Mahasiswa Arsitektur Unpar 2018 Belum Mendapatkan Uang Milik Mereka

Foto bagian belakang baju yang menunjukkan mahasiswa Arsitektur 2018. dok/Novita

Mahasiswa Arsitektur 2018 masih menanti pengembalian uang yang dijanjikan oleh Danang Widaryanto, mantan koordinator studio Arsitektur. Setelah setahun, uang yang dijanjikan belum juga kembali ke tangan mahasiswa.

Masalah itu bermula dari ketika awal tahun ajaran 2018/2019. Pada saat itu, mahasiswa baru dipaksa membeli lima buku Arsitektur yang digunakan untuk membantu proses pembelajaran. Menurut mahasiswa Arsitektur, mereka diharuskan membayar di muka sebesar Rp500.000,00. Buku akan diberikan ketika uang sudah diterima oleh Danang dan uang mahasiswa akan dikembalikan ketika buku yang dijanjikan sudah sampai di tangan mahasiswa.

Salah satu mahasiswa mengaku pernah dicoret absennya karena tidak memiliki bukti bahwa ia telah membeli buku wajib tersebut. “Waktu itu tiba-tiba aja Pak Danang tanya satu-satu yang ngga bawa buku. Ya kan ga disuruh ya jadi gue ngga bawa, eh malah dicoret (red. absen),” ujar mahasiswa yang tidak ingin disebutkan namanya.

Gilbert Aldo selaku Ketua Angkatan Arsitektur 2018 mengaku sulit untuk berkomunikasi dengan Danang Widaryanto. Hal tersebut dikarenakan Danang sendiri sudah dipindahtugaskan ke pascasarjana. “Kalau dulu kan beliau posisinya koordinator studio, sedangkan sekarang udah diganti posisinya, sehingga buat ketemu udah susah,” ucap Gilbert Aldo yang akrab disapa Aldo.

Perwakilan angkatan 2018 sendiri sudah berupaya sejak awal untuk meminta kembali uang mereka. Menurut mereka, Danang tidak kooperatif dan terus berdalih ketika ditagih. “Pas kami nagih duit juga dia jawabannya selalu ‘ntar kita ngobrol lagi’,” tambah Aldo.

Saat ditemui di ruangannya, Bachtiar Fauzi selaku Kepala Program Studi (Kaprodi) Arsitektur mengatakan bahwa tidak ada kewajiban dalam membeli buku. “Memang buku itu tidak diwajibkan oleh prodi, artinya mahasiswa diberi kesempatan untuk memilih mana yang diperlukan. Ya disesuaikan dengan kebutuhan saja,” jelas Bachtiar.

Terkait dengan pemindahan Danang ke pascasarjana, beliau mengatakan tidak ada kaitannya dengan masalah ini. “Pemindahan itu memang sudah sesuai dengan penugasan kepada bidang itu,” tegas Pak Bachtiar.

Bachtiar juga menjelaskan bahwa jika terjadi permasalahan internal, lebih baik disampaikan kepada prodi. Padahal, mahasiswa sudah berupaya berkomunikasi dengan dosen dan himpunan Arsitektur. Namun, hingga berita ini diturunkan, masih belum ada kejelasan mengenai kemana uang mereka. Sementara itu, tepat pada Kamis (19/9), formulir pengembalian buku telah disebar dalam grup angkatan 2018.

Perlu diketahui, Arsitektur Unpar selama ini menganut sistem buku diberikan terlebih dahulu kepada mahasiswa, dan apabila mahasiswa merasa tidak membutuhkan, buku dapat dikembalikan dan mahasiswa hanya perlu membayar buku yang mereka ambil. Namun, dalam kasus ini, hingga mahasiswa Arsitektur 2018 sudah mengembalikan buku, uang Rp500.000,00 mereka tak kunjung kembali.

 

Tidak Ada Sanksi Khusus

Menurut Pak Bachtiar, Danang Widaryanto tidak lagi memiliki kewajiban terhadap program sarjana Arsitektur Unpar karena adanya penugasan di pascasarjana. Hal yang dapat dijanjikan oleh prodi adalah akan melakukan monitoring kepada asisten studio kini.

“Mungkin kalau masalah kayak begini, ada baiknya disampaikan ke prodi biar clear, biar ngga kemana-mana,” ungkap Pak Bachtiar.

Selain itu, Pak Bachtiar juga berkata bahwa apabila ada masalah, lebih baik diselesaikan secara kekeluargaan. “Saya pikir ada baiknya diselesaikan secara kekeluargaan dengan yang bersangkutan, supaya sama-sama enak,” jelas Pak Bachtiar.

 

Baca juga: Berita klarifikasi mengenai pengembalian uang mahasiswa Arsitektur Unpar 2018 setelah berita ini diterbitkan, Uang Buku Mahasiswa 2018 Dijanjikan Kembali Semua Oktober Ini

 

Novita || Brenda Cynthia

Related posts

2 Comments

  1. noname said:

    dengan menulis artikel seperti ini terkesan memojokan Bp Danang. apa pihak penulis artikel sudah coba melihat kasus ini dari sudut pandang yg bersangkutan? karena tidak valid kalau hanya mencantumkan cerita sepihak ??

*

*

Top