Debat Calon Ketua HMPSIHI 2020: Mempertahankan Harapan di Tengah Krisis Relevansi Himpunan

LIPUTAN, MP – Seperti debat calon ketua HMPSIHI sebelum-sebelumnya, di dalam AADC (Awasi dan Amati Cakahim) tahun ini mahasiswa HI tidak berlama-lama di pembahasan tentang visi dan misi calon tunggal ketua himpunan HI 2021, Renaldi Stevanus, dan lebih banyak langsung menuntut program dan langkah yang konkrit. Renaldi menggunakan tagline ‘HMPSIHIMelangkah’ dan memiliki visi ‘sinergi, aktual, dan progresif’, diiringi empat misi yang terdiri dari ‘peningkatan komunikasi dan koordinasi’, ‘proker dan fungsional yang relevan’, ‘evaluasi berkala’, dan ‘pewadahan pengembangan kompetensi’.

Moderator maupun masyarakat HI langsung memberikan sederetan pertanyaan bagi Renaldi untuk menjelaskan visi misinya secara lebih konkrit. “Parameter sukses itu bagaimana? ujar moderator, Cheryl Pangestu. Bagi pertanyaan ini, Aldi menjawab bahwa ketika hasil dari suatu acara sudah dilandaskan oleh kebutuhan mahasiswa dan berhasil dcapai, kegiatan dianggap sudah sukses. Cheryl melanjutkan dengan bertanya apa yang akan ditingkatkan dari proses yang sudah berjalan tersebut. Aldi mengelaborasikan lebih lanjut: “2020 hanya membahas fungsi saja dan kurang komprehensif dengan situasi lapangan serta kebutuhan masyarakat.” ujarnya. Jika ia menjadi ketua, maka ia akan membentuk metode yang lebih komprehensif dan relevan.

Oleh karena itu juga, ia tidak mengajukan program unggulan, melainkan hanya konsep unggulan. “Melihat perjalanan 2020, banyak sekali kegiatan, namun belum mampu menjawab kebutuhan. Saya hendak melibatkan seluruh anggota Himpunan dan masyarakat HI untuk menyampaikan aspirasi, sehingga landasan program kami murni dari kebutuhan mahasiswa” terangnya. Ia juga memiliki basis pemikiran yang sama menanggai kebutuhan adaptasi selama pandemi. “Kita tidak bisa berkutat pada program turunan kepengurusan sebelumnya” ujarnya.

Selanjutnya, Kaprodi Hubungan Internasional Unpar, Ratih Indraswari, mempertanyakan model komunikasi seperti apa yang akan dibawa oleh Renaldi mengingat permasalahan yang sering terjadi tahun ini. Renaldi menjawab bahwa perencanaan program “akan menjunjung tinggi partisipasi dan pengkajian” serta “akan dikomunikasikan dalam bentuk proposal dengan Kaprodi setelah ditinjau dengan visi misi Kaprodi agar relevan dan memudahkan”. Ratih menanggapi dengan menyatakan bahwa permasalahan komunikasi yang ada sekarang justru terletak pada penyampaian informasi yang satu pintu. Mengenai tanggapan ini, Renaldi menyampaikan bahwa ia “memastikan bahwa jalur komunikasi linear dan tanpa misinformasi”.

Audiens tidak membuang waktu untuk bertanya isu-isu krusial dan serius yang perlu ditangani Renaldi. Nathanael Angga (HI 2019), misalnya, mempertanyakan sikap himpunan yang tidak turut serta dalam advokasi isu kenaikan UKT beberapa bulan yang lalu. Mahasiswa HI, ujarnya, justru malah dibantu pihak-pihak eksternal, bukan himpunannya sendiri. Renaldi justru menjawab bahwa hal ini menyulitkan karena “bukan tupoksi kami” dan “kami akan mencoba menampung aspirasi masyarakat”. Jawaban ini disanggah oleh Angga yang melanjutkan bahwa himpunan seharusnya tidak netral dalam melaksanakan fungsinya sebagai penampung kebutuhan masyarakat. Renaldi, sekali lagi, menyampaikan bahwa himpunan “tidak bisa melakukan advokasi yang mendalam” akibat “keputusan yang terpaku pada Prodi dan Kampus”.

Kemudian, Bella Aprilia (HI 2017, Koor Divisi Litbang HMPSIHI) mempertanyakan seringnya kegagalan implementasi survei untuk evaluasi program himpunan. Renaldi, yang berasal dari divisi yang sama, membenarkan bahwa survei kurang relevan. “Kita perlu melakukan pendekatan akar rumput dalam menampung kebutuhan mahasiswa” terangnya.

Nada yang sama dikeluarkan oleh Cheesy (2020) dan Rafly (2019), masing-masing mempertanyakan cara Renaldi beradaptasi di ranah daring untuk menjangkau angkatan baru serta memperbaiki kegiatan yang lebih menarik. “Perlu ditinjau dan akan kami kembangkan” jawab Aldi untuk kekhawatiran ini.

Setelah itu, keempat angkatan diwakili oleh Bram (2017), Ihsan (2018), Rafly (2019), dan Andrew (2020) mengajukan problematika di angkatannya masing-masing kepada Renaldi. Bram mempertanyakan himpunan yang kurang transparan, Ihsan mempertanyakan kurangnya antusiasme, Rafly mempertanyakan kegiatan yang tidak efektif, tidak efisien, dan tidak menarik, terakhir Andrew mempertanyakan keterlibatan angkatan baru ke dalam himpunan milik Renaldi.

Renaldi menjawab bahwa himpunannya akan transparan melalui penyebaran informasi tentang kompetensi yang lebih jelas dalam sistem rekrutmen. Selain itu, ia menyatakan bahwa untuk menangkal turunnya antusiasme, himpunan bisa ‘mengadakan acara-acara informal yang tidak kaku’ di antara program-programnya. Ia juga menjanjikan kepada mahasiswa HI angkatan 2020 bahwa mereka ‘akan menjadi perhatian utama kami, dan akan kami tampung proker yang bisa menjawab masalah kalian’ terangnya.

Ketika diminta untuk mengevalusasi himpunan periode 2018-2020 oleh Jonathan Prasetyo (2017), ia menyebutkan bahwa konsepsi yang sudah ada ‘lebih top-down’ daripada bottom-up’ padahal ‘kebutuhan program dan fungsional datang dari mahasiswa’. Selain itu, ia menekankan perlunya antardivisi agar lebih bersinergi, berkolaborasi, berkoordinasi, dan berintegrasi. “Selama ini cenderung masih terikat ke jobdesc masing-masing” ujarnya.

Cavincent (2019) lantas mempertanyakan bagaimana cara sinergi tersebut agar terlaksana tanpa tumpang tindih tugas masing-masing divisi. Renaldi menjawab bahwa integrasi dimulai dari visi antardivisi yang jelas, kemudian menyesuaikan bentuk kolaborasinya. “Tidak melulu pendekatan formal, namun rasa kepemilikan bersama” terangnya.

Untuk OI sendiri, menghadapi pertanyaan peningkatan relasi antara himpunan dengan tiga organ terpisah (IREC, WH, dan KSMPMI) oleh Asyifa Sekar Kirana (2018), Renaldi menjawab bahwa pada masa kepemimpinannya, tidak perlu ada segmentasi antara OI dengan divisi. Ia juga ingin “menyatukan semangat antar visi misi, antara divisi dan OI”.

Pertanyaan Nathanael Angga mengenai advokasi himpunan masih dipertanyakan oleh Leonardo Ganal (2017). Baginya, terdapat kontradiksi antara masalah inklusivitas, progresivitas, dan relevansi program yang diajukan oleh Renaldi dengan pernyataannya bahwa advokasi perihal UKT bukan ‘obligasi’ dengan alasan ‘bukan tupoksi lembaga’. Untuk menjelaskan kontradiksi ini, Renaldi menyebutkan bahwa himpunan memang akan menampung aspirasi masyarakat HI, namun ia hanya bisa ‘menindaklanjuti aspirasi’ dan tidak bisa ‘menekan’ dalam urusan ini.

Mendekati akhir acara, Tubagus Taufik (2017, Ketua Himpunan) mempertanyakan cara Renaldi untuk melakukan profiling kebutuhan periode. Renaldi menyatakan bahwa ia akan menggunakan metode tertentu untuk mengidentifikasi masalah dan mengevaluasinya. “Saya akan mengangkat semangat kebersamaan dalam tubuh masyarakat” ujarnya.

Ia juga, terekam dan tercatat, siap dikambinghitamkan untuk masalah-masalah yang diakibatkan oleh force majeur. Diberi pilihan antara bersedia, bersedia dengan pengecualian, tidak bersedia, dan abstain oleh Aufar (2019), Renaldi menyatakan ia bersedia “karena sudah menjadi tanggung jawab saya”.

Pada sesi terakhir, Lely (2018), Hanna (2019), dan Tubagus (2017) menyampaikan aspirasinya bagi Renaldi dalam menjalankan himpunan. Lely mengharapkan adanya transparansi, menekankan narasi bahwa seringkali tim sukses waktu kampanye akan langsung menjadi pengurus. Angkatan 2019 dan 2020 juga perlu turut berpartisipasi agar tidak terlupakan. Sedangkan Hanna menyatakan bahwa hubungan interpersonal antara himpunan dan non-himpunan seringkali cukup buruk, seperti pada saat GINTRE yang secara menahun menimbulkan ketegangan di antara berbagai elemen. Hal ini, baginya, belum dibahas oleh Renaldi. Sedangkan Tubagus yang akan segera purna tugas mengingatkan Renaldi agar tidak melupakan tujuannya menjadi Ketua Himpunan, dan selalu mengingat bahwa kepengurusan HMPSIHI 2021 bukan hanya dirinya, melainkan juga banyak lainnya.

Renaldi menekankan bahwa ia tidak akan membedakan himpunan dan non-himpunan, pengurus dan non-pengurus. Ia menghimbau semuanya untuk bersama-sama membangun dan meningkatkan HMPSIHI, “sebagai keluarga dan wadah pengembangan”.

Catatan acara dari Leonardo Ganal Prakoso (Hubungan Internasional 2017).

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *