Webinar Naung 2021 : “Rumah Modular sebagai Alternatif Penyelesaian Perumahan di Kampung Kota”

Sumber ilustrasi: Instagram Naung 2021

LIPUTAN KAMPUS, MP-Pada Sabtu, 6 Maret 2021, HMPSArs mengadakan webinar yang bertemakan: “Rumah Modular sebagai Alternatif Penyelesaian Perumahan di Kampung Kota.” Webinar ini merupakan bagian dari program kerja HMPSArs, “Naung,” yang diselenggarakan oleh Divisi Pengabdian Masyarakat dan disponsori oleh Graha GRC Board. Rangkaian kegiatan Naung sendiri diikuti dengan kegiatan sayembara, yang bertujuan untuk mencari desain rumah yang modular, low-cost, layak huni, dan sustainable. Acara ini dilaksanakan mulai dari pk. 08.45 – 12.30 WIB dan menghadirkan lima narasumber utama: Dr. Ir. Yohanes Basuki Dwisusanto, M. Sc.; Dr. IR. Yasmin Suriansyah, MSP.; Ar. Daliana Suryawinata, S.T., M.Sc., IAI; Imma Anindyta S.T., M.Arch.; dan Ar. Yanuar PF, S.T., MBA, IAI. Selama webinar berlangsung, ada dua moderator yang memandu para pemateri dan mengarahkan diskusi, yaitu Georgius Budi Yulianto dan Ariani Mandala.

Sesi pertama webinar dibuka dengan materi oleh Dr. Ir. Yohanes Basuki Dwisusanto, Ir. M. Sc. Basuki yang juga merupakan dosen arsitektur Unpar menjelaskan kondisi dan permasalahan kota Bandung, sebagai bagian dari tema utama sayembara Naung 2021. Ia menyebutkan bahwa kepadatan penduduk di inner city meningkat drastis, sementara terjadi ekspansi lahan perkotaan (land conversion) di daerah pinggir kota. Menurut Basuki, permasalahan muncul dalam bentuk kurang memadainya sarana-prasarana serta pengabaian daerah kampung. Masalah ini disebabkan karena persepsi bahwa kampung adalah daerah eksklusif di luar perkotaan, padahal secara faktual, kampung menjadi tempat hunian bagi mayoritas penduduk perkotaan.

Pemaparan materi kemudian dilanjutkan oleh Dr. IR. Yasmin Suriansyah, MSP., juga dosen arsitektur di UNPAR. Yasmin menjelaskan bahwa dalam konteks ekonomi, mungkin saja terdapat segregasi sosial antara penduduk kampung dan penduduk kota. Tetapi secara penghunian yang layak, ia menegaskan, “Jangan sampai antara kampung dan kota tersegregasi.” Secara kualitas dan kelayakan tempat tinggal, bangunan di kampung harus sustainable dan berupa green building atau ramah lingkungan. Pentingnya pencahayaan dan penghawaan juga penting meskipun adanya keterbatasan lahan di daerah kampung. Terakhir, tempat tinggal yang berkualitas demikian harus bisa dijangkau oleh masyarakat kampung dan ini relatif

Setelah dua narasumber pertama memberikan materi, webinar dilanjutkan dengan materi Deni Widoharyanto, ST. Deni adalah perwakilan dari GRC Board, sponsor Naung 2021. Dalam kesempatan kali ini, ia menjabarkan material serta produk yang dapat digunakan dan sesuai dengan desain dan konstruksi bangunan modular. Menurut Deni, membangun rumah modular dengan GRC board relatif lebih cepat dan mudah pengerjaannya, namun dengan harga yang terjangkau dan bangunan yang kokoh; ini ditambah lagi dengan unsur estetik yang unik pada bangunan modular. Sesi materi diikuti oleh Melisa dari Archify, salah satu platform digital penunjang kegiatan arsitektur. Melisa menjelaskan bahwa melalui Archify, para arsitek bisa mengakses direktori produk atau bahan bangunan serta menelusuri konsep-konsep proyek yang sudah ada secara gratis.

Pembicara berikutnya Daliana Suryawinata, S.T., M.Sc., IAI. Daliana adalah salah satu pendiri biro arsitektur SHAU sekaligus salah satu arsitek perempuan ternama di Indonesia. Dalam sesi ini, Daliana berbicara mengenai potensi berubahnya konsep kampung konvensional menjadi kampung modern. Melalui konsep vertical village dan SuperKampung, Daliana memperkenalkan potensi daerah kampung jika perekonomiannya diperkuat melalui suatu sektor dan ditata kembali untuk mengakomodasi keunggulan ekonomi tersebut. Dalam proses pelaksanaanya, perlu ada keseimbangan antara bottom-up approach dan top-down planning, yang disebut Daliana sebagai inclusive urbanism.

Sesi webinar kemudian dilanjutkan oleh Imma Anindyta S.T., M.Arch. Imma adalah Certified Green Professional dari RawHaus sekaligus dosen arsitektur tetap di Universitas Tarumanegara. Ia menjelaskan mengenai bagaimana material dan operasional bangunan hunian bisa menghasilkan emisi karbon yang berpengaruh negatif terhadap lingkungan. Operasional bangunan berkontribusi sebanyak 80% terhadap emisi karbon sementara 20% merupakan karbon yang terkandung dalam material bangunan. Penggunaan energi yang besar dalam penggunaan bangunan hunian juga berkontribusi pada terganggunya lingkungan. Dalam kesempatan ini, Imma mengenalkan tiga prinsip dalam mengurangi emisi karbon: minimize, optimize, dan produce. Konsep ini ia contohkan dalam sistem A-House, rancangan rumah yang dibuat oleh RawHaus dan menerapkan prinsip-prinsip tersebut.

Pemaparan materi terakhir dilakukan oleh Ar. Yanuar Pratama Firdaus, S.T., MBA, IAI. Yanuar adalah Principal Aaksen Responsible Aarchitecture, sebuah studio arsitektur yang berbasis di Bandung, dan juga alumni arsitektur UNPAR. Yanuar menjelaskan bagaimana bangunan hijau pacapandemi perlu memprioritaskan kesehatan fisik dan mental penghuninya, multifungsi, mengakomodasi pola-pola baru hidup yang sehat, dan memandirikan penghuninya. Yanuar mencontohkan nilai-nilai ini dalam proyek Norhouse dan Albizzia House yang dibuat oleh Aaksen. Selain itu, konsep rumah yang memiliki produktivitas tinggi diperkenalkan melalui Home Office-Pods AAND Sayana, konsep rumah yang sekaligus merupakan kantor; proyek ini dilengkapi dengan Backyard Collective: Pixelated Papandayan, desain pelataran yang dianggap mampu bertahan menghadapi gempa.

Setelah sesi materi dan tanya jawab selesai, acara webinar pun ditutup oleh pihak Naung 2021. Mata acara kemudian dilanjutkan dengan sesi aanwijzing untuk seluruh peserta sayembara Naung. Aanwijzing adalah proses pemberian penjelasan kepada para peserta mengenai ketentuan sayembara.

Meliani Susanto | Hanna Fernandus

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *