasiswa yang berpendapat bahwa akses IDE bisa lebih dipermudah. Kezia Natalia (Hubungan Internasional, 2018) juga mengatakan bahwa IDE sering mengalami crash saat hendak digunakan. “Pernah crash beberapa kali namun tidak selalu dan tidak sesering student portal,” ujarnya saat diwawancarai.

Mengenai Student Portal, banyak mahasiswa yang mengeluhkan sulitnya untuk mengakses laman tersebut. Kesulitan untuk mengakses portal utamanya terjadi karena pemindahan fitur presensi dari IDE dan penambahan fitur validasi perkuliahan ke Student Portal. “Saya lebih setuju absen di IDE karena mungkin sudah terbiasa saja,” tanggapan Andrini Banjarnahor (Matematika, 2019), “Lalu semua berpindah ke student portal, down lagi.” lanjutnya.

Pemindahan fitur juga berdampak pada aksesibilitas Student Portal. Sejak hari pertama kuliah, hingga sekarang, sudah beberapa kali Student Portal tidak dapat berfungsi dengan baik dan menghambat proses presensi. Kezia mengaku mengalami kesulitan setiap kali hendak mengkonfirmasi presensi kelas. “Laman tersebut paling rawan crash saat jam mulai kelas (jam 7 pagi, 10 pagi, 1 siang, dan 4 sore). Ketika saya mencoba mengakses Student Portal pada jam tersebut, sangat sulit untuk mengisi presensi dan harus selalu di-refresh sampai bisa,” ujarnya.

Tidak hanya Kezia, Vincentia Jyalita (Hubungan Internasional, 2019) menceritakan bahwa hampir setiap hari ia mengalami kesulitan mengisi presensi. Ia menjelaskan, “Hal tersebut sangat memprihatinkan sebab batas waktu untuk presensi sangat pendek dan ada beberapa teman saya yang tidak terhitung hadir oleh sistem meskipun telah hadir tepat waktu.” jelasnya.

Tidak semua menganggap pemindahan fitur presensi adalah hal yang menyulitkan. “Sebetulnya mengadakan aktivitas absensi di Student Portal adalah ide yang cukup baik, jadi dosen tidak perlu memikirkan bagaimana harus mengecek presensi, namun sangat disayangkan karena masih sering crash,” ujar Vania. Ia menambahkan, “Jadi untuk presensi masih kurang lancar.”

Masalah fasilitas kuliah daring ternyata tidak eksklusif dialami mahasiswa. Dosen pun, untuk melaksanakan perkuliahan dan mencatat presensi, mengalami kesulitan dalam mengakses Lecturer Portal. “Ada beberapa dosen saya yang pada awal perkuliahan masih kesulitan dalam mengakses dan memakai Lecturer Portal. Beberapa hari yang lalu, situs Lecturer Portal juga bermasalah dalam menetapkan validator kelas dan mengunggah daftar hadir,” Vincentia bercerita.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Muhammad Fahim Audy (Hubungan Internasional, 2019). “Berhubung tidak ada masalah pada media pembelajaran seperti Zoom, Google Meet, dan IDE, menurut saya perkuliahan secara umum tetap dapat berjalan dengan baik,” pendapat dia. Ketika ditanya mengenai masalah presensi, Muhammad Fahim menjawab, “Seringkali dosen terpaksa mengecek presensi secara manual, yang cukup memakan waktu, terutama pada kelas dengan jumlah mahasiswa yang banyak.”

Karena permasalahan laman yang crash, beberapa dosen memutuskan untuk memperpanjang waktu pengisian presensi. Namun, hal ini juga tetap memiliki celah tersendiri. Andrini mengatakan, “Meskipun pada akhirnya ada solusi dari dosen untuk memperpanjang waktu pengisian (rd. absensi), tapi mungkin saja (rd. hal itu) dimanfaatkan mahasiswa untuk bersantai.”

Secara umum, tidak optimalnya fasilitas perkuliahan daring berdampak buruk terhadap kegiatan perkuliahan. “Salah satu dampak yang terjadi yakni mahasiswa dan dosen disibukkan dengan urusan presensi kelas daripada langsung memulai materi,” jelas Vincentia.

Kezia juga menambahkan, “Performa fasilitas yang kurang baik akan membuat mahasiswa pusing karena masalah seperti mengkhawatirkan presensi dan tidak bisa mengakses kelas dengan lancar akan mengganggu konsentrasi mahasiswa.”

Pihak Biro Teknologi Informasi (BTI) sendiri sampai sekarang belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut. “Kami belum dapat memberikan jadwal untuk wawancara karena volume pekerjaan BTI saat ini sedang tinggi.” jelas BTI saat dihubungi melalui surel pada (22/09/2020) lalu.

Hanna Fernandus | Nathanael Angga | Naufal Hanif | Novita

Penulis

Related posts

*

*

Top
Atur Size