Liga Belarusia yang Masih Berjalan dan Diktator Terakhir di Eropa

LIPUTAN, MP – Sejak pertengahan Maret lalu, hampir seluruh liga-liga sepak bola di Eropa menghentikan kompetisi akibat masifnya penyebaran Covid-19 hingga waktu yang belum ditentukan. Bahkan, untuk musim 2019/2020, liga-liga top seperti La Liga Spanyol, Liga Primer Inggris (EPL), hingga Liga Italia (Serie A) terancam dibatalkan tanpa adanya klub yang menjadi juara liga ataupun klub yang terdegradasi. Namun hal tersebut tidak berlaku di Belarusia. Liga Utama Belarusia (Vysheyshaya Liga) hingga saat ini masih bergulir, bahkan tanpa adanya larangan untuk menonton langsung di stadion oleh Federasi Sepakbola Belarusia (BFF), walaupun hal ini mendapat boikot dan kecaman keras dari para fans yang khawatir akan penyebaran virus ini.

Misalnya saja, pada pertandingan antara FC Neman Grodno melawan FC Belshina Bobruisk yang berakhir imbang 1-1. Pada laga ini, tribun stadion hanya terisi oleh 253 penonton, jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan pertandingan yang sama di tahun lalu yang saksikan langsung oleh 1.500 penonton.

Liga Belarusia sendiri bukanlah liga top dunia — atau Eropa setidaknya — untuk disaksikan oleh
penggemar sepak bola dari berbagai
negara di
berbagai benua yang haus akan pertandingan-pertandingan
besar dan kebanyakan
telah diputuskan untuk ditunda. Namun begitu, pertandingan di Liga Primer
Belarusia tetap disiarkan di 10 negara, termasuk Rusia, Israel, hingga India
yang sudah menghentikan
kompetisi di masing-masing negaranya.

Dilansir dari independent.co.uk, Federasi Sepak bola Belarusia pada awalnya menjelaskan bahwa keputusannya untuk melanjutkan liga adalah karena hanya terdapat sejumlah kecil kasus Covid-19 yang tercatat di kawasan Eropa Timur. Tetapi, baru-baru ini mereka menolak berkomentar setelah data-data terbaru menunjukkan bahwa kasus positif Covid-19 di Belarusia mencapai 2.226 kasus, dengan jumlah kematian sebanyak 23 kasus. Pihak klub sendiri mengatakan bahwa mereka harus mematuhi keputusan Federasi.

Menurut pelatih FC Neman Grodno, Igor
Kovalevich, pihak klub telah melakukan protokol keamanan seperti menghimbau para pemain dan staf untuk
rutin mencuci tangan, hingga membagikan sarung tangan kepada staf yang berkontak langsung dengan banyak
orang. Menindaklanjuti hal ini — Ultras lokal — sebutan untuk suporter garis keras klub juga telah berinisiatif memutuskan
untuk tidak memberikan dukungan langsung ke stadion dengan alasan keselamatan. Kebijakan yang sama
juga dilakukan oleh pihak suporter klub Dynamo Minsk, FC Shakhtyor Soligorsk, Dynamo
Brest, dan FC Vitebsk.

Uniknya, para fans seakan tidak kehilangan
akal untuk tetap menyemarakkan stadion. Salah satunya adalah yang telah dilakukan oleh
beberapa suporter Dinamo Brest yang datang ke stadion pada pertandingan melawan
Isloch Minsk hari Minggu (12/04) lalu.
Mereka membuat boneka kardus dengan gambar wajah rekan-rekan mereka untuk
membuat kesan seakan-akan  stadion dipenuhi oleh para penonton. Namun, untuk dapat “menghadirkan” wajah mereka di stadion, para fans harus
memesan tiket secara virtual terlebih dahulu. Keunikan lainnya, boneka kardus tersebut
mengenakan jersey dan tak hanya jersey
Dinamo Brest, namun juga jersey dari klub-klub liga lain, seperti jersey
West Ham United, Feyenoord, hingga jersey lawas timnas Inggris. Adapun hasil penjualan tiket tersebut akan didonasikan untuk program melawan Covid-19.

“Penonton” di Liga Belarusia, sumber foto: www.the-sun.com

Namun, dikutip dari portal South China Morning
Post
, ternyata
tak hanya Belarusia, liga-liga di Tajikistan, Burundi, dan Nikaragua juga
tetap menggelar kompetisi seakan tidak peduli dengan adanya pandemi ini.
Pertandingan liga di Tajikistan sendiri digelar tanpa adanya penonton, seperti
pertandingan antara FC Istiklol yang melawan klub senegaranya FC Khujand dalam
pagelaran AFC Cup Maret kemarin.

Begitu juga dengan di Burundi. Negara yang terletak di Afrika Tengah ini tetap menjalankan kompetisi sepak bola seperti Piala Presiden dan sepak bola pantai layaknya hari-hari biasa. Berbeda dengan kompetisi di Tajikistan yang melarang adanya suporter yang datang ke stadion, kompetisi di Burundi tetap dibanjiri oleh suporter yang menonton langsung dari stadion. Meskipun begitu, liga di Burundi sendiri hanya tersisa tiga babak, yang berarti pergelaran kompetisi akan segera berakhir.

Terakhir adalah Nikaragua yang tetap menggelar pertandingan di akhir pekan seperti biasa. Menurut jadwal, hanya tersisa beberapa pertandingan di satu putaran dari total 18 putaran selama satu musim. Pertandingan terakhir yang akan dijalakan pada Minggu (19/04) besok dikabarkan akan disiarkan melalui live steaming Facebook. Pertandingan ini rencananya akan dilangsungkan secara tertutup, dengan suporter yang tidak diizinkan untuk menyaksikan pertandingan secara langsung dari stadion.

Kebijakan tetap berjalannya liga ini merupakan hasil dari salah satu perintah Presiden Belarusia, Alexander Lukashenko—‘Diktator Terakhir di Eropa’–yang meminta untuk tidak melakukan karantina dan menutup perbatasan. Dirinya mengaku tidak khawatir dan bahkan menyarankan warganya rutin bersauna dan minum vodka untuk memerangi penyakit ini. Lukashenko adalah bagian dari rangkaian pemimpin dunia yang secara keliru abai terhadap ancaman pandemi, menganggapnya tidak serius, dan membahayakan keselamatan warganya. Sampai Lukashenko sadar akan bahaya pandemi ini, kita masih bisa menonton klub Belarusia melakukan pertandingan—meskipun seharusnya tidak.

Penulis: Muhammad Rizky

Editor: Alfonsus Ganendra, Naufal Hanif

Related posts

*

*

Top
Atur Size